Sep 09, 2016 09:39 Asia/Jakarta

Hari ini, Jumat tanggal 9 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 7 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 19 Shahrivar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Imam Baqir as Gugur Syahid

 

1323 tahun yang lalu, tanggal 7 Dzulhijjah 114 Hq, Imam Muhammad Baqir as, keturunan Rasulullah generasi keempat gugur syahid pada usia 57 tahun.

 

Beliau dilahirkan pada tahun 57 Hijriah di kota Madinah. Ayah beliau adalah Imam Ali Zainal Abidinas, imam ke-4 dan putra Imam Husein as. Setelah Imam Zainal Abidin gugur syahid, Imam Baqir pun melanjutkan tampuk kepemimpinan umat Islam. Saat itu, kekhalifahan Islam berada di tangan Dinasti Umawiah yang kekuatannya semakin melemah. Pada masa hidup Imam Baqir, terjadi perpindahan kekuasaan dari Dinasti Umayah ke Dinasti Abbasiah.

 

Namun, kedua pemerintahan itu memiliki kesamaan, yaitu membenci kepemimpinan Ahul Bait di tengah kaum muslimin. Setelah Imam Ali Zainal Abidin dibunuh oleh khalifah Dinasti Umayah, Imam Baqir as pun dibunuh oleh khalifah Dinasti Abbasiah.

 

Selama masa hidup beliau yang singkat, Imam Muhamad Baqir as sangat aktif mengembangkan dan menyebarkan ajaran serta keilmuan Islam di tengah masyarakat. Beliau mendirikan pusat pendidikan besar agama Islam yang dipenuhi dengan murid-murid yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam. Ketinggian ilmu Imam Muhammad Baqiras membuat beliau dijuluki Baqirul Ulum, yang artinya pemecah inti ilmu.

 

Imam Muhammad Baqir dimakamkan di pekuburan Baqi, di kota Madinah, di samping makam ayahandanya, Imam Zainal Abidin dan Kakeknya Imam Hasan Mujtaba yang juga gugur syahid dibunuh oleh khalifah yang berkuasa saat itu. Kelak, putranya Imam Jakfar Shadiq, juga dikuburkan di sisi pusara Imam Baqir as.

 

Hirohito Istruksikan Peletakan Senjata Tentara Jepang di Cina

 

71 tahun yang lalu, tanggal 9 September  tahun 1945, Kaisar Jepang Hirohito mengeluarkan instruksi agar satu juta tentara Jepang yang ada di daratan Cina dan sedang melakukan aksi penjajahan meletakkan senjatanya.

 

Dengan dikeluarkannya instruksi ini, maka berakhirlah perang bersejarah antara Jepang dan Cina.

 

Kemenangan Cina ini tidak telepas dari kuatnya persatuan yang dibangun antara tentara nasional Cina dan tentara komunis. Hanya saja, setelah terusirnya Jepang, justru terjadi konflik internal di antara tentara nasional dan tentara komunis. Setelah berlangsung pertempuran sengit di antara keduanya, pasukan komunis berhasil menguasai seluruh daratan Cina.

 

Ayatullah Sayid Mahmoud Taleghani Wafat

 

37 tahun yang lalu, tanggal 19 Shahrivar 1358 Hs, Ayatullah Sayid Mahmoud Taleghani meninggal dunia pada dalam usia 69 tahun dan dikuburkan di Behesht Zahra, Tehran.

 

Ayatullah Sayid Mahmoud Taleghani lahir di kota Taliqan pada 1289 Hs. Setelah mempelajari pendidikan agama di kotanya, beliau pergi ke kota Qom untuk lebih memperdalam pendidikan agamanya. Di Qom beliau ikut kuliah-kuliah Ayatullah Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i, Sayid Mohammad Taqi Khonsari untuk tingkat mujtahid dan memperoleh ijazah berijtihad dari Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi.

 

Aktivitas perjuangan Ayatullah Taleghani telah dimulai semenjak beliau memasuki hauzah ilmiah Qom. Pada 1318 Hs, untuk pertama kalinya beliau mengeluarkan pernyataan kebenciannya terhadap rezim Shah Pahlevi terkait peristiwa Kashf Hejab (pelarangan memakai hijab). Menyusul pernyataan yang dikeluarkan, Ayatullah Taleghani ditangkap dan dipenjarakan. Pasca bulan Shahrivar 1320 Hs, beliau secara resmi menyatakan perjuangannya menentang Shah Pahlevi. Biliau akhirnya dipenjara lagi dengan tuduhan menyembunyikan Syahid Navvab Shafavi.

 

Pada tahun 1330 dan 1331 Hs beliau melakukan kunjungan ke negara Mesir dan Yordania atas usulan Ayatullah Boroujerdi untuk ikut dalam kerjasama antara Muslimin. Pada tahun 1342 Hs, Ayatullah Taleghani kembali terjun ke medan perjuangan mengikuti Imam Khomeini ra dan beberapa kali beliau kembali dipenjarakan oleh rezim Shah.

 

Selama dipenjara, beliau mendapat kesulitan yang luar biasa, tapi Ayatullah Taleghani tidak pernah menunjukkan keletihan. Beliau melewati lebih dari 11 tahun di penjara dan senantiasa menjadi teladan perjuangan. Setiap kali beliau dibebaskan, maka yang dilakukannya adalah melanjutkan jalan perjuangan yang telah ditempuh sebelumnya. Setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1357 Hs, beliau memainkan peran penting dalam pawai-pawai akbar tanggal 9 dan 10 bulan Muharram.

 

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Taleghani terpilih mengetuai Dewan Revolusi dan dalam pemilu anggota Dewan Ahli Kepemimpinan (Majelis Khubregan Rahbari) beliau terpilih mewakili warga Tehran. Pada awal bulan Mordad 1358 Hs, beliau diangkat oleh Imam Khomeini ra sebagai Imam Jumat Tehran. Shalat Jumat terakhir yang dipimpin oleh Ayatullah Taleghani terjadi pada peringatan Jumat Berdarah 17 Shahrivar di pekuburan Behehst-e Zahra.

 

Selain berjuang, beliau ternyata tidak melupakan aktivitas budaya dan keilmuan. Ayatullah Taleghani meninggalkan sejumlah karya ilmiah seperti Tafsir Partovi az Quran dalam 6 jilid, Partovi az Nahjul Balaghah, Azadi va Istibdad, Darsi az Quran dan Dars-e Vahdat.