Lintasan Sejarah 12 September 2016
Hari ini, Senin tanggal 12 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 10 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 22 Shahrivar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Kurban
Tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari raya Idul Adha yang diperingati oleh umat Islam seluruh dunia.
Pada hari ini, jemaah haji yang melaksanakan ibadah haji bergerak menuju Mina setelah melakukan wukuf di padang Arafah dan mabit di Muzdalifah. Di Mina, mereka melakasanakan lempar Jumrah Aqabah lalu menyembelih binatang kurban. Semua itu dilakukan mengikuti jejak Nabi Ibrahim as yang menyembelih binatang kurban setelah beliau berhasil melewati ujian terberat dengan perintah Allah untuk menyembelih anaknya yang tercinta, Ismail as.
Nabi Ibrahim as, melaksanakan perintah ilahi itu dengan tulus, namun Allah berkehendak lain. Perintah ilahi berikutnya datang dan Ibrahim diperintah untuk melepaskan Ismail dan menyembelih seeokor binatang kurban yang telah dipersiapkan oleh Allah sebagai gantinya.
Peristiwa yang terjadi di masa lalu itu adalah kisah penuh pelajaran. Kisah kepasrahan mutlak dan ketundukan penuh kepada kehendak Allah. Karena itu kisah tersebut diabadikan oleh Allah dalam syariat yang diturunkan-Nya berupa berbagai manasik haji. Dalam syariat Islam tanggal 10 Dzulhijjah diperingati sebagai hari raya Idul Adha yang berarti hari raya kurban.
Ibnu Anbari Wafat
1109 tahun yang lalu, tanggal 10 Zulhijjah 328 Hq, Abu Bakr Al-Anbari yang dikenal dengan nama Ibnu Anbari, mufassir al-Quran dan pakar bahasa meninggal dunia.
Ibnu Anbari dilahirkan pada tahun 271 hijriah di kota Baghdad dan berguru kepada para ulama besar di zamannya. Ia adalah ulama yang dikenal dengan budinya yang luhur dan tidak pernah lalai dalam menimba dan mengajarkan ilmu sampai akhir hayatnya. Satu hal yang menarik perhatian para sejarawan terkait ulama ini adalah daya hafalnya yang kuat.
Mereka yang pernah berguru kepadanya menceritakan bahwa Ibnu Anbari dalam menyampaikan materi pelajaran hanya bersandarkan pada hafalannya dan jarang melihat ke buku catatan atau kitab. Ibnu Anbari banyak menghasilkan karya penulisan di antaranya Adabul Katib, al-Adhdad, dan Dhamairul Quran.
Pertempuran di Austria
333 tahun yang lalu, tanggal 12 September 1683, terjadi pertempuran antara pasukan Dinasti Ottoman dengan tentara Austria dan Polandia.
Wina, ibu kota Austria, selama dua bulan dikepung oleh tentara Ottoman dan kemenangan sudah hampir jatuh ke tangan mereka. Namun, kaisar Austria kemudian mendapat bantuan dari Polandia sehingga kepungan tentara Ottoman bisa dilawan dan mereka terpaksa mundur dari medan pertempuran.
Irene Curie, Ilmuwan Penemu Radioaktif Lahir
119 tahun yang lalu, tanggal 12 September 1897, Irene Curie, ahli kimia dan fisika Perancis, terlahir ke dunia di kota Paris.
Ibunya adalah Marie Curie, dan ayahnya adalah Pierre Curie, dua fisikawan terkenal yang berhasil menemukan radioaktif.
Irene Curie kemudian meneruskan penelitian di bidang radioaktif tersebut bersama dengan salah satu asisten ibunya. Dia berhasil menemukan cara pembuatan radioaktif buatan. Irene Curie meninggal dunia tahun 1958.
Ayatullah Mirza Ibrahim Khui Gugur Syahid
108 tahun yang lalu, tanggal 22 Shahrivar 1287 Hs, Ayatullah Haji Mirza Ibrahim Khui gugur syahid dalam peristiwa Revolusi Konstitusi pada usia 76 tahun di kota kelahirannya dan dikuburkan di Najaf, Irak.
Ayatullah Haji Mirza Ibrahim bin Hossein Khui yang lebih dikenal dengan Allamah Khui lahir di kota Khui sekitar tahun 1210 Hs. Setelah mempelajari pendidikan agama tingkat dasar dan menengah, beliau kemudian pergi ke kota Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikannya.
Di Najaf, beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Syeikh Murtadha Anshari dan Sayid Hossein Kouh Kamareh-i sehingga mencapai derajat keilmuan yang tinggi. Allamah Khui juga belajar kepada guru-guru besar lainnya seperti Syeikh Muhammad Husein Kazhimi dan Syeikh Mahdi Najafi Kasyif al-Ghita.
Allamah Khui memiliki kepribadian mulia seperti dermawan. Beliau menginfakkan kekayaan yang dimilikinya di jalan Allah. Kekayaan yang berasal dari warisan ayahnya.
Ulama besar ini juga meninggalkan karya ilmiah seperti catatan pinggir atas Rasail karya Syeikh Anshari, Syarah Nahjul Balaghah "ad-Durrah an-Najafiah" serta Syarah Arbain Haditsa.
Allamah Khui di masa hidupnya menjadi mujtahid besar di kotanya dan mendapat penghormatan dari rakyat. Mereka menanyakan pelbagai masalah keagamaannya kepada beliau.