Lintasan Sejarah 17 September 2016
Hari ini, Sabtu tanggal 17 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 15 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Shahrivar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Kelahiran Imam Ali Al-Hadi as
1225 tahun yang lalu, tanggal 15 Dzulhijjah 212 Hq, Imam Ali an-Naqi as, yang memiliki nama panggilan "Imam Hadi", terlahir ke dunia di kota Madinah.
Beliau adalah keturunan Rasulullah generasi kesepuluh dan putra dari Imam Jawadas, imam kesembilan Muslimin. Setelah Imam Jawad gugur syahid akibat dibunuh oleh penguasa, Imam Hadi menggantikan posisi beliau sebagi pemimpin umat Islam. Saat itu, kekhalifahan Islam tengah berada di tangan Khalifah Mutawakil dari Dinasti Abbasiah.
Mutawakil yang khawatir akan meluasnya pengaruh Imam Hadi di tengah masyarakat, kemudian mengasingkan beliau ke kota Samara, Irak. Meskipun mengalami tekanan yang sangat besar dari penguasa, Imam Hadi terus berusaha menyampaikan risalah Rasululah dan membimbing umat Islam. Beliau mendidik banyak murid yang kelak di antaranya menjadi ulama terkemuka, salah satunya adalah Sayid Abdul Adzhim Hasani.
Salah satu di antara hadis Imam Hadi berbunyi, "Yang lebih baik dari segala kebaikan adalah orang yang melakukan kebaikan itu; yang lebih indah dari perkataan yang bernilai, adalah si penyampai perkataan itu; dan yang lebih tinggi dari ilmu adalah si pembawa ilmu tersebut."
Pembunuhan Massal Rakyat Palestina
46 tahun yang lalu, tanggal 17 September 1970, dimulai pembunuhan massal rakyat Palestina oleh tentara Yordania.
Menyusul kehadiran angkatan bersenjata Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Yordania dan terjadinya perlawanan gerilyawan Palestina terhadap tentara Zionis, Raja Husain bin Thalal merasa kepentingannya terancam. Oleh karena itu, sejak awal September tahun 1970, terjadi berbagai bentrokan sporadis antara tentara Yordania dan kelompok gerilyawan Palestina, khususnya di kota Amman.
Pada tanggal 16 September, pemerintahan militer terbentuk di Yordania, dan sehari kemudian atas perintah Raja Husain, tentara Yordania menyerbu berbagai posisi gerilyawan dan warga sipil Palestina yang mengungsi di Yordania. Ribuan rakyat Palestina terbunuh atau terluka dalam kejadian ini. Pada tanggal 28 September 1970, ditandatangani perjanjian gencatan senjata antara Yaser Arafat dan Raja Husain,.
Namun, pada akhir tahun itu pula, kembali terjadi bentrokan antara tentara Yordania dan gerilyawan Palestina. Akhirnya, Raja Husain melarang total para gerilyawan Palestina untuk menyerang tentara Zionis di dalam kawasan Yordania dan kemudian, ratusan ribu pengungsi Palestina diusir keluar dari negeri itu.
Pesan Imam Khomeini ra Menyusul Gempa Bumi Tabas
38 tahun yang lalu, tanggal 27 Shahrivar 1357 Hs, Imam Khomeini ra mengirim pesan menyusul gempa bumi Tabas.
Pasca terjadinya gempa bumi besar di kota Tabas pada 25 Shahrivar 1357 Hs, rezim Pahlevi berusaha meraih simpati rakyat Iran dengan mengumumkan hari berkabung nasional. Melihat upaya rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra dari Najaf, Irak mengeluarkan pesan belasungkawa pada 27 Shahrivar 1357 Hs dan menyampaikan solidaritasnya dengan keluarga korban gempa, sekaligus mengungkap niat buruk rezim Shah.
Sekaitan dengan pernyataan berkabung nasional yang disampaikan oleh rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra mengatakan, "Mereka yang membantai ribuan orang terbaik dari putra-putri kita (pada 17 Shahrivar 1357) secara bengis, kini berusaha untuk menyimpangkan opini umum dengan mengucapkan belasungkawa. Mereka menitikkan air mata buaya."
Dalam pesannya, Imam Khomeini ra meminta seluruh umat Islam untuk langsung memberikan bantuan kepada korban gempa.
Hossein Shahriar Meninggal Dunia
28 tahun yang lalu, tanggal 27 Shahrivar 1367 Hs, Mohammad Hossein Shahriar, seorang penyair terkenal Iran meninggal dunia.
Mohammad Hossein Shahriar dilahirkan di kota Tabriz Iran pada tahun 1285 Hs. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di madrasah Darul Funun Teheran, dia memasuki sekolah kedokteran. Namun, di tengah jalan, ia meninggalkan sekolah ini dan kembali ke kota kelahirannya. Pada usianya ke 33 tahun, Shahriar sudah merilis buku syair pertamanya. Shahriar adalah seorang penyair yang dikenal merakyat dan memiliki perasaan yang lembut.
Dalam syair-syair Shahriar juga tercermin perasaannya dan reaksinya mengenai rezim yang berkuasa di Iran pada saat itu. Pada masa revolusi Islam Iran, Shahriar mengiringi perjuangan rakyat Iran dengan syair-syairnya yang memberi semangat kepada rakyat. Dia juga menulis syair-syair relijius yang menunjukkan kecintaannya kepada Rasulullah dan Ahlul Baitnya.
Di antara karya-karya Shahriar yang paling terkenal adalah "Divan-e Ash'ar" dan "Haydar Baba" yang ditulisnya dalam bahasa Turki.