Sep 18, 2016 05:43 Asia/Jakarta

Hari ini, Ahad tanggal 18 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 16 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 28 Shahrivar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Wafatnya Abu Abdillah bin Jayani, Matematikawan Andalusia

 

966 tahun yang lalu, tanggal 16 Dzulhijjah 471 Hq, Abu Abdillah bin Jayani, seorang astronom dan matematikawan muslim Andalusia, meninggal dunia.

 

Abu Abdillah bin Jayani dilahirkan pada tahun 379 Hq di Cordoba, dan di kota itu pula ia menyelesaikan pendidikan dasarnya. Setelah itu, Abu Abdillah Jayani meneruskan pendidikan ke Kairo, Mesir.

 

Abu Abdillah Jayani adalah pendukung  berat buku The Elements karya Euclides, seorang matematikawan Yunani kuno yang lahir tahun 325 sebelum Masehi dan mengajar matematika di Aleksandria, Mesir.  Salah satu karya penulisan yang ditinggalkan Abu Abdillah Jayani adalah sebuah buku yang berisi penjelasan atas makalah kelima dalam buku "The Elements" karya Euclides.

 

Chili Merdeka

 

198 tahun yang lalu, tanggal 18 September 1818, negara Chili berhasil meraih kemerdekaannya dari Spanyol dan hari ini dijadikan sebagai Hari Nasional negara tersebut.

 

Chili pada tahun 1536 dijajah oleh Spanyol dan dijadikan bagian dari wilayah Peru yang juga dijajah oleh Spanyol. Pada tahun 1788, Raja Spanyol Charlos III memisahkan Chili dari Peru. Perjuangan kebebasan pertama rakyat Chili dimulai pada tahun 1814. Namun, pejuang Chili kalah dalam melawan tentara pemerintah Spanyol.

 

Pada tahun 1817, Jose San Martin , komandan Argentina bersama beberapa ribu pasukannya menyerbu beberapa sejumlah wilayah jajahan Spanyol, di antaranya Peru dan Chili. Dengan dukungan rakyat Chili, Jose San Martin berhasil mengusir tentara Spanyol dan pada tahun 1818, Chili berhasil menjadi negara merdeka

 

Chili memiliki luas wilayah 756.626 kilometer persegi dan terletak di bagian barat Amerika selatan. Negara Chili berbatasan dengan Argentina, Bolivia, dan Peru.

 

Sekjen PBB Dag Hammarskjold Tewas

 

55 tahun yang lalu, tanggal 18 September 1961, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dag Hammarskjold, tewas dalam kecelakaan pesawat di kota Ndola, Rhodesia Utara.

 

Hammarskjold saat itu tengah berupaya mengatasi konflik bersenjata.  Kunjungannya ke Ndola saat itu dalam rangka menghadiri suatu perundingan damai, setelah terjadi pertempuran antara pasukan perdamaian PBB dan pasukan Katanga, wilayah di Kongo yang ingin memerdekakan diri.

 

Dag Hammarskjöld lahir 29 Juli 1905 di Swedia. Ayahnya pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Swedia (1914-1917). Dia belajar di Universitas Uppsala dan lulus dengan gelar master di bidang ekonomi politik dan sarjana di bidang hukum. Kemudian, dia pindah ke Stockholm.

 

Usai menyelesaikan studi doktoralnya, Hammarskjöld sukses meniti karier di Swedia. Dia pernah menjadi Gubernur Riksbank (bank sentral Swedia) dan Sekretaris Negara untuk urusan luar negeri.

 

Hammarskjöld diangkat sebagai Sekjen PBB yang kedua sejak April 1953. Selama menjabat, dia sangat berperan aktif untuk menyelesaikan konflik-konflik yang sedang berlangsung. Komitmennya ini mendapat penghargaan yang baik dari banyak negara.

 

Hammarskjöld dinobatkan sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun 1961 setelah kematiannya yang tragis.

 

Ayatullah Mohammad Ibrahim Arafi Wafat

 

24 tahun yang lalu, tanggal 28 Shahrivar 1371 Hs, Ayatullah Mohammad Ibrahim Arafi meninggal dunia dalam usia 82 tahun.

 

Ayatullah Sheikh Mohammad Ibrahim Arafi lahir di dekat kota Mibad, Yazd pada 1289 Hs dari keluarga ulama. Setelah menyelesaikan pendidikan awal dan menengah hauzah ilmiah di kota kelahirannya dan di kota Mashad, beliau kemudian pergi ke kota Qom untuk belajar kepada Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi.

 

Setelah mencapai tingkat keilmuan yang tinggi sebagai hasil belajar kepada guru-guru besar seperti Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi, Sayid Hossein Boroujerdi, Sayid Abolhassan Isfahani, Sayid Abdulhadi Shirazi, Sayid Muhsin al-Hakim dan Imam Khomeini ra. Dari mereka beliau mendapat ijazah ijtihad dan riwayat hadis.

 

Setelah meninggalnya Ayatullah al-Hakim, secara resmi beliau memperkenalkan Imam Khomeini ra sebagai satu-satunya marji taklid. Bersamaan dengan dimulainya Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ibrahim Arafi bersama Ayatullah Sheikh Mohammad Sadouqi dan Sayid Rohoullah Khatami menjadi pemimpin perjuangan rakyat Yazd. Ulama yang sekaligus mujahid ini mengikuti aksi-aksi demo rakyat dan menjadi tempat berlindung para pejuang.

 

Beliau juga ikut aktif berjuang melawan para aristokrat peninggalan lama dan membangung hauzah ilmiah Mibad untuk membendung pengaruh Bahai. Ayatullah Ibrahim Arafi ikut ambil bagian dalam aksi-aksi sosial seperti pembangunan masjid, tempat penampungan air, penggalian irigasi, mengajar dan menuntun agama masyarakat.