Sep 21, 2016 08:15 Asia/Jakarta

Hari ini, Rabu tanggal 21 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 19 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 31 Shahrivar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Kelahiran Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai

 

179 tahun yang lalu, tanggal 19 Dzulhijjah 1258 Hq Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai lahir di Karbala (sebagian menyebut Tabriz sebagai tempat kelahirannya) dan dibawa ke Iran pada usia 2 tahun.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ayatollah Thabathabai belajar filsafat dan akhlak pada Mirza Abu al-Hassan Jelveh dan Sheikh Hadi Najm Abadi. Kemudian beliau pergi ke Najaf, Irak belajar kepada Mirza Shirazi.

 

Pasca peristiwa pengharaman tembakau oleh Mirza Bozourgh Shirazi, Allamah Thabathabai kembali ke Tehran dan mulai melakukan perjuangan politiknya lewat Revolusi Konstitusi. Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai merupakan ulama pejuang dan termasuk pemimpin utama Revolusi konstitusi.

 

Ayatullah Thabathabai bekerjasama dengan Ayatullah Sayid Abdullah Behbahani yang juga merupakan salah satu pemimpin revolusi ini berjuang melawan penindasan Dinasti Qajar. Ketika Ain al-Daulah menjadi Perdana Menteri Mozaffaredin Shah, tekanan terhadap para pejuang semakin keras. Alaeddin, Gubernur Tehran menangkap sejumlah pedagang dan mengikat mereka di kayu. Menyaksikan hal itu, kedua rohaniwan pejuang ini bersama-sama rakyat berlindung di kompleks makam suci Hazrat Abd al-Azhim di kota Rey dan melakukan aksi mogok di sana.

 

Aksi mogok ini menjadi cikal bakal Revolusi Konstitusi di Iran. Namun pasca ditutupnya parlemen oleh Muhammad Ali Shah Qajar, Ayatullah Sayid Abdullah Behbahani diasingkan dan Ayatullah Thabathabai ditahan di rumahnya.

 

Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai selain seorang pejuang di jalan Allah, juga seorang ulama. Oleh karenanya, beliau tidak pernah lupa mendidik murid. Akhirnya, setelah menanggung segala penderitaan dalam perjuangannya, ulama pejuang ini meninggal dunia pada usia 81 tahun dan dimakamkan di kompleks makam suci Hazrat Abd al-Azhim di kota Rey.

 

Kwane Nkrumah Lahir

 

107 tahun yang lalu, tanggal  21 September 1909, Doktor Kwane Nkrumah, seorang pejuang kemerdekaan Ghana, terlahir ke dunia.

 

Nkrumah bergabung dalam gerakan kebangkitan rakyat Ghana melawan Inggris. Setelah diadakan pemilu pertama di Ghana tahun 1950, Nkrumah yang memimpin Partai Konvensi Rakyat, terpilih sebagai perdana menteri. Akhirnya pada tahun 1957, Ghana secara resmi merdeka dan menjadi anggota PBB. Sejak saat itu, berbagai kudeta menimpa pemerintahan Nkrumah.

 

Ketika Nkrumah sedang berkunjung ke Cina, Jenderal Joseph Ankrah melakukan kudeta dan berhasil menggulingkan pemerintahan Nkrumah. Nkrumah meninggal tahun 1972 di Romania. Nkrumah berjasa dalam pendirian organisasi Gerakan Non blok dan organisasi persatuan Afrika.

 

Malta Merdeka

 

52 tahun yang lalu, tanggal 21 September 1964,  Malta, sebuah negara di lautan tengah Mediterania, meraih kemerdekaannya.

 

Pada tahun 1798, Malta dijajah oleh Perancis dan tak lama kemudian, Inggris menguasai negara ini. Pada tahun 1921, Inggris memberikan status otonomi kepada Malta namun rakyat negara ini menginginkan kemerdekaan penuh.

 

Sejak tahun 1958, gerakan kemerdekaan di negara ini semakin menguat. Akhirnya pada tahun 1964, Malta meraih kemerdekaan penuh dan dipimpin oleh Gubernur Jenderal.

 

Presiden Ayatullah Ali Khamenei Berpidato di PBB

 

29 tahun yang lalu, tanggal 31 Shahrivar 1366 Hs, Presiden Ayatullah Ali Khamenei menyampaikan pidato di markas PBB.

 

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Presiden Republik Islam Iran waktu itu ikut dalam Sidang Umum PBB Ke-42. Dalam sidang ke-42 itu, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyampaikan pidato bersejarahnya pada 31 Shahrivar 1366 Hs. Dalam pidatonya beliau menyampaikan pandangan Republik Islam Iran terkait pelbagai masalah dan mengritik keras kinerja pemerintah Amerika yang berkhianat terhadap bangsa Iran selama setengah abad lalu, khususnya pasca kemenangan Revolusi Islam Iran.

 

Dalam pidatonya beliau juga menjelaskan sebab dan tujuan rezim Baath, Irak untuk memulai perang dan melakukan kejahatan yang tak terbilang. Rezim Baath disebut melakukan perilaku anti kemanusiaan dan membantai rakyat tidak berdosa Iran.

 

Beliau menyampaikan pidatonya ketika beberapa waktu sebelumnya Dewan Keamanan PBB meratifikasi resolusi bernomor 598. Sementara rezim Irak sendiri dalam keadaan lemah dan kebingungan, sehingga mereka terpaksa menerima resolusi tersebut.

 

Pidato bersejarah Ayatullah Sayid Ali Khamenei di PBB itu sangat berperan penting dalam menggagalkan propaganda busuk musuh terhadap Republik Islam Iran, sekaligus mencerahkan opini dunia akan masalah yang sebenarnya terjadi.