Sep 22, 2016 08:37 Asia/Jakarta

Hari ini, Kamis tanggal 22 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 20 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 1 Mehr 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Pemimpin Kerajaan Zulu Dibunuh

 

199 tahun yang lalu, tanggal 22 September 1828, Shaka, pemimpin kabilah dan pendiri kerajaan Zulu di Afrika Selatan, tewas dibunuh oleh saudara tirinya.

 

Shaka memegang tampuk kepemimpinan kabilah Zulu sejak tahun 1815 dan sejak itu, wilayah kekuasaan kerajaan ini kian meluas.

 

Sejak tahun 1830 hingga 1839, rakyat Zulu berperang melawan orang-orang "Boer" atau para imigran Belanda. Pada tahun 1880, Zulu dikalahkan oleh imperialis Inggris dan wilayah kekuasaan kerajaan Zulu dipecah-pecah. Kini, kabilah Zulu merupakan golongan minoritas yang kuat di Afrika Selatan.

 

Perang Rakyat Cina Melawan Inggris

 

156 tahun yang lalu, tanggal 22 September 1860, dimulailah Perang Peking yang terjadi antara rakyat Cina melawan tentara Inggris dan Perancis.

 

Dalam perang ini, tentara Cina yang kekurangan senjata dan fasilitas militer, terpaksa menelan kekalahan. Cina kemudian dipaksa menandatangani surat perjanjian yang berisi penyerahan berbagai kekuasaan kepada Inggris dan Perancis. Selain itu, pelabuhan-pelabuhan Cina menjadi terbuka untuk orang-orang asing.

 

Kelahiran Imam Khomeini ra Menurut Penanggalan Iran

 

114 tahun yang lalu, tanggal 1 Mehr 1281 Hs, Imam Khomeini ra lahir ke dunia menurut penanggalan Iran.

 

Ayatullah al-Udzma Imam Khomeini ra, Pendiri Republik Islam Iran lahir di kota Khomein pada 1 Mehr 1281 Hs yang bertepatan dengan 20 Jumadil Tsani 1320 Hq bersamaan dengan kelahiran Sayidah Fathimah az-Zahra as. Ayah beliau syahid sejak masih kanak-kanak dan akhirnya beliau diasuh oleh ibu dan bibinya.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah hauzah, beliau kemudian belajar fiqih untuk tingkat mujtahid kepada Ayatullah Sheikh Abdulkareem Hairi Yazdi. Beliau mendapat perhatian khusus oleh gurunya.

 

Bersamaan dengan pendirian hauzah ilmiah Qom, Imam Khomeini ra berhijrah ke kota ini dan belajar kepada Ayatullah Sheikh Ali Akbar Yazdi dan Ayatullah Mohammad Ali Shah Abadi dalam ilmu astronomi, irfan dan filsafat. Setelah itu beliau mulai membentuk kelasnya sendiri dan banyak mendidik murid-murid hebat yang masih hidup di masa kini. Mereka juga menjadi pendukung beliau di masa kebangkitan Islam di Iran.

 

Imam Khomeini ra termasuk pribadi yang berperan mengajak Ayatullah al-Udzma Boroujerdi untuk pindah ke Qom dan mendukung sikap politik beliau. Pasca meninggalnya Ayatullah Boroujerdi dan semakin meluasnya aksi-aksi anti Islam dari rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra bangkit menentang rezim ini dan memulai gerakan kebangkitan rakyat.

 

Banyak terjadi peristiwa besar di masa itu, khususnya protes Imam Khomeini ra akan undang-undang Kapitulasi yang berujung pada pengasingan beliau ke Turki, Irak dan akhirnya di Paris. Setelah diasingkan dari tanah air selama 15 tahun, pada bulan Bahman 1357 Hs, beliau kembali ke Iran dan mendirikan Republik Islam Iran. Selama 10 tahun membimbing Republik Islam Iran beliau akhirnya meninggal dunia pada 14 Khordad 1368 dalam usia 88 tahun dan dikebumikan di Tehran.

 

Ayatullah Sayid Abdolkareem Kashmiri Wafat

 

18 tahun yang lalu, tanggal 20 Dzulhijjah 1419 Hq, Ayatullah Sayid Abdolkareem Kashmiri meninggal dunia dalam usia 72 tahun dan dimakamkan di komplek makam suci Sayidah Fathimah Maksumah as di kota Qom.

 

Ayatullah Sayid Abdolkareem Kashmiri lahir di Najaf, Irak pada 1345 Hq. Setelah mempelajari pendidikan dasar keagamaan di Najaf, beliau ikut kuliah tingkat mujtahid dari guru-guru besar hauzah seperti Ayatullah Khui, Sayid Abdul A’la Sabzawari, Sayid Abdulhadi Shirazi dan Syeikh Kazhim Shirazi. Kejeniusan Ayatullah Sayid Abdolkareem Kashmiri dengan cepat membuat beliau mendapat ijazah berijtihad dari Ayatullah Khui.

 

Setelah itu Ayatullah Kashmiri mulai memberikan kuliah filsafat tingkat menengah di hauzah. Beliau menerapkan metode baru dalam memberikan kuliah, sehingga dalam sehari beliau mampu mengajar 11 disiplin ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, filsafat, sastra Arab dan lain-lain.

 

Selain mengajar, beliau juga aktif meneliti, menulis dan tidak lupa menempat diri tanpa henti dalam membersihkan jiwa, sehingga beliau mampu meraih kesempurnaan batin. Oleh karenanya, banyak yang meriwayatkan keramat beliau.

 

Ketika rezim Baath Irak mulai menerapkan kebijakan keras terhadap ulama, Ayatullah Kashmiri bersama keluarganya secara sembunyi-sembunyi meninggalkan Irak menuju Iran. Tapi semua karya tulis beliau jatuh ke tangan pasukan keamanan Irak, tepat di perbatasan Irak-Iran.