Sep 26, 2016 17:08 Asia/Jakarta

Hari ini, Senin tanggal 26 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 5 Mehr 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Rasulullah Bermubahalah Dengan Bani Najran

 

1427 tahun yang lalu, tanggal 24 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, Rasulullah Saw beserta putri beliau, Fathimah az-Zahra, menantu beliau, Ali bin Abi Thalib, dan kedua cucu beliau, Hasan dan Husein as, berangkat keluar dari kota Madinah untuk menemui para pembesar kabilah Kristen, Bani Najran melakukan Mubahalah.

 

Sebelumnya, para pembesar Bani Najran itu datang menemui Rasulullah untuk mempertanyakan ajaran agama Islam. Namun, apapun jawaban yang diberikan Rasulullah, pembesar kabilah Kristen itu tetap tidak mau menerimanya.

 

Lalu, Allah menurunkan firman-Nya, surat Ali-Imran ayat 60-61, yang artinya, "Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta."

 

Oleh karena itulah, pada hari yang telah dijanjikan, Rasullah dengan membawa Ahlu Bait atau keluarga suci beliau, datang ke sebuah tempat di luar kota Madinah. Para pembesar Bani Najran, begitu melihat kehadiran Rasullah yang hanya ditemani keempat tokoh mulia itu, yaitu Fathimah, Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husein as, merasa takut dan pemimpin mereka berkata, "Aku melihat wajah-wajah yang jika mereka bedoa agar gunung terbesar diruntuhkan, maka doa itu akan segera dikabulkan Tuhan. Kita tidak seharusnya bermubahalah dengan orang-orang yang agung ini, karena mungkin saja kita semua akan mati." Oleh karena itu, para pembesar Bani Najran akhirnya mengajak Rasulullah berdamai.

 

Kudeta Militer di Yaman Utara

 

54 tahun yang lalu, tanggal 26 September 1962, sistem pemerintahan kerajaan di Yaman Utara yang dipimpin oleh sultan-sultan bergelar imam, dibubarkan.

 

Pada hari itu, Kolonel Abdullah Salal melakukan kudeta militer dan mendirikan pemerintahan baru berbentuk republik. Imam Muhamad Badr yang merupakan raja terakhir Yaman Utara, kemudian melakukan perlawanan untuk merebut kembali kekuasaannya. Saat itu, Badr mendapatkan dukungan Raja Arab Saudi. Sementara itu, Kolonel Salal mendapatkan bantuan militer dari pemerintahan Mesir yang dipimpin oleh Gamal Abdul Naser.

 

Maka, terjadilah pertempuran bersenjata selama empat tahun antara kedua belah pihak. Setelah itu, kedua belah pihak melakukan gencatan senjata. Sedangkan Raja Feishal dan Abdul Naser juga sepakat untuk menarik pasukan masing-masing dari Yaman setelah kedua negara itu terlibat dalam perang enam hari melawan Israel.

 

Ayatullah Sayid Abdullah Shirazi Wafat

 

32 tahun yang lalu, tanggal 5 Mehr 1363 Hs, Ayatullah Sayid Abdullah Shirazi meninggal dunia pada dalam usia 93 tahun dan dikebumikan di kompleks makam suci Imam Ridha as di Mashad.

 

Ayatullah Sayid Abdullah Shirazi lahir pada 1270 Hs, dari keluarga ulama di kota Shiraz, Iran. Pada usia 21 tahun, beliau bersama ayahnya diasingkan dari kota Shiraz selama 6 bulan akibat melawan penjajahan Inggris. Setelah kembali ke Shiraz, Ayatullah Shirazi melanjutkan proses belajar dan mengajarnya. Tapi untuk melanjutkan pendidikan agamanya, Ayatullah Shirazi akhirnya pergi ke Najaf pada tahun 1294 dan belajar kepada guru-guru besar seperti Ayatullah Dhiya ad-Din al-Iraqi, Sayid Abulhassan Isfahani dan Mirza Naini.

 

Setelah tinggal selama 13 tahun di Najaf dan berhasil menjadi mujtahid, akhirnya alim rabbani ini kembali ke tempat kelahirannya, Shiraz dan aktif menghidupkan kembali hauzah ilmiah Shiraz.

 

Ayatullah Shirazi juga melanjutkan aktivitas politiknya setelah kembali dari Najaf dan menyatakan secara terang-terangan penentangannya terhadap rezim Pahlevi. Dalam perjuangannya ini beliau harus menghadapi banyak kesulitan. Rezim Pahlevi akhirnya memenjarakan beliau.

 

Pasca peristiwa Kashf Hejab atau larangan memakai jilbab dan pembantaian berdarah di Masjid Goharshad oleh Shah Reza Khan, Ayatullah Shirazi secara sembunyi-sembunyi pergi ke Najaf dan tinggal di sana selama 40 tahun.

 

Di sepuluh tahun terakhir dari kehidupan beliau, Ayatullah Shirazi kembali ke Mashad dan keberadaan beliau berhasil menggairahkan hauzah ilmiah Shiraz. Ayatullah Shirazi juga ikut mendukung kebangkitan rakyat yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra dan sangat berperan dalam mencerahkan warga Shiraz.

 

Ayatullah Shirazi banyak meninggalkan warisan mulai dari bangunan yang berwujud sekolah, perpustakaan, masjid dan lain-lain di sejumlah kota, beliau juga menulis banyak buku seperti Umdah al-Ushul, al-Imamah wa al-Syiah dan Dzakhirah al-Shalihin.