Lintasan Sejarah 27 September 2016
Hari ini, Selasa tanggal 27 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 25 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 6 Mehr 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Surat Al-Insan Diturunkan Tentang Imam Ali dan Sayidah Fathimah
1427 tahun yang lalu, tanggal 25 Dzulhijjah 10 Hq, surat al-Insan diturunkan tentang Imam Ali dan Sayidah Fathimah as.
Imam Ali dan Sayidah Fathimah as bernazar untuk melakukan puasa selama tiga hari berturut-turut agar permohonan mereka dikabulkan oleh Allah Swt. Dalam pelaksanaan nazar itu, selama tiga hari berturut-turut datang seorang miskin, yatim dan tawanan ke rumah mereka meminta sesuap nasi.
Imam Ali dan Sayidah Fathimah as akhirnya memberikan makanannya kepada mereka dan berbuka puasa hanya dengan air. Ketika memberi mereka makan, Imam Ali dan Sayidah Fathimah as tidak berharap apapun dari manusia dan hanya menyerahkan balasan perbuatan mereka dari Allah semata.
Pada saat itu, tanggal 25 Dzulhijjah Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad Saw surat ad-Dahr atau yang juga dikenal dengan surat al-Insan dan sebab turunnya ayat ini mengisahkan perbuatan ikhlas yang dilakukan oleh Imam Ali dan Sayidah Fathimah as kepada tiga orang peminta itu.
Imam Ali as Diangkat Sebagai Khalifah
1402 tahun yang lalu, tanggal 25 Dzulhijjah tahun 35 Hijriah, Imam Ali as memulai masa jabatannya sebagai khalifah kaum Muslimin.
Pengangkatan Imam Ali as sebagai khalifah dimulai ketika di kalangan kaum muslimin terjadi kerusuhan akibat tewasnya khalifah ketiga Utsman bin Affan yang terbunuh pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 Hijriah. Kaum muslimin kemudian mendesak Imam Ali agar bersedia menjadi khalifah atau pemimpin mereka.
Imam Ali as selama empat tahun sembilan bulan masa kekhalifahannya, selalu menegakkan keadilan dengan sangat tegas, termasuk terhadap keluarga beliau sendiri. Hal ini membuat sebagian tokoh-tokoh masyarakat yang haus harta dan kekuasaan merasa tidak puas dengan kepemimpinan Imam Ali as. Akibatnya, dalam masa pendek kekhalifahan beliau, terjadi tiga kali peperangan di antara sesama kaum muslimin, yaitu Perang Jamal, Perang Shiffin, dan Perang Nahrawan.
Akhirnya, pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah, Imam Ali as gugur syahid di masjid Kufah akibat dibunuh oleh seorang penentang beliau.
Jerman Menang Perang di Soviet
75 tahun yang lalu, tanggal 27 September 1941, tentara Nazi Jerman dalam serangannya ke kawasan Soviet yang dimulai pada bulan Juni 1941, mencapai sebuah kemenangan besar.
Tentara Soviet yang berada di kawasan timur dan tengah mengalami kelelahan serta kehabisan amunisi, diserang dari berbagai arah oleh tentara Nazi.
Dalam perang ini, lebih dari 600 ribu orang tentara Soviet ditawan dan sekitar 1200 tank dan 5400 meriam direbut oleh tentara Jerman sebagai rampasan perang. Tak lama kemudian, dengan datangnya musim dingin, tentara Jerman terjebak udara yang sangat dingin dan Soviet memulai serangan balasannya.
Resolusi PBB Pertama Soal Perang Irak-Iran
36 tahun yang lalu, tanggal 6 Mehr 1359 Hs, PBB mengeluarkan resolusi pertama soal perang Irak-Iran.
Pada tanggal 3 Mehr 1359 Hs, tiga hari pasca dimulainya perang yang dipaksakanan Irak terhadap Iran, Sekjen PBB menginformasikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa sekalipun telah ada upaya untuk menghentikan agresi Irak, tapi perang antara Irak dan Iran di darat, laut dan udara masih terus berlanjut. Perang ini telah menimbulkan kerugian tidak hanya materi tapi juga jiwa. Oleh karenanya, Sekjen PBB mengusulkan agar DK-PBB segera menindaklanjuti masalah ini.
Akhirnya DK-PBB mengadakan sidang darurat dimulai dari tanggal 4 Mehr hingga 6 Mehr dan usulan dikeluarkannya resolusi diterima secara aklamsi oleh anggota DK-PBB. Resolusi 479 DK-PBB menjadi resolusi pertama akhirnya dikeluarkan pada 6 Mehr 1359 Hs soal perang Irak dan Iran. Dalam resolusi ini, selain menyatakan kekhawatiran yang mendalam soal kondisi perang yang semakin meluas, kepada kedua negara diminta untuk menyelesaikan masalahnya lewat jalur diplomasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan hukum internasional.
Sekaitan dengan dikeluarkannya resolusi ini, Iran menjelaskan bahwa Irak berulang kali melakukan pelanggaraan atas perjanjian 1975 Aljazair dan negara ini tampaknya justru berusaha meningkatkan agresinya terhadap Iran. Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa agresi Irak ke daerah-daerah Iran merupakan pelanggaran dan untuk itu, Iran berkewajiban untuk membela kedaulatannya. Iran juga menyatakan bahwa selama Irak melanggar kedaultan Iran, maka resolusi DK-PBB itu tidak dapat diterima oleh Iran. Sementara perundingan baik langsung maupun tidak juga tidak bermanfaat, bila pelanggaran masih terus dilakukan oleh pihak Irak.
Resolusi 479 tidak menyebutkan sama sekali siapa pemicu perang dan kedua pihak; Iran dan Irak disebutkan secara sejajar. Oleh karenanya, Iran menyebut resolusi itu sangat tidak adil dan zalim terkait agresi Irak terhadap Iran.