Sep 29, 2016 07:48 Asia/Jakarta

Hari ini, Kamis tanggal 29 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 27 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 8 Mehr 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Marwan Himar Wafat dan Punahnya Bani Umayah

 

1305 tahun yang lalu, tanggal 27 Dzuhijjah 132 Hq, Marwan Himar meninggal dunia dan punahnya Bani Umayah.

 

Pada awalnya ajakan Bani Abbasiah bangkit melawan Bani Umayah dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Demi meraih dukungan Muslimin, mereka berjanji bila berhasil menang dan menghancurkan Bani Umaya, mereka akan memilih satu dari keturunan Nabi Muhammad Saw sebagai khalifah.

 

Janji yang disampaikan Bani Abbasiah itu membuat masyarakat mendukungnya karena kecintaan kepada Ahli Bait. Mereka akhirnya membantu Abu Muslimin Khurasani bangkit menentang Bani Umayah dan perjuangan Bani Abbasiah menjadi lebih serius dan luas. Akhirnya terjadi perang antara Abdullah bin Ali, paman Saffah dan Marwan Himar, khalifah terakhir Bani Umayah.

 

Dalam perang itu Marwan Himar terbunuh pada 27 Dzulhijjah 132 Hq dan dengan demikian berakhirlah pemerintahan tidak sah Bani Umayah. Setelah itu yang berkuasa atas Muslimin berasal dari silsilah keluarga lain, Bani Abbasiah yang tidak kalah zalimnya dari Bani Umayah.

 

Bani Abbasiah berkuasa selama lebih dari 5 abad.

 

Saadi Shirazi Meninggal

 

746 tahun yang lalu, tanggal 27 Dzulhijjah tahun 691 Hijriah, Sheikh Mushlihuddin Saadi Shirazi, seorang penyair termasyhur Iran, meninggal dunia.

 

Saadi dilahirkan di kota Shiraz dan di sana pula ia menempuh pendidikan dasarnya di bidang sastra dan agama. Kemudian, Saadi meneruskan pendidikannya ke  kota Baghdad dan mempelajari ilmu-ilmu yang berkembang saat itu di Madrasah Nizhamiah.

 

Setelah tamat, Saadi melakuakan perjalanan ke Damaskus, Palestina, Hijaz, Roma, dan negara-negara lainnya. Sekembalinya ke tanah kelahirannya, Saadi menuangkan pengalaman hidupnya selama 30 tahun dalam syair-syair yang indah dan penuh hikmah.

 

Pada tahun 655 Hijriah, Saadi menyelesaikan karya besarnya yang diberi judul "Bustan". Di dalamnya, Saadi mengungkapkan syair-syair dan prosa tentang keadilan, kebaikan, cinta, kerendahhatian, pendidikan, dan taubat. Pada tahun 656, lahirlah karya besar Saadi lainnya berjudul "Gulistan".

 

Selain itu, Saadi juga meninggalkan kumpulan syair yang terdiri dari dari qasidah, ghazaliat, dan rubaiyat. Saadi dimakamkan di kota Shiraz dan makamnya menjadi salah satu obyek pariwisata di Iran yang dikunjungi para pelancong dari berbagai negara.

 

Ayatullah Sayid Mohammad Sadegh Lavasani Wafat

 

26 tahun yang lalu, tanggal 8 Mehr 1369 Hs, Ayatullah Sayid Mohammad Sadegh Lavasani meninggal dunia dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di kompleks makam suci Sayidah Fathimah al-Maksumah as.

 

Ayatullah Sayid Mohammad Sadegh Lavasani lahir dari keluarga agamis di Najaf, Irak sekitar tahun 1285 HS. Menginjak usia remaja, ia bersama ayahnya pergi ke kota Hamedan dan setelah beberapa waktu tinggal di sana, ia pindah ke kota Arak untuk melanjutkan pendidikan agamanya.

 

Ayatullah Lavasani di usia 17 tahun berhijrah ke kota Qom setelah dibentuknya Hauzah Ilmiah Qom oleh Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi. Beberapa tahun Qom, Ayatullah Lavasani sempat sekamar dengan Imam Khomeini ra.

 

Selama di kota Qom, selain belajar kepada pendiri Hauzah Ilmiah Qom, Ayatullah Lavasani juga belajar kepada guru-guru besar seperti Sayid Mohammad Taghi Khonsari, Sayid Mohammad Hojjat, Mohammad Ali Shah Abadi dan Mirza Javad Agha Maleki Tabrizi. Ia belajar fiqih dan ushul fiqih tingkat mujtahid, irfan dan filsafat dari mereka dan setelah itu meninggalkan Iran menuju Najaf, Irak. Di kota suci ini, Ayatullah Lavasani belajar kepada guru-guru besar lainnya seperti Agha Dhiya ad-Din al-Iraqi dan Mirza Abolhassan Meshkini.

 

Ayatullah Lavasani diangkat oleh para marji besar Qom untuk mengelola Madrasah Feiziah dan Dar as-Shifa, Qom pada tahun 1314 HS selama 6 tahun. Setelah dimulainya kebangkitan Islam yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra, ia berkali-kali mengeluarkan pernyataan dukungannya kepada Imam Khomeini dan setelah beliau diasingkan ke Turki, Ayatullah Lavasani diangkat menjadi wakil penuhnya di Tehran.

 

Sepak terjangnya dalam memajukan kebangkitan Islam ini mengkhawatirkan rezim Shah Pahlevi yang membuatnya diasingkan di daerah Hashtpar di Talesh selama tiga tahun. Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Lavasani tetap menjadi sahabat dan pendukung setia Imam Khomeini ra tanpa memegang jabatan apapun.