Lintasan sejarah 4 Oktober 2016
Hari ini, Selasa tanggal 4 Oktober 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 2 Muharam 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 13 Mehr 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Imam Husein as Tiba di Karbala
1377 tahun yang lalu, tanggal 2 Muharam 61 Hijriah, Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw bersama dengan anggota keluarga dan sahabat setia beliau, tiba di tanah Karbala.
Ketika sampai di sana beliau menanyakan nama tempat itu. Ketika mendengar bahwa nama tempat ini adalah Karbala, beliau menangis seraya berkata, "Turunlah kalian. Di sinilah darah kita akan diteteskan dan tempat kuburan kita. Di sinilah kuburan kita akan menjadi tempat ziarah. Begitulah kakekku Rasulullah menjanjikan."
Mendengar seruan ini, para sahabat beliau turun dan menurunkan seluruh barang bawaan. Pasukan Hurr bin Yazid al-Riyahi mengambil posisi di tempat berhadapan dengan rombonganImam Husein as.
Imam Husein as mengumpulkan seluruh keluarga dan memandangi mereka. Beliau pun menangis. Setelah itu, beliau berkata, "Ilahi! Mereka telah mengusir kami dari tanah suci kakekku. Bani Umayah telah menzalimi hak kami. Ya Allah! Ambillah hak kami dari para lalim dan menangkanlah kami atas musuh-musuh kami."
Ubaidillah bin Ziyad menulis sepucuk surat kepada Imam Husein as yang berisi, "Berita ketibaanmu di Karbala telah kami terima. Yazid bin Muawiyah telah memerintahkanku supaya aku tidak tidur sebelum membunuhmu, atau engkau menerima ketentuanku dan ketentuan Yazid bin Mua'wiyah. Wassalam." Imam Husein as berkata, "Surat ini tidak perlu dijawab, karena Ubaidillah memang sudah ditentukan menerima azab Ilahi."
Setelah Imam Husein as membaca surat Ubaidillah Ibn Ziyad, beliau berkata, "Semoga tidak berjaya golongan yang telah rela membeli keridaan manusia dengan harga amarah Allah (Yaitu lebih mementingkan keridaan manusia atas amarah Allah)."
Beberapa bulan sebelumnya, Imam Husein pergi meninggalkan kota Madinah menuju Mekah dalam rangka penolakannya untuk berbaiat atau berjanji setia kepada Yazid bin Muawiyah yang mengangkat diri sebagai khalifah kaum Muslimin.
Sementara itu, ribuan surat dari warga Kufah disampaikan kepada Imam Husain untuk mengundang beliau agar datang ke kota itu untuk memimpin perjuangan melawan Khalifah Yazid yang sangat kejam. Untuk memenuhi undangan itu, Imam Husein beserta 72 orang rombongan beliau, meninggalkan kota Madinah menuju Irak. Namun, ternyata warga Kufah yang mendapat represi dari pemerintahan Yazid, berbalik menentang Imam Husein, sehingga sebelum sampai ke kota Kufah, Imam Husein sudah dicegat oleh pasukan Kufah dan digiring ke Karbala.
Belgia Merdeka
186 tahun yang lalu, tanggal 4 Oktober 1830, Belgia memproklamasikan kemerdekaannya.
Negara ini sejak awal abad ke-18 berada di bawah kekuasaan Austria dan pada akhir abad itu pula, Belgia dikuasai oleh Perancis. Namun, setelah kekalahan Napoleon dari negara-negara Eropa, pada tahun 1815, Belgia dan Belanda membentuk negara persatuan.
Namun, persatuan ini tidak berlangsung lama karena terjadi peperangan antara rakyat Katolik Belgia dan rakyat Protestan Belanda. Kedua bangsa itu kemudian mendirikan dua negara terpisah. Serangan Belanda ke Belgia berakhir dengan kekalahan karena campur tangan Inggris dan Perancis. Raja Belgia yang pertama adalah Raja Leopold dan sistem pemerintahan negara ini berbentuk monarkhi konstitusional.
Belgia memiliki luas wilayah 30 ribu km persegi dan berbatasan dengan Perancis, Jerman, dan Luxemburg.
Hijrah Historis Imam Khomeini dari Irak ke Paris
38 tahun yang lalu, tanggal 13 Mehr 1357 Hs, Imam Khomeini ra melakukan perjalanan historisnya dari Irak ke Paris.
Tiga belas tahun berlalu dari pengasingan Imam Khomeini di Irak. Selama itu pula beliau tinggal di Najaf. Akibat tekanan pemerintah Baath, Irak dan pembatasan terhadap aktivitas politik beliau membuat Imam bersama beberapa orang dekatnya pagi tanggal 12 Mehr 1357 HS bergerak menuju Kuwait. Setelah tiba di perbatasan, pemerintah Kuwait tidak bersedia memberikan visa kepada beliau dan rombongannya.
Akibatnya, mereka sempat tertahan selama beberapa jam di perbatasan. Saat-saat terakhir, para petugas perbatasan Irak menginformasikan kepada Imam bahwa tidak masalah bila beliau dan rombongan ingin kembali ke Najaf. Tapi Imam tidak ingin kembali ke Najaf. Malam harinya, beliau tinggal di kota Basrah dan memutuskan untuk pergi ke Paris. Pada waktu itu pejabat Irak setuju dengan keputusan Imam ke Paris.
Sore hari tanggal 13 Mehr 1357 HS, Imam bersama rombongan pergi ke Baghdad dan keesokan harinya beliau bersama rombongan memulai hijrah historis dan sangat menentukan. Beliau tiba di Paris dan memilih tinggal di kota Neauphle lè Château. Imam empat bulan tinggal di Paris, kota Neauphle lè Château menjadi pusat penting pemberitaan dunia. Imam tinggal di kota ini hingga beberapa hari sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran dan tetap memimpin rakyat Iran menggulingkan rezim Pahlevi.