Lintasan Sejarah 6 Oktober 2016
Hari ini, Kamis tanggal 6 Oktober 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 4 Muharam 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 15 Mehr 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Abul Qasim Muhammad Baghdadi Meninggal
953 tahun yang lalu, tanggal 4 Muharam 485 Hq, Abul Qasim Muhammad Baghdadi, yang terkenal dengan nama Ibnu Naqiya, seorang penyair dan penulis terkenal dari Bagdad, meninggal dunia.
Abul Qasim Baghdadi dikenal karena syair-syairnya yang indah, penuh hikmah, dan menggunakan bahasa yang sederhana, yang dimuat dalam buku kumpulan syairnya yang berjudul Maqamaat. Dalam buku ini, Ibnu Naqiya mengkritik kerusakan-kerusakan sosial dalam bentuk hikayat dan humor.
Ibnu Naqiya juga menulis buku lain berjudul "al-Jaman fi Tashbihaatil Quran" yang berisi penafsiran terhadap 226 ayat Al-Quran.
Abu Abdullah Muhammad Imrawi Meninggal Dunia
174 tahun yang lalu, tanggal 4 Muharam 1264 Hijriah, Abu Abdullah Muhammad Imrawi Fasi yang terkenal dengan gelar Ibn Idris, seorang menteri, penulis dan penyair muslim Maroko meninggal dunia.
Abu Abdullah Muhammad Imrawi memulai pelajarannya dengan menghafal Al Quran, lalu mempelajari ilmu nahwu dan sastra Arab. Sebelumnya, Ibn Idris bekerja sebagai petugas perpustakaan, kemudian bekerja sebagai juru tulis. Ia juga pernah bekerja sebagai juru tulis para sejarawan terkenal di zamannya. Dengan cara ini ia mendapat pengetahuan yang luas di bidang menulis kasidah dan serangan Perancis ke Aljazair sebanyak 111 bait seraya menyeru umat Islam untuk berjihad.
Tidak lama kemudian, karena konspirasi musuh, Ibnu Idris dipenjara dan disiksa oleh Sultan Maroko, lantaran dituduh sebagai pengerak utama pemberontakan. Selepas bebas dari penjara, Ibn Idris mengasingkan diri dan menumpukan perhatiannya dengan menulis syair. Kebanyakan syair-syairnya berisi pujian atas keagungan Rasulullah Saw dan keindahan alam semesta.
Penetapan Warna Bendera Iran
109 tahun yang lalu, tanggal 15 Mehr 1286 Hs, tiga warga bendera Iran ditetapkan di masa Revolusi Konstitusi.
Sejak lama Iran menggunakan sejumlah kata seperti Derafsh, Biragh, Alam, Leva atau Rayat untuk menunjukkan arti bendera dan dipakai sebagai tanda tertentu shah, penguasa atau komandan militer. Ukuran dan warna bendera yang dipakai berbeda-beda sejak dahulu, tapi pilihan tiga warga; hijau, putih dan merah dimulai sejak masa pemerintahan Naseruddin Shah Qajar. Pada akhirnya tiga warna dipatenkan di masa Revolusi Konstitusi pada 15 Mehr 1286 HS dan bendera ini dipakai di setiap bangunan pemerintah, istana, pelabuhan dan yang berhubungan dengan kerajaan dan pemerintah.
Penyusunan UUD di masa Revolusi Konstitusi akhirnya menetapkan bendera Iran dalam Pasal Kelima pada UUD yang telah disempurnakan. Warna hijau pada bendera Iran itu menunjukkan agama Islam dan mazhab Syiah sekaligus kemakmuran negara serta ketenangan jiwa dan batin. Warna putih berarti perdamaian, persahabatan dan ketenangan bangsa Iran. Sementara warga merah petanda ketundukan rakyat Iran pada konstitusi dan kesiapan bangsa untuk membela kemerdekaan dan kebebasan sekalipun dengan darah anak bangsa.
Ukuran dan bentuk bendera Iran secara detil kembali ditetapkan pada 1336 HS dengan bentuk singa dan matahari atau terkadang mahkota Pahlevi. Tapi pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, bentuk bendera Iran berubah dengan disain seperti kata Allah dalam bahasa Arab yang berarti darah para syuhada dan empat bagiannya yang menyerupai bentuk hilal bulan dan satu bagian yang tegak di tengah mengingatkan pedang yang menjadi petunjuk kekuatan dan perlawanan bangsa Iran. Bentuk itu secara keseluruhan menunjukkan kalimat tauhid "Laa Ilaaha Illallaah. Begitu juga tulisan Allahu Akbar sebanyak 22 kali di bagian bawah bendera berwarna hijau dan atas bendera berwarna merah menunjukkan 22 Bahman 1357 Hs, hari kemenangan Revolusi Islam Iran.
Perang Keempat Arab-Israel Pecah
43 tahun yang lalu, tanggal 6 Oktober 1973, terjadi perang keempat antara negara-negara Arab melawan Israel.
Dalam peristiwa itu, tentara Mesir melakukan penyerbuan melalui terusan Suez saat tentara penjajah Quds sedang lengah. Setelah mematahkan pertahanan tentara Zionis, pasukan Mesir berhasil memasuki Gurun Sinai. Berikutnya, tentara Mesir beserta Suriah meraih berbagai kemenangan gemilang di medan-medan pertempuran. Mereka bahkan mampu menembak jatuh sejumlah pesawat tempur Isarel.
Akan tetapi, Amerika kemudian datang memberikan bantuan peralatan militer yang lebih canggih, hingga tentara Israel mampu menduduki kembali sejumlah kawasan yang sempat direbut pasukan Arab. Akhirnya, dengan intervensi AS dan Uni Soviet, diberlakukan gencatan senjata, dan penyelesaian atas masalah sengketa itu kemudian diserahkan kepada PBB. Salah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari peristiwa itu adalah runtuhnya mitos bahwa tentara Israel tidak mungkin terkalahkan.