Okt 28, 2016 08:40 Asia/Jakarta

Hari ini, Kamis tanggal 27 Oktober 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 25 Muharam 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 6 Aban 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Imam Sajjad Gugur Syahid

 

1343 tahun yang lalu, tanggal 25 Muharam 95 Hq, menurut sebuah riwayat, Imam Ali Zainal Abidin as, imam keempat kaum Muslimin dan generasi kedua keturunan Rasulullah Saw, gugur syahid.

 

Imam Ali Zainal Abidin as adalah putra dari Imam Husein as, cucu Rasulullah. Beliau dikenal amat rajin beribadah dan bersujud di hadapan Allah, sehingga dijuluki as-Sajjad yang berarti banyak bersujud.

 

Imam Sajjad lahir tahun 38 Hijriah di Madinah. Pada tahun 61 Hijriah, Imam Sajjad turut menyertai ayah beliau yang berjuang melawan kezaliman pemerintahan Yazid, di Padang Karbala. Atas kehendak Allah, saat itu beliau jatuh sakit sehingga tidak bisa ikut bertempur. Setelah Imam Husain gugur syahid, tampuk imamah diemban oleh Imam Sajjad.

 

Koran Pertama Iran Terbit

 

185 tahun yang lalu, tanggal 25 Muharram 1253 Hq, koran pertama di Iran diterbitkan dengan nama Kaqhaz-e Akhbar.

 

Suratkabar ini diterbitkan oleh Mirza Salih Shirazi dan disebarluaskan di Teheran.

 

Suratkabar Kaqhaz-e Akhbar terbit sebulan sekali dan berisi berita-berita tentang berbagai kota di Iran, Arab, dan Turki. Satu-satunya edisi yang masih tersisa dari koran ini disimpan di musium Britania.

 

Norwegia Memisahkan Diri dari Swedia

 

111 tahun yang lalu, tanggal 27 Oktober 1905, Norwegia memisahkan diri dari persatuannya dengan Swedia dan menjadi negara merdeka.

 

Norwegia hingga abad ke-14, merupakan negara imperialis yang kuat . Namun, sejak tahun 1380, negara ini dijajah Denmark selama lebih dari empat abad. Pada tahun 1814, Kongres Wina menyerahkan Norwegia kepada Swedia atas jasa negara itu dalam perang melawan Napoleon.

 

Keputusan ini menimbulkan pemberontakan di kalangan rakyat Norwegia. Akhirnya, pada tahun 1905, Norwegia merdeka dengan pemerintahan berbentuk monarkhi konstitusional. Norwegia terletak di utara Eropa dan memiliki luas wilayah hampir 324 ribu kilometer persegi, serta berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia.

 

Imam Khomeini ra Tolak Rencana Fahd Soal Perdamaian Palestina-Israel

 

35 tahun yang lalu, tanggal 6 Aban 1360 Hs, Imam Khomeini ra tolak rencana Raja Fahd soal perdamaian Palestina-Israel.

 

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dan setelah penandatanganan perjanjian damai Camp David antara pemerintah Mesir dan rezim Zionis Israel yang dimediasi Amerika, rezim-rezim yang menjual dirinya di Timur Tengah mulai mengikuti jejak Mesir untuk berdamai dengan Israel.

 

Fahd bin Abdul Aziz yang waktu itu merupakan Pangeran Mahkota Arab Saudi pada tanggal 18 Mordad 1360 (9 Agustus 1981) mengusulkan sebuah rencana yang berisikan sejumlah poin; pertama, Israel harus mundur dari seluruh daerah yang didudukinya, termasuk Baitul Maqdis. Kedua, tidak adanya jaminan hak bagi warga Palestina yang ingin pulang, terutama pemberian ganti rugi atas kerugian yang dialami selama ini. Ketiga, jaminan hak bagi seluruh negara di Timur Tengah untuk hidup secara damai.

 

Poin ketiga merupakan poin paling cerdik untuk mengakui secara resmi rezim Zionis Israel Hal ini pula yang membuat dunia Islam tidak mengakui rencana ini.

 

Imam  Khomeini ra saat mereaksi rencana ini pada tanggal 6 Aban 1360 Hs (28 Oktober 1981) dalam sebuah pidatonya mengatakan, "Wajib bagi kami dan setiap muslim menolak rencana-rencana seperti yang dilakukan oleh Anwar Sadat dan Fahd bin Abdul Aziz. Wajib bagi kita untuk mengecam setiap rencana yang tidak berpihak kepada orang-orang tertindas (mustadhafin). Hari ini, tidak ada yang lebih berbahaya dari perjanjian Camp David dan rencana Fahd yang memperkuat Israel dan kejahatannya. Ide-ide semacam ini membuat munculnya perpecahan dan membuka jalan bagi Israel."

 

Sikap tegas Imam Khomeini ra menolak rencana Fahd dan dukungan umat Islam sedunia atas sikap Imam membuat banyak negara ikut menolak rencana ini.

 

Tahun-tahun selanjutnya terbukti betapa rezim Zionis Israel tidak pernah melaksanakan janjinya kepada bangsa Palestina dan tidak pernah mundur dari klaimnya selama ini. Begitu congkaknya Zionis Israel sehingga dalam sejumlah perjanjian dan pertemuan bersama dalam kerangka perdamaian Arab dan Israel, rezim Zionis Israel menyatakan satu-satunya solusi Palestina adalah membinasakan seluruh rakyatnya. Zionis Israel juga tidak mau menerima kembalinya warga Palestina yang hidup di luar negeri ke tanah airnya sendiri.