Lintasan Sejarah 31 Oktober 2016
Hari ini, Senin tanggal 31 Oktober 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 29 Muharam 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 10 Aban 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Tawanan Ahli Bait Tiba di Syam
1377 tahun yang lalu, tanggal 29 Muharam 61 Hq, tawanan Ahli Bait tiba di Syam.
Pada waktu itu, Ibrahim bin Thalhah bin Abdullah maju ke depan mendekati Imam Sajjad as. Ia termasuk orang yang ikut berperang di masa Muawiyah di perang Jamal. Dengan penuh kedengkian dan untuk membalas dendamnya, ia menunjukkan luka sayatan pedang yang dideritanya di perang Jamal.
Ibrahim bin Thalhah berkata kepada Imam Sajjad as, “Engkau telah menyaksikan siapa pemenangnya?”
Imam Sajjad as menjawab, “Bila engkau ingin mengetahui siapa yang menjadi pemenang, maka sabarlah dahulu, sampai dikumandangkan azan dan iqamah. Pada waktu itu engkau akan mengetahui suara siapa yang kekal hingga Hari Kiamat.”
Mohammad Herawi Meninggal Dunia
535 tahun yang lalu, tanggal 29 Muharram 903 H, Muhammad Herawi, sejarawan muslim asal kota Herat, meninggal dunia.
Muhammad Herawi lahir ditengah keluarga terpandang di kota Balakh, Afghanistan Utara. Namun, ia lebih banyak menghabiskan umurnya di kota Herat.
Karena ilmunya yang luar biasa, Herawi mendapat perhatian khusus dari Amir Ali Shir, seorang menteri Dinasti Gurkani yang sangat dikenal menghormati para ulama. Herawi meninggalkan karya monumental, Tarikh Raudhoh As-Shofa, yang mengulas sejarah umum dunia dari awal penciptaan alam hingga pada masanya.
Tentara Italia Kalahkan Pasukan Napoli
156 tahun yang lalu, tanggal 31 Oktober 1860, tentara Italia yang dipimpin oleh Giussepe Garibaldi, seorang nasionalis fanatik Italia, berhasil mengalahkan tentara Napoli.
Kemenangan Garibaldi ini merupakan langkah besar dalam proses penyatuan Italia yang kemudian terwujud secara utuh pada tahun 1870. Sebelum takluk di tangan tentara Garibaldi, Napoli adalah sebuah negara independen. Kini, Napoli adalah salah satu kota penting di kawasan selatan Italia.
Ayatullah Ali Qazi Thabathabai Gugur
37 tahun yang lalu, tanggal 10 Aban 1358 HS, Ayatullah Sayid Mohammad Ali Qazi Thabathabai, seorang ruhaniwan Iran terkemuka, gugur syahid akibat teror kelompok Furqan.
Beliau dilahirkan pada tahun 1292 HS di kota Tabriz di barat laut Iran. Beliau memulai pendidikan dasar agamanya di bawah bimbingan ayahnya sendiri dan kemudian melanjutkan menuntut ilmu di hauzah-hauzah ilmiah terkemuka dan menjadi murid ulama-ulama besar saat itu, di antaranya Imam Khomeini.
Akibat aktivitas perjuangannya melawan rezim despotik Shah Pahlevi, Ayatullah Thabathabai berkali-kali dipenjara dan diasingkan. Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Thabathabai ditunjuk Imam Khomeini sebagai imam Jumat di kota Tabriz.
Indira Gandhi Tewas Diteror
32 tahun yang lalu, tanggal 31 Oktober 1984, Perdana Menteri India Nyonya Indira Gandhi tewas dibunuh dalam sebuah aksi teror yang dilakukan oleh dua orang pengawalnya.
Kedua pembunuh Gandhi yang kemudian diidentifikasi sebagai pengikut aliran Sikh itu melakukan tindakannya karena Perdana Menteri India tersebut dianggap bersalah telah mengeluarkan instruksi penyerangan terhadap kuil emas milik para pengikut Sikh yang terdapat di negara bagian Punjab.
Gandhi sendiri mengeluarkan instruksi itu karena warga Punjab yang mayoritasnya adalah pengikut Sikh menjadikan kuil emas sebagai markas perjuangan mereka untuk menjadikan Punjab sebagai sebuah negara merdeka.
Nyonya Indira Gandhi adalah putri Jawaharlal Nehru, salah seorang pemimpin kemerdekaan India. Gandhi naik ke kursi perdana menteri India pada tahun 1967, tiga tahun setelah kematian ayahnya. Selama memerintah, Gandhi dihadapkan kepada banyak persoalan, termasuk di antaranya pemberontakan kelompok separatis Sikh. Pemberontakan Sikh tersebut terus berlanjut sampai saat putra Indira Gandhi, yaitu Raziv Gandhi menjadi perdana menteri.
Italia Akui Irak Sebagai Agresor
29 tahun yang lalu, tanggal 10 Aban 1366 HS di tengah-tengah memuncaknya perang antara Iran dan Irak, Menteri Luar Negeri Italia waktu itu yang menjadi ketua periodik Dewan Keamanan PBB dalam sebuah diskusi panel di televisi menyebut Irak sebagai pemicu perang dan menilai DK-PBB tidak tegas menindak Irak.
Ia dalam diskusi itu mengatakan, “Iran siap dibentuknya sebuah komisi internasional untuk menetapkan siap yang memulai perang dan tidak ada keraguan bahwa serangan pertama dilakukan oleh Irak.”
Sebuah kenyataan bahwa transformasi perang hanya direaksi opini publik dunia ketika bahaya menimpa ekspor minyak dunia.