May 18, 2017 19:18 Asia/Jakarta

Sejak dua seri acara sebelumnya, kita telah membahas tentang bahasa Farsi dan pengaruhnya di dunia.

Bahasa Farsi diterima sebagai bahasa resmi kerajaan Iran di era dinasti Seljuk. Meskipun mereka bangsa Turki, namun raja-raja dinasti Seljuk menjadikan bahasa Farsi sebagai bahasa resmi yang dipergunakan dalam pemerintah dan ilmu pengetahuan serta sastra. Oleh karena itu, ketika orang-orang Turki memperluas pengaruhnya ke berbagai segenap penjuru dunia, mereka membawa budaya Persia yang dikenalinya di Iran. Ketika orang-orang Turki meluaskan pengaruhnya ke berbagai wilayah dunia hingga menembus Cina dan India di Asia Kecil, mereka menjadikan bahasa Farsi sebagai salah satu bahasa internasional terkemuka ketika itu.

Di era Timurid, muncul para penyair dan penulis yang menguasai bahasa Farsi dan Turki. Mereka juga memiliki karya dalam dua bahasa itu. Misalnya, Mir Ali Shir Navai yang hidup di Herat, Afghanistan, dan menggunakan bahasa Farsi dan Turki dalam karya-karya syair yang terkenal. Asia Kecil (Turki saat ini) menjadi salah satu wilayah yang dipengaruhi oleh bahasa Farsi sejak berdirinya dinasti Seljuk.

Kesultanan Seljuk Rum sebelum masuk dan menguasai Asia Kecil, seperti Seljuk Iran berada dalam pengaruh budaya Persia. Bahasa resmi yang dipergunakan pun menggunakan bahasa Farsi. Ketika itu bahasa Turki hanya digunekana sebagai bahasa percakapan masyarakat di wilayah Asia Kecil, tapi bahasa resmi pemerintah, sastra dan ilmu pengetahuan menggunakan bahasa Farsi. Bahkan nama-nama raja Seljuk juga menggunakan nama Iran seperti sultan Kayqubad dan Kaykhusraw. Mereka juga berbicara dan menulis dalam bahasa Farsi. Hingga kini, tidak ada dokumen tertulis yang menunjukkan penggunaan bahasa Turki dalam pemerintahan di era Seljuk Iran dan Rum.

Ketika Jalaluddin Rumi, penyair terkemuka Persia abad keenam Hijriah meninggalkan tanah kelahirannya di Balkh menuju Konya. Rumi melakukan perjalanan yang jauh dari Balkh, Afghanistan saat ini menuju konya di Turki. Dalam perjalanan tersebut Jalaluddin Rumi bertemu banyak orang dengan beragam budaya dan adat istiadat yang beraneka ragam. Ia sendiri menggunakan bahasa Farsi dalam karya-karyanya yang sangat terkenal hingga kini.

Pengaruh bahasa terhadap kesultanan Turki tidak kecil. Selain Seljuk, bahasa Farsi juga berpengaruh terhadap kesultanan Ottoman. Bahkan kebanyakan para raja Turki memiliki ikatan yang erat dengan bahasa Farsi. Sebagaimana orang-orang Iran, mereka membaca karya-karya para penyair Persia seperti Hafez Shirazi. Sejarah menunjukkan bagaimana sultan Abdul Hamid memperlakukan Divan Hafez seperti orang-orang Iran. Ia mengirimkan hadiah ketika hajatnya terpenuhi setelah membaca buku "petunjuk" Divan Hafez.

Arnold Tonybee berkeyakinan ketika sultan Salim Ottoman yang dipengaruhi oleh budaya dan bahasa Farsi, dan setengah dari Eropa dikuasainya, maka sebenarnya yang bahasa Farasi dan kebudayaan Persia yang menguasai setengah Eropa. Ketika Mesir berada dalam pengaruh kekuasaan Ottoman, maka sebenarnya kebudayaan Persia. Oleh karena itu jatuhnya Kairo menjadi penting setara dengan jatuhnya Constantinople dalam perang salib. Menurut Tonybee, Shah Ismail Safavi dan Sultan Salim Ottoman memiliki kesamaan dalam proyek peradaban Persia. Sultan Salim mengumandangkan syair dalam bahasa Farsi dan mengembangkan sastra Persia di wilayah kekuasaannya.

Sultan Bayazid Ottoman memberikan penghargaan yang besar terhadap para penyair dan ilmuwan Iran seperti Jami, Maulana Seifuddin Ahmad, sejarawan Iran Mir Jamaluddin Ataolhagh. Sultan Muhammad Fateh setelah menguasai Constantinople mendendangkan syair Khaghani dalam bahasa Farsi. 

Para penyair Turki mengikuti tradisi yang dikembangkan para penyair Iran. Misalnya penyair Beheshti di era putera mahkota Mahmoud Ottoman mengikuti Khomseh Nezami dalam bentuk lima bagian. Begitu pula, Ferdows yang menjadi penyair bagi sultan Sulaiman mengikuti Shah Nameh Ferdows dengan setengah pola Nast'ar dan setengahnya Nazm.

Tradisi syair Turki diletakan oleh para penyair keturunan Persia yang datang ke wilayah itu. Orang-orang Turki tidak hanya mengenal sastra Farsi, bahkan mereka pun mengambil inspirasi dari seni dan pemikiran Persia. Penyair pertama yang menggunakan bahasa Turki dalam syairnya adalah Baha ud-din, putra Maulana Jalaluddin Rumi. Ia menulis Syair "Robah Nameh" dalam bahasa Farsi berbentuk mastnawi dan 156 bait berbahasa Turki. Inilah awal dari sastra Turki dimulai.

Sastra Turki dimulai abad 15 Masehi yang selama 100 tahun berada dalam pengaruh Jami dan Amir Ali Shir Navai. Selain itu Saeb Esfahani dan beberapa penyair Iran lainnya memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan sastra Turki.

Penyair Turki pertama di era Ottoman yang mengumandangkan syairnya dalam bahasa Turki juga menguasai bahasa Farsi dan memiliki karta dalam bahasa tersebut seperti Emoduddin Nasimi. Ia mengumandangkan karya syair dalam bahasa Arab dan Farsi, tapi karya syairnya berbahasa Turki.

Bahasa dan sastra Farsi tidak hanya diterima di Asia Kecil, tapi juga berkembang di wilayah Balkan yang dikuasai oleh Ottoman. Salah satu syarah terkemuka tentang syair Hafez adalah pra guru istana Ottoman.

Turki Moghul yang menguasai wilayah Turkistan Timur mengenai bahasa Farsi. Bahkan Pangeran Moghul, Haidar Mirza menulis buku "Sejarah Moghulian di Asia Tengah dalam bahasa Farsi. DI Eropa, budan Iran dan bahasa Farsi juga pernah menjangkau Spanyol. Hingga kini buku tulisan tangan Hamzah Isfahani, Farabi, Ibnu Sina dan ilmuwan Iran lainnya berada di musium mereka.

Sejumlah dokumen bersejarah menunjukkan bahwa orang-orang Iran adalah yang pertama kali membawa Islam ke Cina. Profesor William E. Shepard berkeyakinan bahwa kebanyakan Muslim Cina berasal dari keturunan bangsa Persia sebelum dan sesudah kedatangan orang-orang Moghul di wilayah itu. Hingga kini, masih bisa ditemukan sejumlah jejak Iran dalam tradisi Muslim Cina ketika menjalankan kewajiban agamanya.

Sejak abad keenam Hijriah, Bahasa Farsi selama berabad-abad menjadi bahasa komunikasi antarbangsa dunia, karena tingginya potensi konseptual dan relasi yang dimiliki bahasa Farsi, sehingga menjadikannya sebagai bahasa resmi pemerintahan, ilmu pengetahuan dan sastra. Bahasa Farsi memainkan peran penting di dunia Islam sebagaimana yang diperankan oleh bahasa Latin di dunia Kristen dan Eropa di abad pertengahan.