Lintasan Sejarah 5 Januari 2019
-
Lintasan Sejarah 5 Januari 2019.
Hari ini, Sabtu 05 Januari 2019 bertepatan dengan 28 Rabiul Tsani 1440 Hijriah Qamariah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 15 Dey 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.
Ibnu Arabi Wafat
802 tahun yang lalu, tanggal 28 Rabiul Tsani 638 HQ, Abu Bakar Muhyiddin Muhammad yang dikenal dengan sebutan Ibnu Arabi, sufi dan ulama terkenal muslim meninggal dunia di kota Damaskus.
Ibnu Arabi lahir pada tahun 560 hijriyah di Andalusia atau Spanyol. Selain giat menimba ilmu, Ibnu Arabi tekun menjalani kehidupan ruhaninya, sehingga beliau dikenal sebagai seorang arif dan sufi besar.
Dalam berbagai perjalanannya ke sejumlah negeri Islam seperti Tunisia, Mekah, Baghdad dan Halab, Ihnu Arabi mendapat sambutan yang hangat dan penghormatan dari masyarakat dan ulama.
Banyak karya penulisan yang ditinggalkannya. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Arabi menulis lebih dari 500 makalah dan buku, yang salah satunya adalah kitab tafsir al-Kabir yang terdiri atas beberapa jilid. Kitab beliau yang paling terkenal adalah Fushul al-Hikam yang mengungkap pandangan dan pemikiran irfani dan sufistik ulama besar ini.
Ayatullah Mir Sayid Mohammad Modarres Najafabadi Wafat
79 tahun yang lalu, tanggal 15 Dey 1318 HS, Mir Sayid Mohammad Modarres Najafabadi meninggal dunia dan dimakamkan di pekuburan umum Takht-e Foulad Esfahan.
Ayatullah Mir Sayid Mohammad bin Sayid Mohammad Hossein Modarres Najafabadi lahir di kota Najafabad sekitar tahun 1257 HS.
Beliau mempelajari pendahuluan ilmu-ilmu agama di tempat kelahirannya. Setelah itu, untuk melanjutkan pendidikan agamanya, Ayatullah Najafabadi pergi ke kota Najaf, Irak. Selama di Najaf, beliau belajar kepada guru-guru besar hauzah seperti Allamah Sayid Mohammad Kazem Yazdi, Akhond Mulla Mohammad Kazem Khorasani, Syeikh as-Syariah Isfahani, Sayid Ismail Sadr dan Agha Reza Hamedani.
Setelah beberapa tahun menuntut ilmu di Najaf dan meraih derajat keilmuan yang tinggi, beliau kembali ke kota kelahirannya, Isfahan dan hingga akhir usianya beliau membaktikan diri untuk mengajar dan membimbing masyarakat. Ruang kuliahnya menjadi tempat belajar para ulama dan ilmuan. Sebagian besar ulama kontemporer Isfahan merupakan muridnya.
Ayatullah Modarres Najafabadi meninggalkan banyak karya seperti catatan pinggi atas Kifayah al-Ushul dalam dua jilid.
Khmer Merah Ganti Nama Kamboja
44 tahun yang lalu, tanggal 5 Januari 1975, pemimpin milisi Khmer Merah yang saat itu menguasai Kamboja, Pol Pot, mengubah nama negaranya. Kamboja - dari sebutan bahasa Inggris, Cambodia, diganti ke bahasa lokal, Kampuchea.
Di bawah konstitusi yang baru, Pol Pot juga meresmikan pemerintahan komunis di negeri Asia Tenggara itu.
Selama tiga tahun Pol Pot dan rezimnya berkuasa, warga Kamboja seakan hidup di Zaman Pertengahan. Bukannya memenuhi harapan penduduk Kamboja yang sudah lelah dengan konflik dan pemberontakan, rezim Pol Pot justru membawa teror dan genosida.
Selama berkuasa, Pol Pot bertanggungjawab atas kematian sekitar dua juta warga Kamboja.
Pol Pot, yang lahir dengan nama Saloth Sar pada 1925, memaksa rakyat Kamboja tinggal dan bekerja di desa-desa terpencil. Mereka yang berpendidikan atau memiliki kemampuan finansial langsung dibunuh.
Sekolah-sekolah, surat kabar, rumah sakit, properti budaya dan agama, serta properti pribadi dimusnahkan. Puluhan ribu orang Kamboja tewas karena kelaparan. Sedangkan orang lain dalam jumlah tak terhingga meninggal karena penyakit, kerja paksa, atau dibunuh.
Pada Desember 1978, menyusul pertikaian terkait perbatasan, Vietnam menginvasi Kamboja dan kemudian mengakhiri rezim Khmer Merah. Pol Pot melarikan diri ke Thailand dan menghabiskan hampir dua dekade untuk bersembunyi di kawasan hutan lebat di perbatasan Thailand dan Kamboja.
Pada 1997, Pol Pot ditangkap oleh anggota partainya sendiri atas tuduhan penghianatan. Dia meninggal karena sakit pada 15 April 1998 tanpa pernah mendapat hukuman apapun atas kejahatannya.
Sejumlah mantan petinggi Khmer Merah yang masih hidup kini diadili atas pembantaian kepada rakyat Kamboja.