Jalan Menuju Cahaya 829
Surat Shaad ayat 5-11.
أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5) وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آَلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6) مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآَخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ (7)
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (38: 5)
Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. (38: 6)
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (38: 7)
Para pembesar kaum musyrik di Makkah tidak bersedia mendengarkan atau menerima ucapan Rasulullah Saw, serta menudingnya sebagai penyihir dan pendusta demi mencegah kaumnya dari menerima seruan Islam.
Mereka kemudian berkata kepada kaumnya, kalian memiliki banyak tuhan dan mendatangi salah satu darinya untuk setiap urusan. Namun, Muhammad ingin mengambil semua tuhan itu dari kalian dan menggantinya dengan Tuhan Yang Satu, di mana kalian tidak bisa melihat atau menyentuh Dia.
Oleh sebab itu, kalian harus menjaga ajaran kalian dengan tetap menyembah tuhan-tuhan kalian dan tidak mendengarkan ucapan aneh, yang datang dari Muhammad, karena perkataan dia tidak pernah ada dalam ajaran sebelumnya. Para leluhur kita telah mengajarkan ajaran ini (menyembah berhala) dan kita tidak pernah menemukan ajaran lain seperti yang dibawakan Muhammad.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tugas pokok para nabi adalah menafikan tuhan-tuhan berhala dan membuktikan keesaan Allah Swt. Ini adalah sebuah hal yang anggap aneh oleh kaum musyrik dan pengingkar kebenaran.
2. Mayoritas orang ingin hidup seperti cara nenek moyang mereka. Jadi, sangat sulit bagi mereka jika harus meninggalkan ajaran leluhur dan menerima sebuah ajaran baru.
3. Para pemimpin kafir menyamarkan kebenaran dan membuat fitnah. Mereka mencegah kaumnya dari mendengarkan kebenaran dengan cara menyebarkan kebohongan dan propaganda miring. Mereka ingin agar kaumnya tetap berada dalam kesesatan dan kegelapan.
أَؤُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِي بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ (8)
Mengapa Al Quran itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Quran-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku. (38: 8)
Kaum musyrik Makkah berkata, "Mengapa wahyu Tuhan turun kepada seorang yatim, miskin, dan tidak punya kedudukan apapun, padahal banyak pembesar Quraisy di tengah kita. Jika Tuhan ingin menurunkan malaikatnya, ia harus turun kepada seseorang di antara pembesar Quraisy, yang terkenal, punya pengaruh, dan kaya raya."
Ini adalah salah satu cara musyrik Makkah untuk menciptakan keraguan tentang kebenaran risalah Nabi Muhammad Saw.
Jelas ini adalah logika para penyembah dunia yang menjadikan harta sebagai parameter segala hal. Mereka mengira setiap individu yang memiliki lebih banyak kekuatan dan harta, akan lebih layak membimbing dan memimpin masyarakat.
Hidayah Ilahi adalah sebuah perkara spiritual dan pembawa hidayah harus memiliki jiwa dan fitrah yang suci. Oleh karena itu, Tuhan mengetahui siapa yang memenuhi syarat ini dan dapat memikul risalah Ilahi.
Di bagian akhir ayat itu, Allah Swt memperingatkan bahwa para pembangkang dan pengingkar kebenaran akan merasakan azab Ilahi dan memperoleh akibat dari perbuatannya itu.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kesombongan dan iri dengki akan membuat seseorang mengingkari kebenaran. Kesombongan kadang membuat seseorang memandang apa yang dimiliki orang lain sebagai miliknya dan dia lebih berhak untuk itu.
2. Keraguan adalah sebuah sifat alamiah. Namun, jika muncul keraguan, manusia harus melakukan kajian dan riset sehingga kebenaran jelas baginya. Jadi, sesuatu tidak bisa ditolak begitu saja hanya dengan alasan ragu.
أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ (9) أَمْ لَهُمْ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَلْيَرْتَقُوا فِي الْأَسْبَابِ (10) جُنْدٌ مَا هُنَالِكَ مَهْزُومٌ مِنَ الْأَحْزَابِ (11)
Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi? (38: 9)
Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? (Jika ada), maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit). (38: 10)
Suatu tentara yang besar yang berada disana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan. (38: 11)
Ayat tersebut menyindir para pengingkar kebenaran dan menegaskan bahwa pemilihan para nabi adalah kewenangan mutlak Allah Swt. Pemilihan nabi tidak mengikuti selera masyarakat atau karena rekomendasi mereka.
Sebagian manusia benar-benar sangat sombong dan menganggap dirinya menguasai segala hal, sehingga bisa memberikan rekomendasi kepada Tuhan. Mereka bahkan mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan pendapat tentang hukum dan perintah Tuhan, serta menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Ayat ini kemudian meminta Rasul Saw dan kaum Muslim agar tidak minder dan lemah terhadap perkataan kaum musyrik, karena mereka hanya segolongan kecil masyarakat yang menentang kebenaran dan tidak akan mampu memadamkan cahaya agama Allah Swt.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pemberian hidayah kepada masyarakat melalui para nabi adalah manifestasi dari rahmat Tuhan yang maha luas.
2. Penetapan syariat bagi manusia dilakukan oleh Allah Swt sendiri, karena Dia adalah pencipta alam semesta dan pengatur segala urusan alam.
3. Kelompok yang menentang kebenaran pada akhirnya akan kalah dan binasa, meskipun memiliki kekuatan dan kekayaan.