Lintasan Sejarah 19 April 2016
Hari ini, Selasa tanggal 19 April 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 11 Rajab 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 31 Farvardin 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Anbari, Mufassir Al-Quran Lahir
1166 tahun yang lalu, tanggal 11 Rajab 271 Hq, Abu Bakar Muhammad yang lebih dikenal dengan Ibnu Anbari, ahli bahasa dan penafsir al-Quran lahir di kota Baghdad.
Setelah mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu al-Quran, Ibnu anbari kemudian mempelajari hadis dengan tekun. Ibnu Anbari dikenal sebagai ulama yang memiliki kekuatan hapalan yang cemerlang, tapi pada saat yang sama sangat rendah hati ketika berada di depan murid-muridnya.
Selain mengajar dan mendidik murid-muridnya beliau juga meninggalkan karya berharga seperti Adab al-Katib dan Dhamair al-Quran.
Ibnu Anbari meninggal dunia pada hari Idul Fitri tahun 328 Hq di usia 57 tahun.
Ibnu Asakir Wafat
866 tahun yang lalu, tanggal 11 Rajab 571 Hijriah, Ibnu Asakir, sejarawan dan ahli hadis terkenal, meninggal dunia di kota Damaskus.
Selama hidupnya, ia mempelajari al-Quran, hadis, fiqih dan ushul fiqih dari para ulama Damaskus. Ibnu Asakir juga menyempurnakan ilmu dengan melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Ia mendatangi pusat-pusat keilmuan di kota Bagdad, Kufah, Maushul, Naisyapur, Marw, Isfahan, dan Hamedan.
Karya-karya Ibnu Asakir mencapai 134 buah buku, yang paling terkenal berjudul "Sejarah Damaskus" yang berisikan geografi historis dan biografi para ilmuwan dan ahli hadis Damaskus.
Inggris Mundur dari Iskandariah
209 tahun yang lalu, tanggal 19 April tahun 1807, menyusul kekalahan yang dialami tentara Inggris dalam melawan pasukan Mesir, tentara Inggris akhirnya terpaksa mundur dari pelabuhan Iskandariah.
Pemerintah Inggris yang saat itu berencana untuk memperluas kawasan penjajahannya, memutuskan untuk menaklukkan Mesir yang ketika itu merupakan bagian dari wilayah Imperium Ottoman. Dengan cara ini, Inggris berharap bisa menundukkan Imperium Ottoman.
Pada awal pertempuran, Iskandariah sempat diduduki oleh tentara Inggris, namun Muhammad Ali Pasha, pemimpin Mesir saat itu, dengan bantuan dari rakyat dan ulama yang mengeluarkan fatwa jihad, berusaha keras mempertahankan Mesir. Kaum muslim Mesir dengan gigih berjuang melawan tentara Inggris yang memiliki persenjataan yang lebih lengkap dan modern sehingga akhirnya tentara Inggris mundur dan meninggalkan Mesir.
Agha Najafi Quchani Wafat
72 tahun yang lalu, tanggal 31 Farvardin 1323 Hs, Sayid Mohammad Hassan bin Sayid Mohammad meninggal dunia dalam usia 67 tahun dan dikebumikan di Huseiniah beliau di Quchan. Makam beliau kini menjadi tempat ziarah masyarakat.
Sayid Mohammad Hassan bin Sayid Mohammad yang lebih dikenal dengan Agha Najafi Quchani lahir sekitar tahun 1256 Hs di desa Khosrouiyeh, kota Quchan di Provinsi Khorasan. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar agamanya di Quchan, Sabzavar dan Mashad, kemudian pergi ke Isfahan di usia 20 tahun. Setelah tinggal selama empat tahun di Isfahan dan berguru pada Akhond Kashani, Mirza Jahangir Khan Qashqai, Sheikh Abdolkareem Gazi dan Sayid Mohammad Baqir Darcheh-i, beliau kemudian pindah ke Najaf. Di Najaf beliau berguru kepada Akhond Khorasani dan Syeikh al-Syariah Isfahani.
Agha Najafi Quchani mencapai derajat ijtihad di usia 30 tahun dan setelah tinggal dan belajar selama 20 tahun di Najaf, beliau kembali ke kampung halamannya. Beliau menghabiskan umurnya selama 25 tahun di Quchan untuk mendidik murid dan membimbing masyarakat serta mengelola hauzah ilmiah kota ini.
Beliau banyak meninggalkan karya seperti Siahat-e Gharb dar Kaifiat-e Alam Barzakh, Sair Arwah Pas az Marg dan Siahat-e Sharq yang merupakan karya paling penting beliau yang juga memuat biografinya dari kecil hingga mencapai derajat ijtihad.
K.H. Abdul Wahid Hasyim, Pahlawan Nasional Wafat
63 tahun yang lalu, tanggal 19 April 1953, K.H. Abdul Wahid Hasyim, Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), wafat di kota Cimahi dan dimakamkan di Tebuireng, Jombang.
K.H, Abdul Wahid Hasyim adalah pahlawan nasional Indonesia dan mantan Menteri Negara Kabinet Presidensial.
Tahun 1939 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A la Indonesia) sebuah badan federasi partai dan organisasi islam di zaman pendudukan Belanda. Pada tanggal 24 Oktober 1943, Wahid Hasyim diangkat menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menggantikan MIAI. Selaku pemimpin Masyumi, Wahid Hasyim merintis pembentukan Barisan Hizbullah yang membantu perjuangan umat Islam untuk mewujudkan kemerdekaan. Selain aktif dalam gerakan politik, tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Menjelang kemerdekaan tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.