Lintasan Sejarah 25 April 2016
Hari ini, Senin tanggal 25 April 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 17 Rajab 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 6 Ordibehesht 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Allamah Syeikh Sulaiman Bahrani Wafat
316 tahun yang lalu, tanggal 17 Rajab 1121 Hq, Allamah Syeikh Abu al-Hasan Sulaiman bin Abdullah bin Ali bin Hasan al-Mahauzi yang lebih dikenal dengan Muhaqqia al-Bahrani meninggal dunia dalam usia 46 tahun.
Allamah Syeikh Sulaiman Bahrani merupakan ulama besar Syiah di awal abad 12 Hijriah dan lahir di pertengahan bulan Ramadan 1076 Hq. Beliau dikenal dengan keilmuwannya di bidang ilmu Hadis, Rijal dan Sejarah.
Selain banyak menulis karya ilmiah seperti al-Isyarat fil al-Islam, as-Syifa fi al-Hikmat al-Nazhariah dan al-Mi’raj, beliau juga berhasil mendidik murid-murid yang kelak menjadi ulama besar seperti Syeikh Abdullah Samahiji dan Sayid Hasyim Bahrani penulis Tafsir al-Burhan dan Syeikh Ahmad Bahrani.
Ayatullah Khansari Lahir
166 tahun yang lalu, tanggal 17 Rajab 1271, Ayatullah al-Udzma Haji Sayid Abu Thurab Khansari, seorang ulama besar Iran, terlahir ke dunia di kota Khansar, Iran.
Ayatullah Khansari mempelajari berbagai ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, hikmah dan tafsir dari para ulama di zamannya sehingga akhirnya beliau sendiri menjadi ulama terkemuka.
Beliau banyak meninggalkan karya penulisan di bidang agama, diantaranya berjudul, "Qashdus-Sabil" di bidang ushul fiqih dan "Mishbahus-shalihin" dibidang ushuluddin. Beliau meninggal pada tahun 1346 Hijriah.
Kiai Haji Mas Mansur, Pahlawan Nasional Wafat
70 tahun yang lalu, tanggal 25 April 1946, Kiai Haji Mas Mansur, pahlawan nasional Indonesia wafat pada umur 49 tahun.
Kiai Haji Mas Mansur meninggal di tahanan saat ditanggkap oleh NICA. Ia adalah seorang tokoh Islam dan pahlawan nasional Indonesia. Mas Mansur juga banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot. Pikiran-pikiran pembaharuannya dituangkannya dalam media massa.
Majalah yang pertama kali diterbitkan bernama Suara Santri. Majalah ini terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Melalui majalah itu Mas Mansur mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan.
Mas Mansur juga banyak melakukan gebrakan. Sebelum menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Mas Mansur sebenarnya sudah banyak terlibat dalam berbagai aktivitas politik umat Islam. Setelah menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, ia pun mulai melakukan gebrakan politik yang cukup berhasil bagi umat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) bersama KH Ahmad Dahlan dan KH. Wahab Hasbullah yang keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).
Demikian juga ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Mas Mansur termasuk dalam empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang terkenal dengan empat serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Mas Mansur.
Demonstrasi Anti Perang Vietnam
45 tahun yang lalu, tanggal 25 April tahun 1971, demonstrasi besar-besaran menentang perang Vietnam berlangsung di Washington, AS. Demonstrasi yang dihadiri oleh sekitar 200.000 orang ini merupakan salah satu reaksi besar yang ditunjukkan oleh rakyat AS atas kebijakan perang yang diambil oleh pemerintah mereka di Vietnam.
Dalam Perang Vietnam yang dimulai tahun 1964 itu, AS mengirimkan 500 ribu pasukannya dan puluhan ribu dari mereka tewas atau luka-luka.
Meningkatnya protes dan tekanan dari dalam negeri serta kekalahan beruntun yang dialami tentara AS di Vietnam, akhirnya membuat AS terpaksa menarik pasukannya dari Vietnam tahun 1975.
PBB Tetapkan Irak Menggunakan Senjata Kimia Terhadap Iran
31 tahun yang lalu, tanggal 6 Ordibehesht 1364 Hs, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi mengutuk penggunaan senjata kimia oleh Irak dan perang yang dipaksakan kepada Iran.
Ketidakpedulian lembaga-lembaga internasional terkait pelanggaran undang-undang penggunaan senjata kimia oleh rezim Irak terhadap Iran semakin hari tidak dapat diterima oleh negara-negara di dunia. Semua ini diakibatkan dari sikap lembaga-lembaga ini yang ingin menyaksikan rezim Baath, Irak dapat mengalahkan Iran dalam Perang 8 Tahun.
Namun prediksi tersebut tidak benar. Karena korban yang berjatuhan akibat penggunaan senjata kimia dan dampak psikologinya tidak begitu memperngaruhi kekuatan pertahanan Iran. Irak mengetahui benar kenyataan ini, sehingga pada operasi Badr, pasukan negara ini menggunakan senjata kimia lebih banyak dari yang sudah-sudah. Hanya dalam 5 hari, dari tanggal 22 hingga 27 Isfand 1363 Hs, lebih dari 30 jenis senjata kimia yang dipakai.
Dampak luas penggunaan senjata kimia oleh Irak perlahan-lahan mulai menjadi perhatian masyarakat internasional. Akhirnya, sekjen PBB waktu itu setelah melakukan pertemuan dengan wakil-wakil dari Iran dan Irak mengutuk penggunaan senjata kimia.
Tapi sayangnya, Dewan Keamanan PBB tidak bersedia mengeluarkan resolusi mengutuk penggunaan senjata kimia dan merasa cukup dengan mengeluarkan pernyataan yang isinya mengutuk penggunaan senjata kimia oleh rezim Saddam.