Lintasan Sejarah 2 Mei 2016
Hari ini, Senin tanggal 2 Mei 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Rajab 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 13 Ordibehesht 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Benteng Khaibar Ditaklukkan Imam Ali as
1430 tahun yang lalu, tanggal 24 Rajab tahun 7 Hijriah, benteng Khaibar milik Yahudi berhasil ditaklukkan oleh Imam Ali as.
Peristiwa ini bermula dari kaum Yahudi yang terus-menerus memusuhi Islam, membangun tujuh benteng kuat di Khaibar yang terletak di utara kota Madinah dan dari benteng itu, mereka melancarkan gangguan dan serangan terhadap kaum muslimin.
Pada tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah menyampaikan berita gembira tentang akan runtuhnya benteng Khaibar. Tak lama kemudian, pasukan muslimin mengepung Khaibar, namun ada dua benteng yang tak kunjung bisa ditaklukkan. Rasulullah kemudian bersabda, "Besok bendera perang akan aku serahkan kepada seseorang yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan diapun dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya."
Keesokan harinya, Rasul menyerahkan bendera perang kepada Imam Ali as dan setelah melalui pertempuran hebat, Imam Ali berhasil menaklukkan benteng Yahudi itu.
Filsuf Ibnu Nashr Al-Farabi Wafat
1098 tahun yang lalu, tanggal 25 Rajab 339 Hq, Ibnu Nashr Al-Farabi, filsuf muslim meninggal dunia di usia 79 tahun di kota Damaskus dan dimakamkan di kota itu.
Muhammad bin Tharkhan, filsuf besar Islam yang lebih dikenal dengan Abu Nashr al-Farabi lahir pada tahun 260 Hq di desa dekat kota Farab di Khorasan lama. Farabi tergolong cendekiawan muslim terbesar di abad ke-4 Hijriah dan di bidang filsafat beliau disebut al-Muallim al-Tsani (Guru Kedua) dan Malik al-Hukama.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kota Farab, beliau kemudian pergi ke kota Baghdad dan belajar bahasa Arab, matematika dan filsafat. Farabi dikenal sangat jenius dan dengan cepat beliau menyelesaikan pendidikannya dalam kondisi tidak memiliki apa-apa.
Farabi juga belajar kedokteran, logika, musik dan bahasa. Penguasaannya terhadap sejumlah bahasa menginspirasinya untuk menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Beliau sendiri meninggalkan karya tak ternilai seperti Ara'u Ahli al-Madinah al-Fadhilah, Ihsa al-Ulu, al-Qiyas dan puluhan karya lainnya.
Mirza Habibollah Ghaani Shirazi Meninggal
162 tahun yang lalu, tanggal 13 Ordibehesht 1233 Hs Mirza Habibollah Ghaani Shirazi meninggal dunia dalam usia 47 tahun dan dikebumikan di komplek suci Hazrat Abdolazim as di kota Ray.
Mirza Habibollah Ghaani Shirazi lahir kedua tahun 1186 Hs. Beliau pindah ke Mashad untuk menuntut ilmu agama dan membuat puisi. Setelah belajar selama 10 tahun Ghaani berhasil menguasi ilmu-ilmu agama seperti nahwu, bayan, prinsip-prinsip arsitektur, perbintangan, filsafat, teologi, filsafat dan puizi. Setelah itu Mirza Habibollah Ghaani untuk beberapa waktu bekerja di kerajaan Naser ad-Din Shah Qajar.
Di kerajaan Naser ad-Din Shah, Mirza Habibollah Ghaani menjadi pembaca kidung pujian terhadap raja dan keluarganya. Beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya di Tehran dan melayani Mohammad Shah dan Naser ad-Din Shah.
Mirza Habibollah Ghaani merupakan penyair pertama Iran yang menguasai bahasa Perancis. Beliau dikenal dengan puisi panjang yang memuat sifat-sifat yang indah dengan diksi yang tepat dan penguasaan luar biasa akan sinonim. Oleh karenanya, dalam ucapannya lafad lebih ditekankan ketimbang makna.
Selain buku kumpulan syair yang dimilikinya, penyair ini juga memiliki buku bernama Parishan yang ditulis dengan gaya Gulistan milik Sa'di Shirazi.
Perang Irak-Inggris Dimulai
75 tahun yang lalu, tanggal 2 Mei tahun 1941, dimulailah perang antara Irak dan Inggris.
Alasan utama terjadinya peperangan ini adalah berlanjutnya penguasaan Inggris terhadap ladang-ladang minyak milik Irak dan besarnya campur tangan yang dilakukan Inggris dalam urusan dalam negeri Irak.
Pendudukan Inggris di Irak dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia Pertama yang mengakibatkan kekalahan Imperium Ottoman sehingga wilayah kekuasaannya, di antaranya Irak, dibagi-bagi oleh negara-negara pemenang perang. Inggris kemudian mengangkat Amir Feisal, putra Husain, penguasa Mekah, sebagai raja di Irak.
Namun, secara bertahap partai-partai politik di Irak mulai bangkit dan berusaha untuk meraih kemerdekaan Irak. Rashid Ali Gilani, salah seorang pejuang kemerdekaan Irak, memimpin perang melawan Inggris dengan mengharapkan dukungan dari Jerman. Namun, bantuan dari Jerman tak kunjung sampai, sehingga pejuang Irak terpaksa menelan kekalahan dan Inggris kembali menduduki Irak. Sementara itu, Rashid Ali sendiri melarikan diri ke luar negeri.