Lintasan Sejarah 3 Mei 2016
Hari ini, Selasa tanggal 3 Mei 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 25 Rajab 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 14 Ordibehesht 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Imam Musa Al-Kazhim Gugur Syahid
1254 tahun yang lalu, tanggal 25 Rajab 183 Hijriah, Imam Musa al-Kazhim as, keturunan suci Rasulullah generasi kedelapan, gugur syahid di dalam penjara Dinasti Abbasiah.
Imam Musa as lahir pada tahun 128 Hijriah di Abwa', sebuah daerah di antara Mekah dan Madinah. Ketika Imam Musa berusia 20 tahun, ayah beliau, yaitu Imam Shadiq as, gugur syahid dan sejak saat itu, beliau mengemban tampuk keimamahan dan kepemimpinan kaum Muslimin. Selama 35 tahun periode keimamahan beliau, berbagai kesulitan dan tantangan berat silih berganti datang menghadang.
Selama itu pula, periode perkembangan keilmuan dan peradaban Islam mencapai kegemilangannya. Melalui para ilmuwan, ahli fiqih, dan ahli agama yang menjadi murid-murid Imam Musa as, keilmuan dan pemahaman Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia. Ketinggian kedudukan Imam Musa di tengah kaum Muslimin, membuat Khalifah Harun al-Rasyid, dari Dinasti Abbasiah yang berkuasa pada zaman itu, merasa kedudukannya terancam. Dia lalu menangkap dan memenjarakan Imam Musa as. Akhirnya, pada tahun 183 Hijriah, Imam Musa diracun atas perintah Harun al-Rasyid dan gugur syahid.
Salah satu di antara hadis-hadis Imam Musa as berbunyi, "Cara terbaik untuk mendekati Tuhan adalah dengan mengenal-Nya, kemudian mendirikan shalat, berbuat baik kepada orang tua, serta meninggalkan sikap hasud dan sombong.
UUD Baru Jepang Diberlakukan
69 tahun yang lalu, tanggal 3 Mei tahun 1947, UUD Jepang pasca perang secara resmi diberlakukan.
UU yang penyusunannya dipenuhi campur tangan Komandan Tertinggi Tentara Sekutu, Douglas Mac Arthur itu, melucuti segala kekuasaan Kaisar Hirohito, kecuali kekuasaan simbolis, menetapkan aturan hak-hak warga negara, dan menghapuskan hak Jepang untuk melakukan perang.
Jenderal Mac Arthur merupakan orang yang paling berperan dalam kekalahan Jepang. Pada tanggal 2 September 1946, ia secara resmi menerima kekalahan Jepang di atas kapal AS di Teluk Tokyo. Sesuai aturan penyerahan kekalahan dalam perang, Kaisar Hirohito dan pemerintahan Jepang menjadi subjek dari Komandan Tertinggi Tentara Sekutu yang berkedudukan di Jepang. Pos inilah yang diisi oleh Jenderal Douglas Mac Arthur dan ia tinggal di Jepang selama lima setengah tahun untuk memimpin rekonstruksi dalam pemerintahan, industri, dan sosial yang sesuai dengan keinginan AS.
Demonstrasi Mahasiswa Perancis
48 tahun yang lalu, tanggal 3 Mei tahun 1968, mahasiswa Perancis memulai demonstrasi besar-besaran untuk memprotes kebijakan pemerintah mereka dalam masalah pendidikan.
Dalam waktu singkat, demonstrasi mahasiswa ini juga diikuti oleh sekitar 10 juta buruh yang memprotes kecilnya gaji dan fasilitas kesejahteraan yang diberikan kepada mereka. Akibatnya, perekonomian Perancis selama beberapa minggu lumpuh. Demonstrasi ini baru berhenti setelah pemerintah bersedia memenuhi beberapa tuntutan mahasiswa dan buruh. Setahun kemudian, dalam sebuah referendum, Presiden Perancis saat itu, Charles de Gaulle terpaksa menelan kekalahan dan mengundurkan diri.
Demontsrasi mahasiswa ini menghasilkan banyak perubahan besar dalam kehidupan Perancis, di antaranya sistem pendidikan di Perancis yang lebih bebas, kemudahan masuknya imigran asing, norma kehidupan yang semakin liberal, serta semakin diakuinya keseteraan antara perempuan dan laki-laki.
Ayatullah Sayid Amir Qazvini Wafat
22 tahun yang lalu, tanggal 14 Ordibehesht 1373 Hs, Ayatullah Sayid Amir Qazvini meninggal dunia di usia 77 tahun dan dimakamkan di komplek suci makam Sayidah Fathimah Maksumah, Qom.
Ayatullah Sayid Amir Mohammad Kazemi Qazvini lahir di Kuwait dari keluarga agamis dan ilmuwan tahun 1296 Hs. Sejak usia 8 tahun beliau mengikuti ayahnya ke Basrah, Irak dan di sana beliau mulai belajar ilmu bahasa Arab dan fiqih. Pada usia 18 tahun beliau menuju Najaf untuk menuntut ilmu-ilmu agama lebih dalam. Setelah menyelesaikan tingkat menengah ilmu-ilmu agama, beliau mulai mempelajari fiqih dan ushul fiqih untuk persiapan berijtihad.
Ayatullah Qazvini belajar kepada Ayatullah Sayid Abolhossein Isfahani, Syeikh Muhammad Ridha Al Yasiin dan lain-lain. Setelah bertahun-tahun belajar, akhirnya Ayatullah Sayid Muhsin al-Hakim, Sayid Abdulhadi Shirazi, Sayid Mahmoud Shahroudi dan Syeikh Husein Kasyif al-Ghita memberikannya ijazah ijtihad.
Setelah ayah beliau meninggal dunia, Ayatullah Qazvini kembali ke Basrah dan mulai mengajar, menulis dan menuntun umat Islam. Ayatullah Qazvini dikenal tidak kenal takut saat menyampaikan risalah agama Islam dan untuk itu beliau menanggung segala kesulitan dan rongrongan mereka yang tidak menyukai beliau. Langkah yang ditempuh beliau ini tidak dapat diterima oleh musuh dan penentangnya di partai Baath, Irak. Mereka membakar rumahnya dan beliau terpaksa kembali ke Kuwait tahun 1350 Hs.
Beliau meninggalkan sekitar 40 karya ilmiah dan kebanyakan di bidang fiqih, ushul fiqih, teologi dan sejarah.