Lintasan Sejarah 6 Mei 2016
Hari ini, Jumat tanggal 6 Mei 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Rajab 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 17 Ordibehesht 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Imam Husein dan Rombongan Bergerak dari Madinah ke Mekah
1377 tahun yang lalu, tanggal 28 Rajab 60 Hq, Imam Husein as bersama rombongan bergerak dari Madinah ke Mekah.
Setelah kematian Muawiyah bin Abu Sufyan, Khalifah Pertama dan Pendiri Bani Umayah pada 15 Rajab tahun 60 Hq, Yazid bin Muawiyah langsung diangkat menggantikan ayahnya. Tanpa menunggu lama, Yazid mengirimkan surat kepada gubernur Madinah yang memerintahkannya agar mengambil baiat dari Imam Husein as dan beberapa orang tokoh Madinah lainnya.
Imam Husein as menolak untuk berbaiat kepada Yazid. Kepada mereka yang datang kepadanya dan menuntut beliau agar berbaiat, Imam Husein as berkata, "Orang seperti saya tidak akan pernah membaiat orang seperti Yazid yang fasiq." Tapi gubernur Madinah bersikeras agar beliau menyatakan baiatnya kepada Yazid.
Imam Husein as pada 28 Rajab 60 Hq, terpaksa meninggal kota Madinah menuju Mekah, sehingga kebangkitan beliau ini dapat mengungkap boroknya pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Pada akhirnya, perjalanan beliau ini berakhir dengan epik dan perjuangan sempurna Imam Husein as di Karbala, tepat di hari kesepuluh bulan Muharram yang dikenal dengan Asyura.
Allamah Yazdi Wafat
100 tahun yang lalu, tanggal 28 Rajab 1337 Hijriah, Ayatullah Al-Udzma Muhammad Kadzim Thabatabai Yazdi, yang terkenal dengan nama Allamah Yazdi, ahli fiqih terkenal Iran, meninggal dunia.
Setelah melalui pendidikan dasarnya, Allamah Yazdi melanjutkan pendidikan ke Najaf hingga mencapai derajat mujtahid. Salah satu di antara guru beliau adalah Mirza Shirazi. Kemudian, beliau mengabdikan diri dalam pengajaran agama, mendirikan yayasan sosial, masjid, dan sekolah-sekolah.
Allamah Yazdi meninggalkan banyak karya penulisan, di antaranya kitab "Urwatul Wutsqa" dan "Bustan-e Niyaz."
Tentara AS di Philipina Menyerah Kepada Jepang
74 tahun yang lalu, tanggal 6 Mei tahun 1942, seluruh tentara AS di Filipina menyerah tanpa syarat kepada pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Homma.
Pasukan AS di Filipina yang dikomandani Letjen Wainwright, saat itu berada di Pulai Corregidor yang merupakan satu-satunya basis Sekutu di Filipina yang masih bertahan. Namun, ketika tentara Jepang akhirnya mencapai pantai utara pulau itu, Letjen Wainwright memutuskan untuk menyerah karena kondisi pasukannya yang memburuk.
Sejumlah 11.500 tentara Sekutu digiring Jepang ke penjara di Manila dan ditahan hingga tahun 1945 ketika Jepang menyerah kepada Sekutu.
Maurice Maeterlinck Meninggal Dunia
67 tahun yang lalu, tanggal 6 Mei tahun 1949, Maurice Maeterlinck, seorang penulis terkenal asal Belgia, meninggal dunia dalam usia 87 tahun.
Dia menuntut ilmu hukum dan sempat berpraktek sebagai pengacara, namun merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu. Maurice Maeterlinck kemudian tinggal di Paris dan menggeluti bidang sastra.
Karya pertamanya adalah kumpulan puisi berjudul Serres chaudes yang terbit tahun 1889. Pada tahun yang sama, Maeterlinck menerbitkan karya dramanya yang pertama berjudul La Princesse Maleine, sebuah karya yang membuatnya langsung terkenal. Maeterlinck juga menghasilkan karya-karya berupa prosa, di antaranya berjudul Wisdom and Destiny. Pada tahun 1911 Maeterlinck mendapat hadiah Nobel di bidang sastra.
Mehrdad Avesta, Penyair Iran Wafat
25 tahun yang lalu, tanggal 17 Ordibehesht 1370 Hs, Merhdad Avesta, penyair besar Iran meninggal dunia dalam usia 63 tahun.
Mohammad Reza Rahmani yang lebih dikenal dengan nama Mehrdad Avesta, anak Mohammad Sadegh, penyair komtemporer Iran, lahir pada 1306 Hs di kota Boroujerdi. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya. Setelah menyelesaikan S1 di bidang filsafat, ia diangkat sebagai pengajar.
Mehrdad Avesta melakukan perjuangan politiknya bertahun-tahun sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran. Pada kumpulan syairnya dan juga di buku "Tirana", ia menggunakan nada keras saat mengritik rezim Shah. Avesta membaca puisi indah tentang Revolusi Islam dan juga ketika memuji Imam Khomeini ra.
Avesta banyak melakukan penelitian terhadap puisi para penyair besar seperti Hafez, Khaqani dan sastra legenda dunia. Ia punya kelebihan luar biasa dalam membaca pelbagai bentuk puisi, khususnya kasidah. Ia pasca Revolusi Islam Iran menjabat sebagai penasihat budaya presiden Iran. Di tahun-tahun terakhir dari usianya, Avesta diangkat sebagai Kepala Dewan Puisi Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam.
Penyair besar Iran ini meninggalkan karya-karya besar di bidang puisi dan roman seperti Imam, Hamaseh Digar dan Karavan Rafteh.