Mar 27, 2021 16:01 Asia/Jakarta
  • Zainuddin bin Nuruddin bin Ahmad \'Amili Juba\'i atau Syahid Tsani.
    Zainuddin bin Nuruddin bin Ahmad \'Amili Juba\'i atau Syahid Tsani.

Salah satu ulama besar lain Syiah yang lahir di Jabal Amil, Lebanon adalah Zainuddin bin Nuruddin bin Ahmad 'Amili Juba'i atau yang terkenal dengan Syahid Tsani.

Syahid Tsani adalah seorang faqih dan ilmuwan besar Islam dan Syiah. Ia lahir pada 13 Syawal tahun 911 Hijriyah di tengah keluarga ulama di daerah berpenduduk Syiah, Jabal Amil, Lebanon. Banyak dari leluhur dan keluarga Syahid Tsani tercatat sebagai ilmuwan dan ulama besar, itulah sebabnya keluarga Sahid Tsani dikenal sebagai “Silsilah al-Dzahab” yang berarti mata rantai emas.

Abu Mansur Jamaluddin Hassan, putra Syahid Tsani adalah salah satu ulama besar dan penulis buku terkenal “Ma’alim al-Ushul.” Buku ini menjadi salah satu kitab rujukan hauzah ilmiah pada masa itu. Oleh karena itu, Abu Mansur dikenal sebagai Shahib Ma'alim. Cucu Syahid Tsani juga merupakan seorang faqih yang terkenal bernama, Sayid Muhammad bin Ali Amili atau Shahib al-Madarik, salah satu kitab fiqih yang diakui.

Dua orang cucu Syahid Tsani yang berasal dari putra Shahib Ma'alim, juga termasuk di antara ulama besar yang lahir dari mata rantai emas ini. Demikian juga dengan keluarga Sadr seperti, Imam Musa Sadr, Syahid Mohammad Baqir Sadr dan saudarinya, Bintul Huda Sadr juga berasal dari keturunan Syahid Tsani.

Ilustrasi para ulama.

Syahid Tsani dan Syahid Awal, sama-sama berasal dari daerah Jabal Amil yang terletak di Lebanon Selatan. Keduanya adalah tokoh besar, pakar hukum agama, dan mujtahid besar Syiah, dan keduanya dibunuh dan gugur syahid atas tudingan Syiah.

Ulama Syiah yang gugur syahid di tangan musuh-musuh Ahlul Bait dan Islam jumlahnya sangat banyak, tetapi Syahid Awal dan Syahid Tsani dikenal dengan sebutan ini karena mereka merupakan tokoh besar dan pilar fiqih mazhab Syiah dan keduanya juga dibunuh dengan cara yang kejam.

Syahid Tsani – yang hidup pada abad ke-10 Hijriyah – dengan upaya yang tak kenal lelah menyebarkan ajaran fiqih Ahlul Bait Nabi as ke berbagai belahan dunia. Ulama besar ini meninggalkan hampir 80 karya tulis dan risalah di berbagai bidang, di mana masing-masing menjadi kitab pedoman bagi para faqih setelahnya. Bukunya yang terkenal “al-Raudhaha al-Bahiyah” masih menjadi kitab rujukan sampai sekarang.

Buku tersebut ditulis untuk menjabarkan kandungan kitab “al-Luma'ah al-Dimasyqiyah” yang ditulis oleh Syahid Awal dan merupakan buku fiqih Syiah yang paling terkenal dan diajarkan di hauzah-hauzah ilmiah. Karya besar lain yang diwariskan oleh Syahid Tsani adalah kitab “Masalik al-Afham” yang ditulis untuk menjelaskan isi kitab “Syarai' al-Islam” karya Muhaqqiq Hilli.

Syahid Tsani, seperti kebanyakan ulama dan ilmuwan besar dunia Islam, mulai menimba ilmu pengetahuan sejak usia dini dengan mempelajari al-Quran. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri dan setelahnya, ia belajar dengan para kerabat dekat.

Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar di kampung halamannya, Syahid Tsani berkelana ke kota-kota dan desa-desa sekitar untuk belajar kepada guru-guru lain. Jabal Amil adalah sebuah kota santri yang memiliki banyak hauzah ilmiah yang bagus dan banyak ulama besar mengajar di sana.

Syahid Tsani kemudian pergi ke daerah Karak, tempat kelahiran Muhaqqiq Karaki dan menimba ilmu dari ulama yang luar biasa ini. Waktu itu Muhaqqiq Karaki belum melakukan hijrah ke Iran.

Rasa dahaga akan ilmu dan kesempurnaan terus mendorong Syahid Tsani untuk berkelana ke daerah lain dan menanggung berbagai kesulitan di tengah fasilitas seadanya pada zaman itu. Perjalanan ini bukan untuk kegiatan bisnis atau wisata, tetapi karena rasa haus untuk mengabdi kepada Islam yang lurus dan Ahlul Bait Nabi as.

Situasi politik dan sosial saat itu serta kekuasaan Dinasti Utsmaniyah di Dunia Arab telah menciptakan kondisi yang sulit bagi masyarakat Syiah terutama para ulama mereka. Namun, kecintaan kepada Ahlul Bait telah menghadirkan tekad baja dalam diri mereka untuk mengalahkan segala rintangan.

Syahid Tsani pergi ke Damaskus dan kemudian ke Mesir, untuk mempelajari ilmu fiqih, geometri, logika, tafsir, dan ilmu-ilmu lain dengan para guru besar. Dia melanjutkan perjalanannya ke Baitul Maqdis dan Romawi Timur. Syahid Tsani bertemu dan berdiskusi dengan para cendekiawan di daerah tersebut serta mengajar di sekolah-sekolah agama di sana.

Syahid Tsani kemudian menetap sementara di Baalbek, salah satu kota penting dan bersejarah di Lebanon, dan memikul tanggung jawab sebagai pemimpin hauzah ilmiah di kota tersebut. Dia mulai diterima sebagai marja’ besar sehingga para cendekiawan dari berbagai pelosok datang ke Baalbek untuk menimba ilmu pengetahuan darinya.

Syahid Tsani telah menimba ilmu dari ulama dari berbagai mazhab di sejumlah negara Islam sehingga ia sepenuhnya menguasai khazanah keilmuan dari lima mazhab yaitu, Syiah Imamiyah, Hanafi, Syafi'i, Maliki, dan Hanbali. Oleh karena itu, Syahid Tsani mengajar semua ajaran lima mazhab selama menetap di Baalbek. Dia mengeluarkan fatwa untuk pengikut setiap mazhab berdasarkan akidah dan kitab-kitab mereka sendiri serta menjawab pertanyaan umat.

Shayid Tsani menduduki posisi ilmiah yang tinggi dan meskipun memiliki aktivitas yang padat di bidang mengajar, menulis, mengelola hauzah, dan mendidik ulama, namun ia tetap bersifat rendah hati dan pekerja keras.

Di tengah kesibukannya, Syahid Tsani tetap memberikan perhatian penuh kepada keluarganya dan di sore hari, dia biasanya pergi dengan keledainya ke luar kota untuk mengumpulkan kayu bakar untuk kebutuhan keluarganya. Rumahnya selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang untuk bertanya persoalan ilmiah atau sekedar bertamu. Syahid Tsani sendiri menjamu mereka dan tidak pernah menunjukkan rasa lelah.

Sebagian ulama besar di abad-abad berikutnya dan para ulama kontemporer menganggap kepribadian spiritual Syahid Tsani memiliki kemiripan dengan kepribadian para imam maksum as dari segi ketakwaan dan akhlak.

Syeikh Husain bin Abdulsamad Harisi, ayah dari Syeikh Bahai, berkata, “Suatu hari aku bertemu Syahid Tsani dan melihatnya larut dalam pikiran. Dia tenggelam dalam pikirannya. Aku kemudian bertanya tentang penyebabnya. Dia berkata kepadaku, “Saudaraku! Aku pikir aku akan menjadi syahid kedua (setelah syahid pertama), karena di alam mimpi aku melihat Sayid Murtadha Allamul Huda (ulama terkenal pada abad ketiga dan keempat H) menggelar acara perjamuan yang dihadiri oleh para ilmuwan dan ulama Syiah. Ketika aku tiba di acara tersebut, Sayid Murtadha bangkit dari duduknya dan mengucapkan selamat kepadaku dan memintaku untuk duduk di samping Syahid Awal.” Oleh karena itu, aku berasumsi bahwa aku akan menjadi Syahid Tsani.”

Syahid Tsani, seperti banyak syuhada lainnya, menjadi korban kebodohan dari sebagian individu. Mengenai sebab terbunuhnya Syahid Tsani dikisahkan bahwa dua orang dari warga Jaba’ datang kepadanya untuk meminta sebuah putusan hukum atas perkara mereka. Dia pun memutuskan perkara itu sesuai dengan aturan dan norma agama.

Rumah dan Masjid Syahid Tsani di Lebanon.

Namun, orang yang divonis bersalah tidak terima dan mendatangi hakim Shida dan menuduh Syahid Tsani sebagai kafir dan perusak akidah karena ia adalah seorang Syiah. Hakim melaporkan kasus ini kepada Sultan Salim, penguasa Romawi (Utsmaniyah), dan atas perintahnya dikirim seseorang untuk menangkap Syahid Tsani, tetapi tidak menemukannya.

Syahid Tsani telah berangkat ke Mekkah untuk menghindari bahaya, tetapi para utusan Sultan menangkapnya di tengah jalan dan membunuhnya tanpa perintah dari Sultan, lalu memenggalnya. Menurut sebuah riwayat, jasad Syahid Tsani dibiarkan tergeletak selama tiga hari dan kemudian dibuang ke laut. Riwayat lain menyebutkan bahwa masyarakat menemukan jasad ulama tersebut tanpa kepala dan menguburkannya tanpa mengenalnya.

Mendengar kabar pembunuhan Syahid Tsani, Sultan murka terhadap para utusannya, karena melakukan sebuah eksekusi besar tanpa seizinnya. Sultan kemudian mengeksekusi pembunuh Syahid Tsani. Dikatakan bahwa Syahid Tsani gugur pada 5 Rabiul Awal tahun 966 H. (RM)