Friksi Akut dalam Tubuh G7
Sejak tampilnya Donald Trump sebagai Presiden AS pada Januari 2017, tidak hanya masyarakat internasional yang mengalami banyak ketegangan karena kebijakan dan langkahnya, tetapi juga dunia Barat, khususnya hubungan transatlantik yang sekarang memasuki fase bergolak.
Trump mengacu kebijakan unilateral dan sewenang-wenang, berusaha memaksakan sejumlah pendekatan dan keinginan terhadap mitra-mitra Eropa Washington. Trump berulang kali mengkritik Eropa karena rendahnya kontribusi mereka di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan pada saat yang sama, dengan keluar dari Kesepakatan Iklim Paris 2015, Washington telah menyebabkan gangguan terhadap negara-negara Eropa. Sementara itu, keluarnya Amerika dari kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) yang diumumkan Trump pada 8 Mei 2018, benar-benar bertentangan dengan keinginan Uni Eropa dan Troika Eropa di mana dalam hal ini, Eropa telah menekankan upaya untuk menjaga JCPOA.
Sengketa Trump tidak hanya terbatas pada mitra Eropa mereka, melainkan tuntutan dan langkah Presiden Amerika Serikat ini di bidang perdagangan dan politik proteksionismenya dengan memberlakukan tarif impor besar, telah mempengaruhi pertemuan puncak para pemimpin negara-negara G7 baru-baru ini. Kelompok ini terdiri dari tujuh negara industri maju: Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, Italia, Kanada dan Jepang.
KTT G7, yang diadakan di Kanada pada tanggal 8 dan 9 Juni 2018, menyaksikan kontroversi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Trump di satu sisi dan para pemimpin Eropa dan Perdana Menteri Kanada di sisi lain. Sehingga beberapa analis sekarang menggunakan istilah Grup 6+1 dan bukan Grup 7, yang menunjukkan friksi besar dalam kelompok ini dan ketidakjelasan masa depannya.
Unilateralisme Donald Trump telah mengisolasi Amerika, yang telah menjadi semakin nyata ketika keluar JCPOA dan memaksakan tarif impor terhadap sekutu terdekat AS. Pada pertemuan G7 terbaru, Trump juga mencoba mendorong masukanya negara lain yaitu Rusia dan menjadi G8. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya, negara-negara Eropa dalam G7 sedang mempersiapkan pembentukan "G6".
Pokok pembentukan G7 pada tahun 1975 adalah fokus ekonomi dan perdagangan, dan seharusnya dengan menciptakan kelompok ekonomi dunia maju yang akan mencegah masalah dagang masuk ke kancah politik di antara anggotanya. Namun keputusan terbaru Presiden AS tentang pemberlakuan tarif tambahan pada impor baja dan aluminium, sebenarnya telah menciptakan perselisihan tajam dalam G7. Situs Politico menyebut Presiden AS Donald Trump, secara nyata telah terisolasi dalam KTT G7 di Kanada, dan yang pasti keluarnya AS dari JCPOA serta pemberlakuan tambahan atas impor logam juga termasuk di antara faktor yang mempengaruhi keterasingan AS.
Di sisi lain, perselisihan dan kemungkinan perpecahan di Grup 7 telah meningkat secara signifikan pada KTT di Kanada dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan peningkatan unilateralisme Trump telah menyebabkan munculnya perselisihan dan friksi di antara anggota Eropa, Kanada dan Washington, di mana enam anggota G7 bahkan telah siap menghadapi keputusan Trump menarik Amerika keluar dari kelompok tersebut.
Pemberlakuan tarif tambahan atas impor baja dan aluminium dari Eropa, Kanada dan Meksiko, keluar dari Kesepakatan Iklim Paris dan dari Perjanjian Perdagangan Bebas (TPP), serta potensi keluarnya Washington dari Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) serta pada akhirnya keluarnya AS dari JCPOA merupakan di antara contoh ketidakpedulian Trump terhadap sekutu AS di Eropa dan Kanada serta pelanggaran komitmen internasional yang memperburuk perslisihan antara Amerika Serikat dan anggota G7 dari Eropa dan Kanada.
Frans Timmermans, Wakil Ketua Komisi Eropa, meminta Uni Eropa lebih serius dibanding masa lalu dalam menentukan nasibnya mengingat sikap Presiden Amerika Serikat yang sulit diprediksi. Timmerman berpendapat bahwa untuk pertama kalinya sejak 1945, Presiden AS menolak bergerak lebih dinamis dan lebih terpadu dengan Eropa demi memperkokoh hubungan kedua pihak.
Agenda resmi KTT G7 di Kanada mencakup isu-isu seperti peninjauan pertumbuhan ekonomi komprehensif , kesetaraan gender dan pengokohan posisi perempuan, perdamaian dan keamanan internasional, tugas-tugas masa depan, perubahan iklim dan kondisi benua-benua. Namun menyusul peruncingnya friksi antara Eropa dan Amerika Serikat, terkait tarif impor produk strategis yaitu baja dan alumunium oleh Amerika Serikat maka dua masalah tersebut mempengaruhi lebih dari masalah lain pada KTT G7 di Kanada.
Kanselir Jerman Angela Merkel secara serius tidak setuju dengan AS dan mengatakan bahwa pada konferensi tersebut dia akan berdialog dengan Presiden AS Donald Trump khususnya tentang Iran dan tarif impor. Politik unilateral dan egois Trump terkait JCPOA dikritik oleh Eropa dan Kanada bahkan kesepakatna itu diberlakukan. Dalam hal ini, pasca pertemuan Presiden Perancis, Emmanuel Macron, dengan Perdana Menteri Justin Trudeau, keduanya menekankan dukungan terhadap kebijakan multilateralisme yang kokoh.
Elysee menyatakan tidak akan menerima pernyataan yang mengecam kesepakatan nuklir dengan Iran atu yang mengklaim bahwa Republik Islam tidak melaksanakan komitmennya. Emmanuel Macron menjelang pelaksanaan KTT G7 dalam pesan Twitter-nya menyatakan ketidakpuasannya terhadap langkah Trump dalam menaikkan tarif impor. Sementara Trump juga membalas pernyataan itu dengan mengeluhkan kebijakan perdagangan Uni Eropa.
Dengan demikian, diharapkan KTT G7 di Kanada sama seperti kondisi Konferensi sebelumnya di Italia, yang menggarisbawahi penentangan anggota kelompok tersebut terhadap Amerika Serikat soal Kesepakan Iklim Paris dan keluarnya Washington dari kesepakatan tersebut. Sampai muncul istilah G 6+1, yang menunjukkan kesenjangan antara anggota kelompok tersebut dan Amerika Serikat.
Selama KTT G7 berlangsung, terjadi perdebatan sengit khususnya Jerman dan Perancis dengan Trump, yang menimbulkan ketidakpastian dalam perilisan pernyataan akhir. Pada akhirnya, pertemuan dua hari KTT G7 di Kanada berakhir, berubah menjadi kegagalan besar bagi tujuh negara industri dunia untuk mencapai kemufakatan dan menyelesaikan masalah yang diperselisihkan.
KTT G7 sejak awal telah dipengaruhi oleh perselisihan hebat antara enam anggotanya dan AS terkait beberapa masalah seperti, JCPOA, tarif impor dan Kesepakatan Iklim Paris. Perselisihan yang bukan hanya tidak terselesaikan, meski telah dilakukan dialog multilateral dan bilateral pemimpin Jerman, Perancis dan Inggris, dan Kanada dengan Presiden AS Donald Trump, melainkan semakin meruncing. Sedemikian rupa sehingga para pemimpin G7 mengeluarkan pernyataan akhir dan pernyataan itu dirilis, namun Trump dalam sebuah langkah tidak terduga, menarik dukungannya terhadap pernyataan bersama tersebut.
Dengan demikian, sebagaimana pada KTT G7 tahun 2017 di Italia, terjadi perselisihan pendapat serius antara Amerika Serikat dan anggota lain dalam G7. Fenomena tersebut yang melandasi para analis menggunakan istilah Grup 6+1 dan bukannya Grup 7. Adapun pertemuan tahun ini menunjukkan bahwa masalahnya sudah keluar dari sekedar slogan melainkan sudah membentuk kenyataan.
Sebagaimana ditekankan oleh Donald Tusk, Ketua Dewan Eropa, kritikan utama negara-negara anggota G7 adalah karena Amerika Serikat menyoal sebuah sistem internasional yang telah dibentuk sesuai ketentuan. Dengan kata lain, Washington alih-alih mendukung kepatuhan pada undang-undang dan ketertiban internasional, telah berubah menjadi pelanggar terbesar komitmen dan ketentuan internasional.
Contoh nyatanya adalah keluarnya Washington dari JCPOA di mana kesepakatan tersebut ditandatangani oleh pemerintah AS sebelumnya. Justin Trudeau, Perdana Menteri Kanada, usai konferensi, memperingatkan kepada Presiden AS bahwa jika dia bersikeras memberlakukan kenaikan tarif impor yang tidak adil, Kanada juga akan segera membalas langkah tersebut. Pernyataan itu membuat geram Trump sehingga dia menginstruksikan kepada perwakilan AS di G7 untuk tidak mendukung pernyataan akhir KTT G7.
Tampaknya politik unilateral Trump yang terfokus pada America First yang berubah menjadi posisi kuda-kuda Washington dalam berbagai masalah lain yang hanya memfokuskan kepentingan AS dan tanpa memperhatikan pertimbangan, pendapat dan kepentingan negara lain, bahkan sekutunya, telah menyeret AS semakin terisolasi. KTT G7 di Kanada telah memberikan sebuah kesimpulan penting bagi Eropa untuk mandiri.