Uni Eropa dan Tantangan Independensi Strategis (2)
-
Bendera negara anggota Uni Eropa
Dinamika global menuntut Uni Eropa mengambil sikap lebih tegas menghadapi unilateralisme yang dilancarkan mitra dekatnya, AS. Saat ini independensi strategis Uni Eropa menghadapi batu ujian lebih besar dibandingkan sebelumnya setelah Presiden AS mengambil langkah yang menyulut konflik baru dengan Eropa yang dilakukan di berbagai bidang.
Selain bidang keamanan dan pertahanan, sepak terjang AS juga mengancam independen strategis Uni Eropa di ranah ekonomi. Kebijakan proteksionisme ekonomi yang dilancarkan Presiden AS, Donald Trump menyulut kecaman dari negara-negara dunia, terutama pihak Eropa, karena mengancam perekonomiannya.
Pemberlakukan kenaikan tarif 25 persen untuk komoditas baja, dan 10 persen untuk alumunium dari negara lain ke AS tidak hanya memicu kecaman, tapi juga menyulut aksi balasan dengan melakukan tindakan serupa. Masalah ini menimbulkan perang dagang antara AS dengan negara lain, termasuk mitranya sendiri, Eropa. Ironinya hingga kini, Trump masih saja mengeluarkan ancaman akan meningktan tarif produk otomotif dari Eropa.
Unilateralisme AS, terutama di bidang ekonomi telah memicu gejolak di pasar global. Eropa memandang genderang perang dagang yang ditabuh AS terhadap berbagai negara besar dunia menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi global. Ketua Dewan Eropa, Donald Tusk mengatakan, Eropa harus menyiapkan skenario terburuk menghadapi kebijakan Presiden AS, Donald Trump. Sebab langkah yang diambil Trump menunjukkan dirinya tidak puas dengan yang apa sudah diberikan pihak lain, dan terus meminta tambahan yang dilakukan dengan menaikan tarif. Dengan demikian, perang dagang merupakan contoh paling jelas dari kebijakan pemerintahan Trump.
Langkah destruktif Trump lainnya adalah pembatalan perjanjian perdagangan bebas Trans Atlantik. Padahal, pihak Eropa selama ini mengharapkan implementasi perjanjian tersebut bisa mendorong pertumbuhan ekonominya.
Tampaknya Uni Eropa harus mencari mitra baru ekonomi dan perdagangannya. Sebab, AS dalam genggaman Trump bukan mitra yang bisa dipercaya. Oleh karena itu, Eropa mulai melirik peningkatan hubungan dengan kekuatan ekonomi baru seperti Cina,dan India.
Uni Eropa juga ingin meluaskan kerja samanya dengan kawasan lain seperti Amerika Latin, Timur Tengah dan lainnya, bahkan dengan Rusia sekalipun. Sejumlah negara Eropa seperti Jerman memandang perlunya menjalin hubungan dangan dengan Moskow, walaupun kedua pihak memiliki perselisihan dalam masalah Crimea. Jerman termasuk pendukung utama pembangunan jalur pipa gas Nord Stream-2 untuk meningkatkan ekspor gas dari Rusia ke Jerman.
Berbagai langkah yang diambil AS selama ini bertentangan dengan kepentingan Uni Eropa. Contoh paling jelas adalah masalah JCPOA. Meskipun AS berulangkali meminta Eropa supaya mengamini kebijakan Gedung Putih untuk menekan Iran, tapi ternyata Eropa masih mendukung berlanjutnya perjanjian nuklir internasional tersebut.
Kesepakatan nuklir yang tercapai antara Iran dan kelompok 5+1 pada Juni 2015 lalu menjadi perjanjian internasional penting yang dicapai demi mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional.
Tapi keluarnya AS dari JCPOA merusak dinamika yang mulai terbangun cukup kondusif. Meskipun demikian, empat negara yang menandatangani JCPOA dan Uni Eropa tetap mempertahankan keberlanjutan perjanjian internasional ini.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengatakan, Iran dan Eropa menunjukkan tekadnya untuk melanjutkan implementasi penuh dan efektif kesepakatan nuklir Iran, JCPOA demi menghormati kesepakatan internasional. Ia menambahkan, Uni Eropa mendesak berlanjutnya kerja sama dengan Iran di bidang aktivitas nuklir damai.
Pernyataan senada juga disampaikan Komisaris Energi Uni Eropa, Miguel Arias Cañete yang mengatakan, menjaga JCPOA sebagai bagian dari penghornatan terhadap kesepakatan internasional dan berkaitan dengan keamanan dunia.
Statemen para pejabat tinggi Uni Eropa ini menunjukkan sikapnya mengenai JCPOA setelah AS menyatakan keluar dari perjanjian internasional itu. Pihak Eropa memandang JCPOA sebagai contoh dari sebuah kesepakatan multilateral yang bsia menjadi model bagi penyelesaian sengketa internasional. Oleh karena itu, Uni Eropa mengejar implementasi kebijakan untuk melanjutkan interaksi di bidang keuangan, perdagangan, dan energi dengan Iran.
Pihak Eropa akan menyampaikan mekanisme khusus finansial dalam bentuk SPV yang akan mendukung transaksi perdagangan dengan Iran tanpa menggunakan dolar AS.
Tampaknya, dukungan kuat publik dunia terhadap JCPOA, terutama kelompok 4+1 mengirimkan sinyal buruk bagi Trump yang mengira dengan sanksi ilegalnya bisa menekan Iran supaya bertekuk lutut dan mengamini dikte Washington.
Hubungan antara Eropa dan AS sat ini dipengaruhi oleh kebijakan dan langkah blunder Trump. Unilateralisme yang diusung Trump mempengaruhi seluruh dimensi hubungan yang selama ini dibangun AS dengan dunia, terutama Eropa sebagai mitra dekatnya. Sebagaimana dikatakan Ketua Dewan Eropa, Donald Tusk, "Meskipun kami terus berupaya untuk menjaga persatuan negara-negara Barat, tapi hubungan dua arah samudera Atlantik berada dalam tekanan akibat kebijakan Trump. Para pemimpin Eropa berkeyakinan bahwa friksi dalam masalah ini melampui sekedar urusan perdagangan,".
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini menanggapi pernyataan Trump yang menyebut Uni Eropa sebagai musuhnya. Dia mengatakan, "Kami telah menyatakan dengan jelas siapa teman-teman kami, Amerika Serikat dan saya berulang kali menegaskan bahwa pergantian pemerintahan tidak akan mengubah realita ini."
Eropa dan AS telah bertindak sebagai sekutu transatlantik sejak Perang Dunia Kedua, tetapi perimbangan politik berubah sejak Donald Trump berkuasa di Washington dan sikap-sikapnya telah menimbulkan banyak kekhawatiran bagi sekutu Washington di Eropa. Banyak pejabat Eropa berpendapat bahwa kebijakan Trump telah memperlihatkan watak asli Amerika, di mana tidak ada yang namanya teman dan musuh, dan ia telah mengabaikan sistem hukum internasional.
Mantan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan, "Mundurnya Amerika dari peran internasionalnya bukan hanya karena seorang presiden, tetapi ini adalah sebuah perubahan fundamental yang juga tidak akan kembali seperti sebelumnya setelah pemilu mendatang."
Dengan kata lain, para pemimpin Eropa percaya bahwa mulai sekarang mereka harus mengambil sikap yang berbeda dalam berurusan dengan Amerika, dukungannya kepada Washington sudah harus dikurangi, dan fokus untuk mengambil sikap dan tindakan.
Jadi, dapat diprediksi bahwa hubungan transatlantik akan terus bergerak menuju divergensi, dan perselisihan kedua pihak akan semakin tajam dari waktu ke waktu. Banyak dari pemimpin dan pejabat tinggi Uni Eropa juga memandang sikap Trump sebagai tidak terukur, tidak rasional, dan pada akhirnya akan merugikan blok Barat dan ini harus dilawan. Berlanjutnya friksi antara AS dan Eropa akan melemahkan hubungan antara dua mitra strategis ini, dan sebaliknya memperkuat independensi strategis Uni Eropa, meskipun dibayangi masalah internal.