Rusia: Ukraina Gunakan Bahan Kimia terhadap Tentara dan Warga Sipil Rusia
https://parstoday.ir/id/news/daily_news-i186114-rusia_ukraina_gunakan_bahan_kimia_terhadap_tentara_dan_warga_sipil_rusia
Pars Today – Seorang pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa pasukan Ukraina menggunakan bahan kimia dan beracun terhadap tentara dan warga sipil Rusia.
(last modified 2026-02-26T02:40:36+00:00 )
Feb 26, 2026 09:39 Asia/Jakarta
  • Kementerian Luar Negeri Rusia
    Kementerian Luar Negeri Rusia

Pars Today – Seorang pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa pasukan Ukraina menggunakan bahan kimia dan beracun terhadap tentara dan warga sipil Rusia.

Melaporkan dari TASS, IRNA pada Kamis, 26 Februari 2026, Kirill Logvinov, Direktur Departemen Organisasi Internasional Kementerian Luar Negeri Rusia, mengatakan bahwa dengan melanggar komitmen internasional berdasarkan Konvensi Senjata Kimia (CWC), unit bersenjata Ukraina secara sistematis menggunakan bahan beracun terhadap tentara dan warga sipil Rusia di zona operasi militer khusus.

Ia menambahkan bahwa semua kasus ini telah didokumentasikan oleh instansi berwenang Rusia.

Menurut diplomat ini, Rusia secara rutin membagikan data terkait dengan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), Dewan Keamanan PBB, dan Majelis Umum PBB. Rusia juga menginformasikan komunitas internasional tentang pelanggaran CWC oleh rezim Kyiv dan situasi aktual di zona operasi militer khusus.

Tuduhan "Bom Kotor"

Sebelumnya, seorang pejabat tinggi pertahanan Rusia menuduh Ukraina menyelundupkan bahan radioaktif dan mempersiapkan pembuatan "bom kotor" untuk melancarkan serangan.

Kepala Pasukan Perlindungan Radiasi, Kimia, dan Biologi Rusia, Alexei Rtishchev, dalam konferensi pers menuduh Ukraina melakukan "pemerasan nuklir" dengan melanggar peraturan internasional dan membahayakan keamanan kawasan.

Menurutnya, pengiriman bahan bakar radioaktif bekas telah dipindahkan melalui Polandia dan Rumania tanpa memberi tahu Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Ia juga mengklaim operasi ini dilakukan di bawah pengawasan Andriy Yermak, mantan penasihat Presiden Volodymyr Zelenskyy.(sl)