Rusia Latihan Militer di Indonesia, Australia Waspada
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i48953-rusia_latihan_militer_di_indonesia_australia_waspada
Pangkalan udara Australia meningkatkan kewaspadaan menyusul Rusia yang melakukan latihan militer di perairan bebas di utara Papua dengan mengirimkan dua pesawat pengebomnya.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Des 31, 2017 07:36 Asia/Jakarta

Pangkalan udara Australia meningkatkan kewaspadaan menyusul Rusia yang melakukan latihan militer di perairan bebas di utara Papua dengan mengirimkan dua pesawat pengebomnya.

Awal Desember lalu Rusia melakukan latihan militer di wilayah perairan netral di luar Indonesia dengan turut mengirimkan dua pesawat pengebom jenis Tu-95MS.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, pesawat pengebom tersebut mampu membawa persenjataan nuklir mengangkut lebih dari 100 personil.

Dilaporkan kantor berita Rusia, RT, latihan tersebut menjadi patroli udara pertama yang dilakukan Kremlin di wilayah Pasifik dan diluncurkan dari Indonesia.

Pakar keamanan nasional Peter Jennings dari Institut Kebijakan Strategis Australia mengatakan, melalui latihan tersebut, Rusia menunjukkan ingin memperluas pengaruhnya ke bagian lain dunia.

"Latihan itu seperti pengingat bahwa Rusia ada di sini. Mereka ingin berperan dalam keamanan di wilayah Pasifik dan menggunakan kekuatan militernya untuk menunjukkan hal tersebut," ujar Jennings kepada ABC.

Pesawat pengebom Tu-95MS tersebut berangkat dari pangkalan di Pulau Biak, yang masuk wilayah Indonesia, dan mengudara selama sekitar delapan jam.

pembom Rusia, Tu-95MS di Biak, Papua

"Penerbangan di atas perairan netral di Arktik, Arktik utara, Laut Hitam dan Laut Kaspia, serta Armada Pasifik dilakukan secara reguler oleh pesawat terbang jarak jauh."

"Semua misi yang dilakukan Angkatan Udara Rusia sesuai dengan hukum udara internasional," kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan dilansir The Guardian.

Departemen Pertahanan Australia mengonfirmasi adanya peningkatan kewaspadaan pada periode yang sama dengan latihan yang dilakukan Angkatan Udara Rusia.

"Peningkatan kewaspadaan (oleh Angkatan Pertahanan Australia) sesuai untuk merespon keadaan yang berkembang."

"Awal Desember ada peningkatan kesiapan dalam periode singkat," kata juru bicara departemen pertahanan.

Kehadiran sejumlah pesawat militer dan sekitar 110 serdadu pemerintah Rusia di Bandara Biak, Papua, Indonesia, sejak 4 Desember lalu, ternyata membikin Australia curiga. Mereka menduga keberadaan prajurit dan sejumlah burung besi itu melakukan pengintaian terhadap negeri kanguru.

Dilansir dari laman ABC News, Minggu (31/12), Kementerian Pertahanan Australia sampai sempat menerapkan status siaga di Pangkalan Angkatan Udara di Darwin, karena menduga angkatan udara Rusia melakukan misi mata-mata. Sebab, mereka tidak hanya membawa dua pesawat pengangkut Ilyushin (Il-76) membawa 81 personel, tetapi juga menurunkan dua pesawat pembom taktis Tupolev (Tu-95) yang bisa membawa hulu ledak nuklir.

"Angkatan Bersenjata Australia sengaja meningkatkan kewaspadaan buat menghadapi situasi yang berkembang," demikian pernyataan disampaikan Kementerian Pertahanan Australia.

Walau demikian, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan mereka tidak melakukan misi pengintaian di Biak. Selama lima hari, lanjut mereka, dua pesawat Tu-95 cuma menggelar latihan di atas perairan Samudra Pasifik yang netral, lebih dari delapan jam.

Pangkalan Udara Royal Australian Air Force (RAAF) di Darwin, Australia, sempat meningkatkan kewaspadaan pada awal Desember ini.

Peningkatkan kewaspadaan ini terjadi seiring dengan kehadiran beberapa pesawat dan lebih dari 100 personel Rusia di Pangkalan Udara di Biak, Indonesia, yang terletak di bagian timur Provinsi Papua.

Saat singgah selama lima hari, dua pesawat pengebom strategis TU-95 terbang ke arah Samudera Pasifik bagian selatan dalam misi patroli pertama mereka.

Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran pihak keamanan Australia bahwa Rusia sedang mengumpulkan beberapa informasi militer yang berharga. Menteri Pertahanan Rusia mengatakan, pesawat pengebom mereka diterbangkan dengan misi kewaspadaan udara di perairan netral yang terletak di Samudera Pasifik bagian selatan. Misi patroli ini berlangsung selama lebih dari delapan jam.

Kepada ABC, Departemen Pertahanan Australia mengatakan Australian Defence Force (DEF) atau pasukan pertahanan Australia akan menjaga kesiagaan mereka dalam taraf sepantasnya untuk merespons keadaan yang sedang berkembang. Akan tetapi, Departemen Pertahanan Australia tidak menyebutkan aktivitas Rusia secara spesifik dalam pernyataannya.

"Tidak ada kejadian pesawat terbang asing yang tak terjadwal atau tanpa pemberitahuan yang beroperasi di wilayah udara Australia selama periode ini," tegas Departemen Pertahanan Australia dalam menjawab isu ini, seperti dilansir ABC, Sabtu (30/12).

Pihak Departemen Pertahanan Australia juga menyangkal jika Pangkalan Udara RAAF di Darwin pernah berada dalam status lockdown. Meski begitu, sumber tersebut menyadari bahwa pada Desember awal terjadi peningkatan kesiapsiagaan dalam kurun waktu yang singkat di Pangkalan Uadara RAAF di Darwin.

"Ini tak akan mengejutkan saya jika pasukan militer kita meningkatkan level kewaspadaan mereka sebagai respons (kehadiran pesawat Rusia)," ujar salah satu ahli di bidang pertahanan Australia sekaligus Direktur Australian Strategic Policy Peter Jennings.

Ia menilai wajar jika timbul kekhawatiran pihak Rusia mengumpulkan informasi penting. Alasannya, tak mungkin pihak Rusia datang jauh-jauh tanpa ada keinginan untuk melihat sekutu signifikan Amerika Serikat yang eroperasi di luar RAAF di Darwin dan RAAF di Tindall yang terletak sedikit ke arah selatan. (Kompas, Republika, Merdeka)