Imlek dan Pesan Presiden RI Joko Widodo
-
Imlek 2018
Warna merah selalu menghiasi perayaan Tahun Baru Imlek. Mulai dari hiasan, pakaian, sampai amplop untuk angpao pun berwarna merah. Merah adalah warna utama dari Tahun Baru Cina. Warna itu dipercaya melambangkan masa depan yang cerah dan bahagia.
Kepercayaan tersebut muncul dari legenda tentang Nian, mahluk mitos yang dulu dikatakan sering mengganggu masyarakat saat tahun baru. Nian yang berkepala singa tersebut akan datang dan mengambil anak, harta, dan hasil panen dari masyarakat Tionghoa. Masyarakat kemudian mengetahui bahwa Nian takut pada tiga hal, yaitu api, kebisingan, dan warna merah.
Sejak saat itu, warna merah selalu menghiasi perayaan Tahun Baru Cina karena dianggap dapat mengusir kehadiran Nian. Bahkan, dalam salah satu tradisi Tahun Baru Cina atau Imlek, masyarakat akan menaruh makanan di depan pintu untuk mengusir Nian. Dari legenda tersebut, warna merah akhirnya dipercaya sebagai warna keberuntungan.
Seorang anak memperhatikan lentera untuk memperingati tahun baru Imlek di Chengdu, Cina (24/1). Warga Cina libur selama seminggu untuk memperingati tahun baru tersebut.
Selain itu, masyarakat juga menaruh lentera merah di depan pintu. Lentera itu diletakkan bukan hanya untuk hiasan, tetapi untuk tujuan tertentu. “Lentera merah yang digantung di pintu (digunakan) untuk mengusir kesialan,” tulis Karen Kartz dalam buku yang berjudul My First Chinese New Year.
Bukan hanya lentera, amplop angpao juga umumnya berwarna merah. Seperti diberitakan Tempo.co, angpao adalah uang keberuntungan yang diberikan saat perayaan Tahun Baru Cina, khususnya untuk anak-anak. Angpao yang diberikan untuk anak-anak disebut ysuìqián yang secara harfiah berarti mengusir setan atau raksasa Nian yang akan mengganggu mereka.
Uang angpao saat Imlek itu nantinya akan diselipkan dalam amplop merah dengan hiasan. Mengapa harus berwarna merah? Sebab, warna amplop merah dipercaya sebagai lambang keberuntungan dan diharapkan dapat mengusir roh jahat. Pemberian angpao dengan amplop merah ini bukan hanya sekadar tradisi, melainkan sebagai bentuk pertukaran harapan baik untuk pemberi maupun penerimanya.
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek 2569. Ucapan yang juga berisi harapan itu disampaikan Jokowi melalui akun twitternya, @Jokowi hari ini, Jumat, 16 Februari 2018. "Selamat Tahun Baru Imlek 2569 bagi yang merayakan. Badan sehat, hati damai dan selalu bahagia. Kemakmuran menyertai kita semua," kata Jokowi.
Tak hanya Jokowi, beberapa pejabat negara juga menyampaikan ucapan Imlek dengan caranya masing-masing. Di antaranya adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon, dan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.
Zulkifli dalam ucapannya mengingatkan pesan keberagaman. "Selamat Tahun Baru Imlek untuk sahabat2ku yang merayakan. Doa & harapan semoga Tahun ini penuh keberuntungan. Selamat liburan, Selamat merayakan keberagaman. GONG XI FA CAI," kata Zulkifli melalui twitternya @ZUL_Hasan.
Fadli Zon tak sekedar memberi ucapan. "Selamat Tahun Baru Imlek 2569," kata Fadil melalui akun twitternya @fadlizon. Ucapannya dilengkapi gambar dan fotonya yang mengenakan jas dan peci.
Anies mengucapkan Imlek melalui video melalui akun twitternya @aniesbaswedan. "Selamat Merayakan Tahun Baru Imlek 2569 Kongzili. Semangat berbagi kepada sesama, selalu hadir dalam perayaan Imlek. Semoga dengan semangat itu kita akan bisa membuat Jakarta yang lebih maju, Jakarta yang membahagiakan bagi semua," ujar Anies di video itu.
Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengajak masyarakat untuk mendoakan mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada momen perayaan tahun baru Cina atau Imlek ini. Menurut dia, Gus Dur telah mengajarkan bangsa soal menyikapi keberagaman.
“Di perayaan Imlek tahun ini, saya mohon secara khusus kita sisipkan juga doa untuk guru bangsa, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang telah memberikan teladan tentang pentingnya mensyukuri keberagaman sebagai rahmat dan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat, 16 Februari 2018.
Bamsoet berujar perayaan Imlek mempunyai makna penting bagi Indonesia. Sebab perayaan ini menunjukkan bahwa Indonesia menempatkan keberagaman sebagai kebanggaan yang tak boleh disia-siakan.
Menurut dia, keberagaman bukan hanya menjadi kekayaan nasional, melainkan telah menjadi roh bagi Indonesia. "Saya harap perayaan Imlek kali ini bisa membawa hikmah tentang pentingnya kita menghargai keberagaman,” ucapnya.
Bamsoet berujar perayaan Imlek tidak dimiliki oleh warga Indonesia keturunan Tionghoa saja. Saat ini Imlek telah menjadi perayaan bagi seluruh elemen suku bangsa.
Ia berharap melalui perayaan Imlek Indonesia bisa menjadi bangsa yang beradab dan menghargai keberagaman budaya, serta mengasihi sesama anak bangsa. “Selamat merayakan Imlek. Gong xi fa cai. Kedamaian dan kesejahteraan menyertai kita semua," kata dia.
Peringatan Imlek secara terbuka sempat dilarang oleh pemerintah Indonesia era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Namun saat Gus Dur menjadi presiden, Inpres itu dicabut dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000.