Kelompok Palestina Tingkatkan Kesiapan di Gaza Hadapi Kemungkinan Perang
-
Kelompok pejuang Palestina
Pars Today - Kelompok-kelompok Palestina di Jalur Gaza meningkatkan level kesiapan mereka dan menyusun rencana-rencana defensif tertentu sebagai persiapan menghadapi kemungkinan kembalinya operasi militer rezim Zionis.
Dilansir ISNA, 6 Mei 2026, di tengah ancaman rezim Zionis yang terus meningkat akan kemungkinan kembali berperang, kelompok-kelompok Palestina di Gaza menaikkan status siaga di antara anggota mereka.
Berdasarkan laporan kantor berita Palestina Ma'an, sumber-sumber lapangan di gerakan Hamas dan Jihad Islam menyatakan bahwa kelompok-kelompok Palestina di Gaza tengah menyusun "rencana-rencana defensif yang jelas" untuk digunakan jika Israel memutuskan melanjutkan perang dengan cara yang sama seperti operasi militer sebelumnya di Gaza.
Kekhawatiran di antara warga Gaza semakin meningkat akan meluasnya kembali perang setelah berbulan-bulan adanya perjanjian gencatan senjata antara kedua belah pihak sejak Oktober lalu. Gencatan senjata itu sendiri telah disertai sejumlah pelanggaran oleh rezim Zionis yang mengakibatkan gugurnya lebih dari 800 orang.
Menurut empat sumber dari kedua gerakan tersebut, rencana-rencana itu didasarkan pada pertahanan diri jika ancaman rezim Zionis benar-benar terjadi. Sumber-sumber ini menegaskan bahwa tidak ada rencana atau niat dari kelompok Palestina untuk memulai serangan apa pun.
Surat kabar Ibrani Maariv mengutip Eyal Zamir, Kepala Staf Militer Zionis, yang mengatakan beberapa hari lalu saat mengunjungi pasukannya di Lebanon bahwa pertempuran berikutnya bisa terjadi di Gaza, karena pertempuran di sana belum selesai. Zamir memperingatkan bahwa jika Hamas menghalangi proses pelucutan senjata, tentara Zionis akan terpaksa melanjutkan perang dengan kekuatan penuh. Pernyataan ini menunjukkan nada ancaman yang terus berlanjut dari pejabat militer Zionis terhadap situasi Gaza.
Pertemuan Netanyahu dan Mladenov
Sementara itu, Benjamin Netanyahu bertemu dengan Nikolay Mladenov, Koordinator Khusus PBB untuk proses perdamaian Timur Tengah, di kantornya di Quds yang diduduki, di tengah pelanggaran berulang rezim Zionis terhadap perjanjian Gaza yang membuat perjanjian itu berada di ambang kehancuran. Kedua pihak membahas perkembangan terbaru terkait isu Gaza. Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Palestina yang diduduki, juga hadir.
Mladenov, dalam unggahan di platform X setelah pertemuan itu, menulis, "Kami memiliki dialog positif dan konstruktif dengan Benjamin Netanyahu tentang jalan ke depan." Ia menambahkan, "Kami kembali menegaskan komitmen kami untuk sepenuhnya menerapkan rencana komprehensif 20 poin Presiden AS Donald Trump," dan menekankan bahwa mereka bekerja sama dengan semua pihak untuk mengubah komitmen ini menjadi tindakan nyata. "Ini membutuhkan pengambilan keputusan untuk mencapai kemajuan. Kami terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik bagi warga Israel dan Palestina."
Sebelumnya, rezim Zionis memberi Hamas tenggat waktu 60 hari (sejak akhir Februari) untuk menyerahkan senjatanya, tetapi gerakan tersebut menyatakan bahwa rezim itu tidak mematuhi komitmen tahap pertama.
Gaza kembali mengencangkan sabuk. Kelompok-kelompok Palestina tidak akan memulai, tetapi mereka bersiap jika diserang. Pelanggaran Zionis terhadap gencatan senjata telah menewaskan lebih dari 800 orang, dan kekhawatiran akan perang skala penuh kembali menghantui. Sementara itu, utusan PBB Mladenov dengan antusias mempromosikan kesepakatan masa depan bersama Netanyahu, saat PBB yang lebih luas hampir kehilangan kredibilitas di kawasan karena ketidakmampuannya menghentikan pertumpahan darah. Palestina tidak ingin perang, tetapi mereka tidak akan menyerah. Dan peringatan dari Kepala Staf Zionis Eyal Zamir memperjelas: Drakula tidak akan melepaskan leher korbannya dengan sukarela.(Sail)