Program Cina dan Rusia Menghadapi Unilateralisme Amerika
-
Bendera Cina dan Rusia
Perdana Menteri Cina dan Rusia mengkonfirmasikan tekad kedua negara untuk menghadapi serius kebijakan unilateralisme Amerika Serikat di dunia.
Li Keqiang dan Dimitry Medvedev di Beijing menyatakan bahwa mereka menentang unilateralisme Amerika Serikat dan tidak akan mengizinkan perubahan pada sistem multilateralisme dunia.
Perdana Menteri Cina dan Rusia menekankan bahwa unilateralisme adalah bahaya besar bagi dunia. Beijing dan Moskow telah memutuskan untuk melindungi sistem multilateral, termasuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam kerangka keamanan dan stabilitas dunia.
Kedua Perdana Menteri Cina dan Rusia juga sepakat untuk memperluas perdagangan lintas batas dan memperluas kerjasama di sektor energi, investasi, penerbangan, meningkatkan nilai transaksi dagang 100 miliar dolar, pariwisata, media, olahraga dan urusan pemuda.
Penekanan Rusia dan Cina pada kerjasama untuk menghadapi unilateralisme Amerika di kancah internasional adalah indikasi dari rencana serius oleh kekuatan-kekuatan besar dan saingan Gedung Putih untuk membuat perubahan dalam sistem internasional, sedemikian rupa sehingga otoritas Washington dipaksa untuk mengubah prosedur dimana Amerika sedang mencoba memainkan peran polisi dunia.
Meskipun menentang kebijakan unilateral Amerika Serikat oleh para pesaingnya ada dalam agenda presiden Amerika sebelumnya, tetapi sejak masa pemerintahan Donald Trump di negara itu, kebijakan Gedung Putih lebih dari masa lalu mendorong Cina, Rusia dan bahkan mitra Eropa Washington untuk konvergensi dalam menghadapi unilateralisme Amerika.
Presiden Donald Trump, di samping hubungan bilateral dengan negara-negara lain, membangun strategi menang-kalah untuk memaksimalkan manfaat negaranya sejalan dengan komitmennya dalam kerangka multilateralisme, termasuk dalam perjanjian regional dan internasional atas dasar strategi sepihak. Amerika telah keluar dari sejumlah perjanjian dan organisasi internasional demi strategi unilateralisme seperti perjanjian Iklim Paris, pakta NAFTA, Perjanjian Migrasi Internasional, Kovenan Internasional tentang Kebebasan Sipil, Perjanjian Trans-Pasifik, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO).
Trump mengklaim bahwa kehadiran Amerika dalam perjanjian regional dan internasional tidak memberikan manfaat apa pun bagi negaranya dan karenanya, model alternatifnya adalah bergerak menuju perjanjian bilateral dengan negara lain, terutama dalam perjanjian ekonomi, sehingga jika ada keputusan yang dibuat untuk mengakhiri kerjasama ini akan dengan segera keluar dari kesepakatan tersebut.
Kebijakan unilateralis Trump, khususnya dalam memberlakukan tarif tidak konvensional untuk mengimpor barang dari Cina dan beberapa negara lain, telah menyebabkan sistem internasional bergerak menuju pembentukan aliansi politik dan ekonomi baru. Tentu saja, bagian dari strategi unilateralisme Trump dalam bentuk sanksi terhadap negara-negara lain, dimana masalah ini telah mendorong negara-negara yang terkena sanksi untuk bekerja melawan Gedung Putih.
Vladimir E. Zakharov, pengamat internasional mengatakan, sanksi sepihak Amerika Serikat terhadap negara lain tidak konsisten dengan hukum internasional. Itu sebabnya kelanjutan kebijakan semacam itu terhadap negara-negara seperti Iran dan Rusia telah menyebabkan peningkatan isolasi internasional terhadap Washington.
Dalam situasi seperti itu, diprediksi bahwa bertentangan dengan yang dipikirkan Trump dan rekan-rekannya dari agenda unilateralisme di kancah internasional. Karena para pesaing Amerika Serikat menyebutnya "penangguhan dalam sistem internasional" justru memperkuat front penentang negara ini melawan kebijakan dan ekonomi Gedung Putih.