Rudal Balistik Khalij‑e Fars, Presisi Menyerang Kapal Perang
-
Rudal Balistik Khalij‑e Fars
Pars Today - Departemen Hubungan Masyarakat Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pelaksanaan Gelombang ke‑93 Operasi Janji Sejati-4 dan serangan terhadap pusat‑pusat konsentrasi dan dukungan tempur kelompok Zionis.
Menurut laporan Pars Today, Gelombang ke‑93 Operasi Janji Sejati-4 pada Jumat (03/04/2026) sore dilaksanakan terhadap target‑target di bagian utara dan jantung Wilayah Pendudukan. Gelombang ini dilakukan sebagai operasi bersama dengan Perlawanan Islam dan merupakan kombinasi dari rudal‑rudal berbahan bakar padat dan cair, jarak jauh, berpemandu, serta drone kamikaze.
Rudal balistik merupakan bagian penting dari kemampuan misil Iran dan dianggap sebagai salah satu senjata paling efektif di medan perang dengan kemampuan memberikan pukulan berat dan mematikan terhadap musuh. Salah satu pencapaian penting Iran dalam bidang misil laut dan anti‑kapal adalah rudal “Khalij‑e Fars”, yang dikembangkan dan dioperasikan untuk menghadapi kapal‑kapal musuh pada jarak jauh.
Peluncuran
Letnan Jenderal Mohammad Ali Jafari, Panglima Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) pada saat itu, pada 7 Februari 2011 (18 Bahman 1389 HS) dalam sebuah konferensi pers mengumumkan produksi massal rudal balistik dan cerdas terbaru IRGC untuk menghadapi target‑target laut. Ia menekankan bahwa musuh tidak memiliki kemampuan untuk melacak atau menetralkan rudal tersebut.
Rudal ini dirancang oleh pusat penelitian Angkatan Dirgantara IRGC dan diproduksi oleh Kementerian Pertahanan serta Dukungan Angkatan Bersenjata, dan diberi nama “Khalij‑e Fars”. Rudal balistik Khalij‑e Fars mampu, jika terjadi ancaman maritim, memberikan pukulan keras kepada musuh tanpa memerlukan dukungan udara atau laut.
Pada waktu itu, setelah IRGC melakukan uji coba rudal Khalij‑e Fars, Badan Intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat dalam sebuah laporan mengumumkan bahwa tingkat akurasi rudal antikapal tersebut berada di bawah 10 meter dan menulis bahwa rudal Khalij‑e Fars mampu menargetkan seluruh peralatan militer laut musuh Iran di Teluk Persia dan Laut Oman.
Dengan demikian, rudal Khalij‑e Fars memiliki urgensi ganda dalam menghadapi ancaman maritim di Teluk Persia dan Laut Oman. Menurut berbagai sumber, penggunaan rudal ini sejak tahun 2012 dimulai dan hingga kini dalam beberapa latihan militer juga telah berhasil diluncurkan dengan sukses. Pada dasarnya, hanya dua negara yang memiliki kemampuan untuk membuat dan mengoperasikan rudal balistik antikapal: Tiongkok dan Iran. Tiongkok memiliki rudal jarak menengah “Dong Feng‑21” (DF‑21), sementara Iran dengan melakukan modifikasi pada varian darat rudal Fateh berhasil memperoleh kapasitas tersebut.
Tinjauan Umum
Khalij‑e Fars adalah sebuah rudal balistik antikapal, berbahan bakar padat, satu tahap, berkecepatan hipersonik, dengan jarak jangkau 300 kilometer, yang didesain berdasarkan rudal Fateh‑110. Sebagai generasi keempat dari keluarga rudal Fateh‑110 yang sukses, akurat, populer, dan sepenuhnya lokal, rudal ini diproduksi secara massal. Rudal tersebut dilengkapi dengan hulu ledak seberat 650 kilogram dan memanfaatkan kombinasi sistem pemandu yang membuatnya sulit dilacak dan dicegat.
Perbedaan utama antara Khalij‑e Fars dan rudal antikapal jenis cruise adalah pada cara kerja dan kecepatannya. Rudal cruise umumnya memiliki kecepatan subsonik dan terbang secara horizontal, sementara rudal Khalij‑e Fars melaju dengan kecepatan hipersonik, ditembakkan secara balistik dari permukaan tanah, dan dari ketinggian dapat menghantam kapal perang atau kapal musuh secara vertikal.
Rudal ini juga mengunci target pada tahap akhirnya, yang berarti rudal tersebut dilengkapi dengan sistem deteksi dan identifikasi sasaran. Selain itu, sistem yang memiliki kemampuan “lock‑on” dan dilengkapi dengan prosesor cerdas (berbasis kecerdasan buatan) tentu memiliki kemampuan untuk mengejar target yang bergerak. Jarak jangkau 300 kilometer dari rudal Khalij‑e Fars hampir mencakup seluruh wilayah Teluk Persia dan Laut Oman.
Dari bentuk desain hidung rudal Khalij‑e Fars dapat dilihat perbedaannya dengan rudal Fateh. Pada ujung hulu ledaknya, rudal Khalij‑e Fars menggunakan sistem elektro‑optik canggih untuk mendeteksi target saat memasuki kembali atmosfer. Hal ini memungkinkan rudal untuk bertindak secara mandiri dalam tahap serangan, menemukan targetnya sendiri, dan mengarah menuju sasaran secara otonom.
Dengan kecepatan tinggi sekitar tiga kali kecepatan suara (sekitar 1.020 meter per detik), rudal ini memiliki energi kinetik yang sangat besar. Saat menyelam menuju target di fase akhir penerbangan, yang menambah energi tersebut, rudal menghasilkan daya destruktif yang sangat tinggi dan membuat target hampir tidak memiliki waktu untuk bereaksi.
Hulu ledak rudal Khalij‑e Fars sangat kuat, dilengkapi dengan hulu ledak bahan peledak seberat 650 kilogram dan menggunakan kombinasi sistem pemandu yang membuatnya sulit dicegat. Untuk sebuah rudal balistik antikapal, angka ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan rudal jelajah antikapal konvensional.
Sebagai contoh, rudal jelajah antikapal Nour hanya memiliki hulu ledak seberat 160 kilogram. Namun, hulu ledak Khalij‑e Fars setara dengan tujuh bom konvensional Mark‑82 atau tiga bom Mark‑83. Ledakan sebuah bom umumnya menghasilkan tiga efek utama: benturan, gelombang kejut, dan efek panas. Perbedaan utama antara rudal dan bom adalah kecepatan tumbukan. Karena itu, dengan kecepatan tumbukan yang sangat tinggi, rudal Khalij‑e Fars dapat menembus dek kapal perang hingga kedalaman yang tidak dapat diprediksi, tergantung pada jenis fuze dan tipe hulu ledak.
Secara umum, daya ledak dari tumbukan bom seperti ini dapat menembus tanah sedalam sekitar 1,2 hingga 8 meter dan menciptakan kawah berdiameter 7 hingga 18 meter. Hulu ledak tipe cluster juga merupakan salah satu fitur rudal Khalij‑e Fars, yang mampu melepaskan hingga 3.000 fragmen dengan kecepatan antara 600 hingga 2.000 meter per detik. Gelombang kejut dari ledakan tersebut keluar dari area ledakan dengan kecepatan 500 hingga 800 meter per detik, menghasilkan arus setara 1,8 hingga 2,5 kali kecepatan suara. Gelombang ledakan yang dihasilkan oleh tipe cluster ini mampu membersihkan seluruh permukaan kapal dari setiap objek bergerak.
Dapat dikatakan bahwa keberadaan hulu ledak seberat 650 kilogram pada rudal Khalij‑e Fars, yang hanya 65 kilogram lebih ringan dari total massa rudal jelajah antikapal Nour, memberikan daya hancur yang luar biasa besar bagi senjata antikapal ini. Bahkan, satu kali hantaman rudal ini saja kemungkinan sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan sangat serius pada sebuah destroyer atau bahkan membuat kapal induk keluar dari operasi. Selain itu, jangkauan 300 kilometer rudal Khalij‑e Fars hampir mencakup seluruh wilayah Teluk Persia dan Laut Oman.
Kekuatan Maritim dalam Naungan Rudal Khalij‑e Fars
Rudal Khalij‑e Fars, bersama dengan berbagai sistem persenjataan antikapal buatan Iran lainnya, mampu memberikan perlindungan dalam kondisi pertempuran laut yang paling berat. Dengan penggunaan kombinasi teknik dan perangkat dalam negeri secara cerdas, pertempuran laut dapat dikelola dalam waktu yang lama tanpa dukungan udara atau laut, sambil tetap memberikan pukulan serius kepada musuh yang menyerang. Armada penyerang akan terpaksa menarik kapal‑kapal berat dan kapal induk mereka menjauh dari zona bahaya, dan hal ini pada gilirannya menciptakan berbagai kesulitan besar bagi operasi serangan udara berbasis laut terhadap Iran.
Sebagai contoh, jika kapal induk musuh terpaksa berada pada jarak aman sekitar 350 kilometer, pesawat‑pesawat tempur penyerang mereka harus menempuh tambahan 700 kilometer untuk mencapai wilayah udara Iran. Hal ini membuat mereka perlu memasang tangki bahan bakar eksternal, yang menambah berat pesawat, mengurangi kapasitas membawa senjata, dan membatasi kemampuan manuver cepat. Selain itu, untuk setiap misi diperlukan jumlah pesawat tempur yang lebih banyak, sehingga situasi tersebut justru memudahkan sistem pertahanan udara Iran dan secara signifikan meningkatkan risiko operasi udara bagi pihak lawan.
Inilah yang terjadi selama operasi yang dikenal sebagai “Perang Ramadan”, ketika gugus kapal induk USS Abraham Lincoln milik Amerika Serikat terpaksa beroperasi pada jarak lebih dari 700 kilometer dari pantai Iran untuk menghindari ancaman rudal balistik dan jelajah Iran.
Spesifikasi Rudal Khalij‑e Fars
• Panjang: 8,86 meter
• Diameter: 61 sentimeter
• Mesin: Motor roket bahan bakar padat satu tahap
• Kinerja: Sistem pemandu dan kendali multi‑mode
• Kecepatan saat masuk (terminal): 2.100 meter per detik
• Jangkauan efektif: 300 kilometer
• Jangkauan maksimum: 500 kilometer
• Jenis hulu ledak: Tunggal
• Berat hulu ledak: 650 kilogram
• Jangkauan operasional: 300 kilometer
• Ketinggian terbang maksimum: 2.000 kilometer
• Kecepatan: Mach 3
• Pemandu terminal: Elektro‑optik
• Akurasi (CEP): kurang dari 5 meter
• Platform peluncur: Mobile(sl)