Zarif: Trump, Bin Salman dan Netanyahu, Simbol Kekerasan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i60642-zarif_trump_bin_salman_dan_netanyahu_simbol_kekerasan
Menteri Luar Negeri Iran menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu sebagai simbol kekerasan, pembunuh hak, penumpas dan orang yang tidak bisa dipercaya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 06, 2018 14:01 Asia/Jakarta
  • Mohammad Javad Zarif
    Mohammad Javad Zarif

Menteri Luar Negeri Iran menyebut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu sebagai simbol kekerasan, pembunuh hak, penumpas dan orang yang tidak bisa dipercaya.

Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, Senin (6/8) menjelang peringatan Hari Wartawan Nasional yang jatuh 8 Agustus menjelaskan, hari ini seluruh masyarakat dunia ramai membicarakan keterkucilan Trump, bin Salman dan Netanyahu. Ketiga orang ini, kata Zarif, karena selalu melanggar perjanjian internasional, melanggar hak rakyat Palestina dan menerapkan kebijakan Iranfobia, menjadi terisolasi di dunia.

Sehubungan dengan usul Amerika untuk berunding dengan Iran, Zarif menuturkan, Amerika menutup mata atas JCPOA yang diterima oleh Dewan Keamanan PBB dan sebagian besar negara dunia, dan keluar dari kesepakatan nuklir itu pada saat yang sama mengklaim diri sebagai pihak yang mengutamakan perundingan.

Mohammed bin Salman dan Donald Trump

"Jika anda menjalin hubungan dengan rakyat Iran, mengapa sanksi pertama yang anda jatuhkan kepada Iran adalah sanksi di sektor penerbangan ?, tanya Zarif.

Terkait penerapan kembali sanksi Amerika atas Iran yang dimulai hari ini, Senin (6/8), Menlu Iran mengatakan, sanksi-sanksi ini tidak akan berdampak pada rakyat Iran dan lebih bersifat psikologis.

Menurut Zarif apa yang dilakukan Israel dan beberapa negara lain untuk menghancurkan Iran adalah khayalan, dan entitas sebuah negara bernama Iranlah yang akan bertahan.

"Tekanan ekonomi dan propaganda musuh tidak akan mampu mengubah kebijakan Republik Islam Iran," tegasnya. (HS)