Rencana Teror Pejabat Iran, Mimpi MBS yang Tak Pernah Terwujudkan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i64180-rencana_teror_pejabat_iran_mimpi_mbs_yang_tak_pernah_terwujudkan
Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi dengan memberikan suap selama lebih dari dua tahun, mencoba memperkenalkan dirinya sebagai seorang politikus reformis dan progresif.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Nov 14, 2018 13:55 Asia/Jakarta
  • Mohammed bin Salman
    Mohammed bin Salman

Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi dengan memberikan suap selama lebih dari dua tahun, mencoba memperkenalkan dirinya sebagai seorang politikus reformis dan progresif.

Tapi sekarang setelah pengungkapan pembunuhan wartawan kritis Jamal Khashoggi dilakukan atas perintah Mohammed bin Salman, gambaran putra mahkota kriminal yang memiliki hasrat besar untuk membunuh dan teror terhadap oposan serta desain plot konspirasi.

Dalam pengungkapan terbaru, surat kabar Amerika The New York Times telah mengumumkan rencana bin Salman terhadap Iran.

New York Times dalam sebuah laporan dokumentasi menulis, "Para pejabat intelijen yang dekat dengan putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, musim panas lalu berbicara dengan sekelompok pengusaha tentang pembunuhan para pejabat Iran oleh perusahaan swasta."

The New York Times

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran dalam wawancaranya dengan koran Qatar al-Araby al-Jadeed membenarkan laporan New York Times dan menyatakan, "Iran telah mengetahui rencana itu" dan menambahkan bahwa Arab Saudi telah secara resmi mengumumkan bahwa perang akan diseret ke dalam Iran,dan Republik Islam kemudian menghadapi kegiatan kelompok bersenjata dan teroris, terutama perbatasan timur dan Daesh (ISIS) melakukan aksi teroris, termasuk serangan ke Gedung Parlemen Iran.

Jangan lupa bahwa Donald Trump di masa kampanye secara transparan menghina Arab Saudi dengan menunjukkan posisi Arab Saudi dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat tidak penting. Ia mengatakan, "Al Saud bagi kita seperti sapi perah, ketika mereka sudah tidak mampu lagi memberi kita dolar dan emas, waktu itu pula kita perintahkan untuk menyembelihnya atau kita minta pihak lain yang melakukannya atau membantu mereka untuk melakukannya."

Riyadh dapat dianggap sebagai jembatan Amerika Serikat dan Zionis Israel untuk mencapai tujuan regional mereka, tetapi jembatan itu pasti tidak akan menjadi kemenangan bagi Arab Saudi.

Robert Fisk, wartawan dan analis politik di The Independen saat menganalisa mimpi Bin Salman yang belum menjadi kenyataan menulis, "...Timur Tengah yang saya tinggali hari ini sangat berbeda dengan Timur Tengah yang saya kunjungi 40 tahun yang lalu untuk mengumpulkan laporan. Pada masa itu, Amerika Serikat benar-benar memiliki "kebijakan" untuk dirinya sendiri, meskipun sering didasarkan pada ilusi dan Uni Soviet sedang melemah untuk menciptakan keseimbangan kekuatan."

Robert Fisk mengingatkan, "Sekarang Republik Islam Iran yang mengumumkan berita kekalahan Daesh, padahal sebelumnya George W. Bush, Presiden Amerika Serikat waktu itu yang tampil dan mengatakan "Tugas telah selesai".

Robert Fisk

Bagaimanapun juga, Bin Salman masih punya angan-angan untuk kawasan sesuai dengan tujuan Amerika Serikat dan Israel, dimana memukul Iran merupakan salah satunya. Ucapan Menlu Zarif dalam hal ini disampaikan secara transparan, sekaligus sebuah peringatan.

Menteri Luar Negeri Iran menyampaikan harapannya, "Masyarakat internasional telah membuka matanya menyaksikan apa yang dilakukan Arab Saudi dalam mengembargo dan memblokade Qatar, membombardir Yaman, memenjarakan Perdana Menteri Lebanon dan melakukan kejahatan membunuh Jamal Khashoggi.