Tekad Bangsa Iran untuk Melawan Permusuhan AS
-
Bendera Republik Islam Iran (kiri).
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif mereaksi langkah-langkah anti-bangsa Iran yang diadopsi oleh Amerika Seriat. Dia menegaskan rakyat Republik Islam tidak akan pernah menyerah pada tekanan-tekanan AS.
Penegasan tersebut diungkapkan Zarif dalam tweetnya pada hari Minggu, 31 Maret 2019. Dia mengungkapkan bahwa kebijakan-kebijakan anti-Iran yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump telah gagal.
Zarif menulis, Trump berusaha sekuat tenaga untuk menggambarkan kebijakan yang gagal terkait dengan Iran sebagai suatu keberhasilan. Satu-satunya yang terbukti adalah bahwa dia bersukacita atas kesengsaraan yang menurutnya telah dipaksakan terhadap rakyat Iran. Seperti para pendahulunya, dia akan belajar bahwa rakyat Iran tidak pernah tunduk pada tekanan.
Trump dalam tweet terbaru pada hari Sabtu mengungkapkan bahwa keluarnya AS dari perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama) sebagai sebuah kesuksesan dalam kebijkakan luar negeri Amerika.
Pada dasarnya, keluarnya AS dari JCPOA merupakan upaya Trump untuk meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap rakyat Iran, namun upaya ini belum berhasil.
Pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa rakyat Iran tidak pernah menyerah pada tekanan dan ancaman. Catatan kegagalan para presiden AS sebelumnya, akan mengajarkan kepada Trump bahwa bangsa Iran tidak akan pernah menyerang pada tekanan Amerika.
Selama 40 tahun terakhir, setiap presiden AS yang berkuasa selalu menerapkan beragam tekanan politik dan ekonomi terhadap rakyat Iran dengan berbagai cara, namun alih-alih usaha ini berhasil untuk menundukkan bangsa Iran, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Persatuan dan solidaritas antara rakyat Iran dan pemerintah semakin kuat dan mereka mencapai kemandirian dan kemajuan di berbagai bidang.
Di masa-masa sanksi, Iran justru meraih kesuksesan di banyak bidang: politik, ekonomi, militer dan pertahanan. Keberhasilan ini telah meningkatkan kekuatan ekonomi dan militer Republik Islam. Meningkatnya pengaruh Iran di kawasan adalah bukti nyata kekuatan Iran. Untuk itulah, Trump memutuskan untuk keluar dari JCPOA dengan harapan bisa mengurangi kekuatan Iran, bahkan bisa memaksa negara ini menyerah.
Namun ternyata sebaliknya, keputusan tersebut menuai penentangan dari masyarakat internasional. Penentangan terhadap perilaku sepihak AS itu juga meningkat sehingga negara itu terkucil di arena internasional.

Pengabaian Trump terhadap kesepakatan, perjanjian dan hukum internasional dengan tujuan untuk menekan Iran bahkan menuai kritikan pedas dari kalangan politisi Amerika sendiri. Mantan Menteri Luar Negeri AS John Kerry terlah memperingatkan kebijakan ekstrem Trump dan sekutunya terkait Iran.
Brookings Institution pada hari Sabtu mengakui bahwa pendekatan pemerintahan Trump untuk memaksa Iran tunduk pada keinginan-keinginan AS telah gagal.
Para pakar lembaga ini mengatakan penyebab inefisiensi strategi pemerintahan Trump terhadap Iran adalah perlawanan rakyat negara ini terhadap tekanan Amerika, di mana mereka menyadari dengan benar tentang intimidasi AS.
Sejarah selama 40 tahun terakhir membuktikan bahwa setiap kali AS meningkatkan tekanan dan ancamannya, perlawanan rakyat Iran juga meningkat dan strategis AS akhirnya gagal. Kini keluarnya AS dari JCPOA untuk menekan rakyat Iran juga akan bernasib sama, yaitu gagal untuk menundukkan rakyat Iran.
Unilateralisme Amerika tidak hanya merugikan pada negara-negara tertentu saja, tetapi juga membawa konsekuensi dan dampak global. Untuk itu, ini adalah sebuah keharusan bagi dunia untuk bersatu dan melawan pendekatan sepihak Trump.
Trump menyebut keluarnya AS dari JCPOA sebagai prestasi pemerintahannya, padahal langkah tersebut justru telah membuat rakyat Iran semakin bersatu dan bertekad untuk melawan unilateralisme AS. Di sisi lain, masyarakat internasional juga mulai mengambil jarak dari Amerika. (RA)