Kunjungan Pertama Josep Borrell ke Tehran dan Harapan Kedua Belah Pihak
-
Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa
Josep Borrell, Kepala Penanggung Jawab Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa untuk pertama kalinya setelah menduduki posisi ini, hari ini (Senin, 03/02/2020) melakukan kunjungan ke Iran.
Sayid Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran hari Minggu, 2 Februari, mengkonfirmasikan berita ini dan mengatakan, "Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dalam kunjungannya ke Tehran akan melakukan pertemuan dengan menteri luar negeri dan para pejabat tinggi Republik Islam Iran dan bertukar pikiran."
Sebelumnya, Josep Borrell melakukan pertemuan dengan Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran di New Delhi dan melakukan pembicaraan. Dalam pertemuan itu, untuk pertama kalinya setelah menduduki posisi ini, Menlu Zarif dalam dialog transparan dan terdokumentasi menyebutkan sejumlah kesalahan dan tidak ada tindakan yang dilakukan Eropa terkait komitmennya dalam Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), seraya menolak langkah tiga negara Eropa dan klaim mereka tentang pelanggaran JCPOA oleh Iran, Zarif meminta mereka memperbaiki perilaku terhadap Iran dan JCPOA.
Tiga negara Eropa anggota JCPOA (Jerman, Perancis dan Inggris) bulan Januari mengaktifkan mekanisme penyelesaikan sengketa dalam JCPOA, dimana tindakan ini direaksi keras oleh Iran.
Sesuai dengan pernyataannya, Borrell termasuk salah pendukung pernjanjian nuklir, seperti dalam reaksinya terkait langkah Iran dalam mengurangi tingkat komitmennya ia mengatakan, "Untungnya, Iran tidak memutus perjanjian nuklir, dan itu harus dicegah agar tidak putus sama sekali. Ini adalah berita buruk bagi Amerika Serikat untuk mengutuk perjanjian nuklir. Tanggapan Iran ada di perbatasan, mereka tidak melanggar kesepakatan nuklir dan mengatakan bahwa jika Amerika Serikat gagal memenuhi kewajibannya, mereka juga tidak akan memenuhi kewajiban mereka dan akan melakukan hal-hal dalam batas-batas perjanjian."
"Kami sangat tertarik untuk melestarikan kesepakatan nuklir dan kami mendesak pemerintah Iran untuk melakukan segala yang mereka bisa untuk menjaga kesepakatan itu tetap hidup," ungkap Borrell bulan Mei lalu dalam pernyataan transparan saat diwawancarai surat kabar El Pais, Spanyol, seraya mengritik langkah unilateralisme dan intervensif pemerintah Amerika Serikat.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menyebut sebuah peribahasa Spanyol lalu menjelaskan, "Sekarang kita harus melakukan apa saja untuk mempertahankan JCPOA."
Deklarasi sidang Komisi Bersama JCPOA ke-14 di Wina pada bulan Desember menyambut keputusan pemerintah Belgia, Denmark, Finlandia, Belanda, Swedia dan Norwegia untuk bergabung dengan INSTEX, serta menyambut prospek pembukaannya bagi para aktivis ekonomi pihak ketiga, tetapi langkah-langkah Eropa bertentangan dengan Deklarasi Wina.
Pasca penyelenggaraan Komisi Bersama JCPOA, Borrell di akun Twitter-nya menulis, "Saya mendukung seruan untuk sepenuhnya menerapkan JCPOA dan membalikkan tren negatif baru-baru ini."
Mantan wakil Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Mohammad Sadegh Ayatollahi, soal surat presiden Iran baru-baru ini kepada kelompok $ + 1 menyatakan bahwa jika sanksi Dewan Keamanan terhadap Iran dikembalikan, Iran akan mempertimbangkan penarikan dari NPT.
Menurutnya, "Tekanan pada Iran telah begitu kuat dan tak tertahankan dalam beberapa tahun terakhir sehingga jika hanya beberapa dari tekanan ini terjadi pada negara-negara Eropa, mereka pasti mengosongkan kerangka yang ada, tetapi Iran mampu menanggungnya. Sekalipun demikian, ini tidak berarti bahwa prosesnya selalu ada."
Mengingat pandangan dan sikap Borrell, tampaknya, dengan pengalaman diplomatik, ia telah mengambil pendekatan yang lebih hati-hati, bahkan kritis ke Amerika Serikat sehubungan dengan JCPOA. Namun, mengomentari kinerjanya di JCPOA harus dibatasi pada tindakan dalam kerangka tanggung jawab resminya. Sejauh ini tidak ada tanda yang menggembirakan dari pihak Eropa. Masih harus melihat, sejauh mana pembicaraan Borrell di Tehran dapat memenuhi harapan Iran dari Eropa dalam menghadapi JCPOA, dan apakah Troika Eropa bersedia merasionalisasi perilakunya dalam berinteraksi dengan Iran dalam mempertahankan JCPOA.