Merawat Bumi, Menyempurnakan Wujud: Jalan Ekologi Transenden
https://parstoday.ir/id/news/opini-i183164-merawat_bumi_menyempurnakan_wujud_jalan_ekologi_transenden
Oleh: Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Des 29, 2025 11:56 Asia/Jakarta
  • Merawat Bumi, Menyempurnakan Wujud: Jalan Ekologi Transenden

Oleh: Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin

Krisis lingkungan global dewasa ini tidak semata-mata berakar pada kegagalan teknologi atau defisit regulasi, melainkan pada krisis cara pandang manusia terhadap alam. Deforestasi masif, pencemaran laut, kepunahan spesies, hingga krisis iklim merupakan gejala dari paradigma yang memisahkan manusia dari kosmos tempat ia bernaung. Dalam konteks ini, ekologi tidak lagi cukup dipahami sebagai cabang ilmu alam yang menjelaskan relasi sebab-akibat antara organisme dan lingkungannya. Ia harus ditarik ke lapisan yang lebih dalam, lapisan kesadaran. Ekologi, pada akhirnya, adalah cermin dari cara manusia memahami dirinya sendiri di hadapan semesta.

Paradigma ekologis modern berakar kuat pada filsafat dualisme Cartesian. Melalui adagium cogito ergo sum, René Descartes membelah realitas menjadi res cogitans (subjek berpikir) dan res extensa (materi yang dibentangkan). Alam direduksi menjadi objek, sumber daya, dan instrumen produksi. Manusia menempatkan dirinya sebagai pusat makna sekaligus penguasa, sementara alam diposisikan sebagai entitas netral, bisu, dan siap dieksploitasi. Inilah fondasi antroposentrisme modern yang secara epistemologis melegitimasi penguasaan, pemisahan, dan pematerian alam dalam kerangka mekanistik-reduksionistik.

Kritik terhadap antroposentrisme melahirkan beragam pendekatan etika lingkungan. Biosentrisme, sebagaimana dikembangkan Albert Schweitzer dan Paul Taylor, menegaskan bahwa seluruh makhluk hidup memiliki nilai intrinsik. Manusia tidak lebih tinggi secara moral dari organisme lain; ia hanyalah satu simpul dalam jejaring kehidupan. Prinsip saling ketergantungan menjadi fondasi etikanya, dan kehidupan dalam segala bentuknya diposisikan sebagai pusat nilai. Namun demikian, biosentrisme masih menyisakan keterbatasan, karena fokus etisnya tetap bertumpu pada entitas hidup, sementara unsur abiotik belum sepenuhnya memperoleh kedudukan moral yang setara.

Ekosentrisme kemudian hadir sebagai perluasan konseptual. Aldo Leopold, melalui land ethic, merumuskan kaidah moral yang sederhana namun radikal: sesuatu dinilai benar sejauh ia menjaga integritas, stabilitas, dan keindahan komunitas biotik, dan dinilai salah jika merusaknya. Ekosentrisme tidak lagi menempatkan individu sebagai pusat, melainkan keseluruhan sistem ekologis, baik biotik maupun abiotik sebagai satu kesatuan moral. Alam dipahami sebagai “rumah tangga kosmik” yang menuntut perawatan dan keseimbangan. Gagasan ini diperdalam dalam deep ecology dan ecosophy oleh Arne Naess, yang menuntut transformasi radikal dalam struktur nilai, gaya hidup, dan orientasi pembangunan manusia.

Namun, bahkan ekosentrisme masih bergerak terutama pada tataran etika rasional dan kesadaran reflektif. Ia belum sepenuhnya menjawab pertanyaan mendasar: dari mana dorongan terdalam manusia untuk merawat alam secara tulus, konsisten, dan berjangka panjang? Di titik inilah ekologi transpersonaldan lebih jauh, ekologi transenden menjadi relevan. Ekologi transpersonal, sebagaimana dikembangkan Warwick Fox dan berakar pada psikologi transpersonal Abraham Maslow, menekankan perluasan identitas diri melampaui ego individual menuju identifikasi yang lebih luas dengan semesta. Alam tidak lagi dipandang sebagai “yang lain”, melainkan sebagai perpanjangan diri.

Dalam kerangka ini, krisis ekologis dipahami sebagai krisis identitas. Kerusakan lingkungan terjadi karena manusia gagal merasakan keterhubungan eksistensial dengan alam. Semakin sempit definisi diri, semakin eksploitatif relasi manusia dengan lingkungannya. Sebaliknya, semakin luas identifikasi diri hingga mencakup sungai, hutan, laut, dan makhluk lain semakin etis dan berkelanjutan tindakan manusia. Ekologi transpersonal menuntut lompatan kesadaran: dari relasi subjek objek menuju non-dualitas, dari dominasi menuju partisipasi kosmik.

Ekologi transenden melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya berbicara tentang perluasan kesadaran psikologis, tetapi menyentuh fondasi ontologis realitas itu sendiri. Dalam perspektif ini, alam bukan sekadar sistem ekologis, melainkan manifestasi berlapis dari Wujud Ilahi.

Dalam filsafat Islam, alam dipahami bukan sebagai realitas tunggal yang berdiri sendiri, melainkan sebagai pancaran berjenjang dari Wujud Absolut. Dari Ahadiyyah, wujud Tuhan yang mutlak dan tak terkatakan, realitas menurun ke Wahidiyyah, ketika keteraturan kosmik hadir melalui nama dan sifat Ilahi. Manifestasi ini berlanjut dalam Nur Muhammadi sebagai kesadaran kosmik pertama, kemudian dalam a‘yan tsabitah sebagai identitas dan tujuan setiap makhluk dalam ilmu Ilahi; turun ke alam Jabarut sebagai tatanan ruhani pengatur daya kehidupan; ke alam Malakut sebagai wilayah makna dan simbol; hingga akhirnya hadir di alam Mulk, dunia fisik-empiris tempat relasi ekologis berlangsung secara material.

Dalam kerangka ini, sebagaimana ditegaskan oleh Ibn ‘Arabi dan Mulla Sadra, alam ekologis yang kita kelola sehari-hari hanyalah lapisan terbawah dari spektrum wujud. Karena itu, kerusakan lingkungan sejatinya bukan semata problem teknis atau biologis, melainkan gangguan terhadap tatanan wujud yang utuh. Sebaliknya, merawat alam berarti menjaga kesinambungan antara materi, makna, ruh, dan sumber Ilahinya. Inilah fondasi utama ekologi transenden.

Relasi manusia dan alam, dengan demikian, tidak dapat dipahami hanya melalui empirisisme, tetapi juga melalui makna, tujuan, dan nilai yang tertanam dalam struktur keberadaan. Gagasan ini sejalan dengan filsafat Mulla Sadra, khususnya prinsip harakat al-jawhariyah, yang menegaskan bahwa seluruh realitas berada dalam gerak substansial menuju kesempurnaan wujud.

Dalam kerangka Sadrian, alam semesta bukan entitas statis, melainkan proses eksistensial yang dinamis. Manusia, sebagai bagian dari alam, ikut bergerak dalam arus transformasi ontologis ini. Kesadaran ekologis bukan sekadar sikap etis, melainkan tahapan perjalanan wujud. Merusak alam berarti menghambat gerak kesempurnaan, sementara merawat alam merupakan partisipasi aktif dalam perjalanan kosmik menuju kebaikan. Pada titik ini, ekologi transenden juga beresonansi dengan kegelisahan fisika modern, dari superposisi hingga dekoherensi kuantum, yang menggugat pandangan mekanistik tentang realitas sebagai sesuatu yang tunggal, beku, dan terpisah dari pengamatnya.

Landasan spiritual ekologi transenden juga tercermin kuat dalam teks-teks wahyu. Kitab Zabur menegaskan bahwa bumi akan diwarisi oleh orang-orang saleh, sebuah pesan yang diulang dalam Al-Qur’an (QS. al-Anbiya’: 105). Doa-doa para nabi, seperti Ibrahim, Yusuf, dan Sulaiman, menunjukkan bahwa kebijaksanaan ekologis lahir dari rasa syukur, kerendahan hati, dan kesadaran akan keterbatasan manusia di hadapan ciptaan. Kisah Nabi Sulaiman yang tersenyum mendengar perkataan semut menjadi simbol etika ekologis profetik: kepekaan terhadap makhluk terkecil sebagai indikator keluhuran spiritual.

Jika seluruh ajaran ini dibaca dalam kerangka gradasi wujud, menjadi jelas bahwa ekologi transenden menuntut kepemimpinan ekologis, bukan sekadar tata kelola teknis, yang berakar pada kelayakan wujud. Dalam bahasa Zabur, mereka disebut tzadiqim; dalam Al-Qur’an, salihun: manusia yang telah melampaui ego antroposentris dan, pada tataran wujud, berperan sebagai perantara rahmat, penjaga keseimbangan, dan penegak harmoni kosmik antara Tuhan, manusia, dan alam.

Ekologi transenden tidak menolak sains, etika, atau kebijakan publik. Ia justru mengintegrasikan semuanya dalam horizon makna yang lebih luas. Demokratisasi lingkungan, pengakuan hak alam, kepemimpinan ekologis, dan tata kelola berkelanjutan hanya akan efektif jika ditopang oleh transformasi kesadaran. Konsep lokal seperti memayu hayuning bawono, memperindah bumi yang sesungguhnya telah indah, menemukan resonansi universal dalam kerangka ini. Ekologi transenden bukan romantisme spiritual, melainkan fondasi ontologis bagi kebijakan ekologis yang adil dan berjangka panjang.

Pada akhirnya, ekologi transenden mengajak kita kembali bertanya: siapa kita di hadapan bumi? Apakah kita penguasa yang berjarak, atau bagian dari jaringan wujud yang saling menghidupi? Bersama siapa seluruh lapisan realitas bergerak dalam harakat al-jawhariyah menuju kesempurnaan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan masa depan planet ini. Selama alam masih dipandang sebagai objek eksternal, krisis ekologis akan terus berulang. Namun ketika manusia menyadari bahwa merawat alam berarti merawat dirinya sendiri secara ekologis, moral, dan spiritual, maka pengelolaan lingkungan bukan lagi beban, melainkan jalan kesempurnaan bersama.