Iran Aktualita 19 Januari 2019
-
Kampanye menuntut pembebasan wartawan Press TV, yang ditangkap oleh Amerika Serikat.
Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya; Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Irak, Iran dan Azerbaijan Tandatangani Perjanjian Pertahanan, Iran Kecam Penangkapan Jurnalis Press TV oleh AS, dan Iran Termasuk Lima Negara Pemilik Teknologi Peluncur Satelit.
Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Irak
Iran dan wilayah otonomi Kurdistan Irak menekankan pentingnya memperluas hubungan bilateral di berbagai sektor, khususnya di bidang ekonomi. Seruan ini muncul selama kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif ke Erbil pada Selasa lalu (15 Januari 2019).
Zarif memuji persaudaraan dan hubungan historis antara kedua belah pihak dan menyerukan kerja sama yang lebih kuat antara Tehran-Erbil. Dia menegaskan bahwa sanksi sepihak yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran akan gagal mempengaruhi dan menghambat hubungan Iran dengan wilayah Kurdistan Irak.
"Sanksi akan gagal menciptakan hambatan dalam memperluas hubungan ekonomi antara Iran dan Irak," katanya. Iran adalah mitra yang sangat handal untuk semua teman-temannya, khususnya wilayah Kurdistan Irak.
Zarif juga menekankan keamanan Republik Islam Iran saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dengan Kurdistan, dan menyatakan dukungan kepada pemerintah pusat di Baghdad serta pemerintah daerah Kurdistan. "Hubungan Republik Islam dengan wilayah otonomi Kurdistan di Irak berakar dalam sejarah dan akan bertahan lebih lama dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump," tegasnya.
Menlu Iran menekankan bahwa Trump tidak memiliki tempat dalam hubungan Iran dengan pemerintah daerah Kurdistan. "Ini tidak ada hubungannya dengan Tuan Trump. Bersama dengan Kurdi, kita memiliki hubungan sejak berabad-abad yang lalu, sementara pemerintah-pemerintah ini (AS) datang dan pergi," ungkap Zarif.
"Di kawasan yang aman ini, dialog menggantikan perang dan kerja sama menggantikan perlombaan senjata, dan hubungan persaudaraan menggantikan rasa percaya kepada orang asing," jelasnya.
Selama rapat kabinet di Gedung Putih pada 2 Januari, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dia tidak senang jika Kurdi menjual minyak ke Iran dan mengklaim bahwa dirinya ingin melindungi Kurdi.
"Saya tidak suka fakta bahwa mereka menjual sedikit (jumlah) minyak yang mereka miliki ke Iran, dan kami meminta mereka untuk tidak menjualnya ke Iran ... Kami tidak senang tentang itu, saya tidak senang sama sekali," tegas Presiden AS.
Iran dan Azerbaijan Tandatangani Perjanjian Pertahanan
Pejabat senior pertahanan Iran dan Azerbaijan telah menandatangani perjanjian yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan militer antara kedua negara tetangga ini. MoU itu ditandatangani di Baku, setelah pertemuan antara Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Baqeri dan Menteri Pertahanan Azerbaijan, Letnan Jenderal Zakir Hasanov pada hari Rabu (16 Januari 2019).
Berbicara kepada wartawan setelah itu, Mayjen Baqeri mengatakan kedua belah pihak mencari cara untuk meningkatkan hubungan pertahanan bilateral selama pertemuan tersebut. "Iran menegaskan kembali dukungannya untuk integritas teritorial Azerbaijan dan menggarisbawahi perlunya memperluas kerja sama di bidang logistik dan pelatihan serta pertukaran pengalaman militer," tambahnya.
"Melalui kerja sama yang erat dan komunikasi yang luas, pasukan perbatasan Iran dan Azerbaijan dari hari ke hari semakin mampu mewujudkan perbatasan kedua negara yang stabil dan aman," jelasnya.
Sementara itu, Hasanov menyambut kunjungan Mayjen Baqeri, dan mengatakan kedua belah pihak telah mendiskusikan isu-isu yang "sangat penting." Menurutnya, kunjungan ini akan semakin meningkatkan kerja sama militer bilateral ke tingkat tertinggi.
"Kunjungan Mayjen Baqeri memberikan kesempatan untuk meninjau kegiatan Komisi Pertahanan Bersama Iran-Azerbaijan. Rekomendasi yang diperlukan telah dibuat untuk meningkatkan kinerjanya," jelas Hasanov.
Komisi gabungan tersebut mengadakan pertemuan pertamanya di Baku pada Oktober 2017, yang dihadiri oleh delegasi tingkat tinggi dari Kementerian Pertahanan Iran.
Mayjen Baqeri bersama rombongan melakukan perjalanan ke Azerbaijan pada Rabu lalu atas undangan menteri pertahanan negara itu. Dia juga mengadakan pembicaraan dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev serta Ketua Majelis Nasional Ogtay Asadov.
Iran Kecam Penangkapan Jurnalis Press TV oleh AS
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi mengecam penangkapan Marzieh Hashemi, jurnalis Press TV di Amerika Serikat dan mendesak segera dibebaskan.
"Perilaku otoritas keamanan AS dengan warga Muslim Amerika adalah pelanggaran nyata terhadap hak asasi manusia dan menunjukkan bahwa pemerintah AS secara praktis tidak berkomitmen dengan prinsip apapun, yang dipakai untuk menyerang para pengkritiknya," tegas Qasemi dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (16/1/2019).
"Iran mengecam tindakan pemerintah AS yang secara ilegal menangkap presenter Press TV, Marzieh Hashemi (Melanie Franklin) di Washington dan memperlakukannya tidak manusiawi," tambahnya.
Qasemi menegaskan bahwa penangkapan seorang warga dan jurnalis Muslim oleh otoritas AS serta perlakuan buruk terhadapnya adalah contoh nyata dari perilaku rezim Apartheid dengan warganya yang tidak berkulit putih. Pemerintah Iran, lanjutnya, meminta agar Marzieh Hashemi bisa memperoleh hak-hak dasarnya dan pembebasan segera dari penahanan ilegal, tanpa pra-syarat apapun.
Sementara itu, Direktur Lembaga Penyiaran Nasional Republik Islam Iran (IRIB), Abdulali Ali-Asgari mengecam tindakan ilegal Amerika Serikat yang menangkap jurnalis Press TV, Marzieh Hashemi di Bandara Internasional St Louis Lambert, Missouri. "Marzieh Hashemi harus segera dibebaskan," tegas Ali-Asgari kepada wartawan IRIB pada hari Rabu (16/1/2019).
Menurutnya, presenter Press TV ini ditangkap di Amerika karena menyerukan kebebasan, berjiwa revolusioner serta membela kebenaran dan kubu perlawanan. AS, lanjut Ali-Asgari, menerapkan standar ganda terkait kebebasan berekspresi. Perilaku standar ganda telah menjadi jati diri mereka dan AS tidak akan menerima orang-orang yang memiliki ideologi yang menentang mereka.
Iran Termasuk Lima Negara Pemilik Teknologi Peluncur Satelit
Dirjen Pengembangan Teknologi Luar Angkasa di Badan Antariksa Iran mengatakan, di bidang peluncur satelit dengan ketinggian orbit 500 kilometer, kami sukses meraih kemampuan injeksi satelit dengan berat lebih dari 100 kg.
Menurut laporan IRIB, Mojtaba Saradeghi menambahkan, Iran di bidang peluncur satelit berhasil memproduksi satelit kecil (Small Satellite) dengan bobot 500 kg.
"Setelah peluncuran satelit dengan target 500 km, telah diambil langkah penting terkait kepemilikan satelit sepenuhnya produksi dalam negeri dan dan selama 300 detik kami menerima data bagus dari satelit. Dan ini menunjukkan bahwa infrastruktur dibangun dengan baik oleh ilmuwan dan teknisi Universitas Amir Kabir Iran," papar Mojtaba Saradeghi.
Pekan lalu, Republik Islam Iran meluncurkan satelit buatan dalam negeri ke luar angkasa dengan tujuan observasi dan pengumpulan informasi mengenai perubahan lingkungan, namun gagal mencapai orbit karena masalah teknis.
Satelit Payam Amirkabir diluncurkan dengan roket Basir pada hari Selasa dini hari, 15 Januari 2019. Tahap pertama dan kedua peluncuran satelit Payam ini berhasil, namun tahap ketiganya gagal.
Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi Iran, Mohammad Javad Azari Jahromi dalam tweetnya menulis tahap pertama dan kedua dari misi luar angkasa telah berhasil dilakukan, namun pembawa satelit telah gagal untuk mempercepat kecepatan ke orbit di tahap ketiga.
"Satelit Payam (Pesan) berhasil diluncurkan pagi ini di atas pembawa satelit Basir. Namun sayangnya satelit gagal ditempatkan di orbit pada tahap akhir," ujarnya. (RM)