Apakah Israel Berhasil Capai Targetnya di Gaza ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i157634-apakah_israel_berhasil_capai_targetnya_di_gaza
Meskipun pihak Hamas dan rezim Zionis menyepakati gencatan senjata sementara selama empat hari di Gaza, tapi tampaknya militer Israel masih berambisi untuk melanjutkan serangannya ke Gaza.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Nov 22, 2023 09:14 Asia/Jakarta

Meskipun pihak Hamas dan rezim Zionis menyepakati gencatan senjata sementara selama empat hari di Gaza, tapi tampaknya militer Israel masih berambisi untuk melanjutkan serangannya ke Gaza.

Selama 46 hari terakhir, lebih dari 13.300 warga Palestina gugur oleh rezim Zionis, 5.600 di antaranya anak-anak dan 3.500 perempuan. Selain itu, lebih dari 30 ribu orang terluka, dan 64 jurnalis gugur.

Pusat-pusat kesehatan di Gaza hancur atau ditutup karena kekurangan bahan bakar. Program Pangan Dunia PBB mengumumkan hampir 2,2 juta orang di Gaza membutuhkan bantuan pangan mendesak.

Berbagai tokoh dan lembaga telah berulang kali mengakui bahwa apa yang dilakukan rezim Zionis terhadap rakyat Gaza adalah contoh nyata dari genosida. Pertanyaan pentingnya adalah mengapa rezim Zionis berambisi melanjutkan perang di Gaza?

Pertama, setelah 46 hari perang, rezim Zionis belum berhasil mencapai prestasi apa pun. Pembebasan tahanan dan penghancuran Hamas menjadi dua tujuan utama rezim Zionis dalam perang melawan Gaza. Rezim Zionis belum berhasil membebaskan satu pun tawanannya, bahkan tidak mengetahui di mana para tawanan tersebut ditahan.

Rezim Zionis percaya bahwa para tahanan berada di rumah sakit dan sekolah, tetapi asumsi ini terbukti salah dan kegagalan intelijen lainnya terjadi menimpa Israel. Gelombang masif demonstrasi menentang kabinet Netanyahu dipicu berbagai faktor, terutama ketidakmampuan kabinet Zionis untuk membebaskan para tahanan.

Selain itu, kehancuran Hamas bukan hanya tidak tercapai, bahkan para pejuang Hamas memberikan banyak pukulan telak terhadap rezim Zionis dalam perang darat.

Menghentikan perang dalam kondisi seperti ini dianggap sebagai kekalahan rezim Zionis dan kemenangan perlawanan Palestina. Dalam hal ini, John Kirby, Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat mengatakan, "Kami masih tidak percaya bahwa waktu yang tepat telah tiba untuk gencatan senjata secara umum yang berarti penghentian total konflik di seluruh Gaza, yang kami yakini saat ini menguntungkan Hamas.”

 

 

Alasan kedua, negara-negara barat belum serius untuk mengakhiri perang. Ketika salah satu pihak dalam perang tidak dapat menang dan perang bergerak menuju kehancuran, maka tekanan dari luar dapat menjadi landasan untuk menghentikan perang.

Tampaknya, kekuatan-kekuatan Barat sedang mencari cara untuk memenangkan rezim Zionis dalam perang ini, yang sampai saat ini belum ada tanda-tandanya.

Yaakov Amidror, Penasihat Keamanan Nasional Israel dari tahun 2011 hingga 2013 dan pensiunan jenderal berpangkat tinggi di militer Israel, percaya bahwa pemerintah negaranya tidak merasakan tekanan nyata dari Amerika Serikat saat ini.

“Satu-satunya tekanan adalah mengurangi jumlah warga sipil yang terbunuh dan mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan bagi warga sipil untuk memasuki Jalur Gaza,” katanya.

Fred Kaplan, seorang analis Barat mengatakan bahwa Amerika Serikat, yang dengan cepat menjadi satu-satunya sekutu kuat Israel, telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kabinet koalisinya pada masa perang untuk menahan diri, namun hal itu tidak berhasil.

Sebelumnya, Netanyahu telah menolak permintaan Amerika untuk melakukan jeda kemanusiaan dalam pemboman Gaza, meskipun ia dan para pemimpin Mesir telah membuka perbatasan untuk mengizinkan sejumlah makanan, air dan peralatan medis memasuki Gaza.

Kini, Netanyahu terpaksa menerima jeda kemanusiaan selama empat hari di Gaza di tengah derasnya tekanan dari keluarga tahanan Zionis dan dia tidak memiliki opsi lain. Sebab, target agresi militer ke Gaza gagal mewujudkan tujuan utamanya menghancurkan Hamas.(PH)