Biaya Tinggi Penggunaan Jet Tempur untuk Menghadapi Drone Iran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i187446-biaya_tinggi_penggunaan_jet_tempur_untuk_menghadapi_drone_iran
Pars Today – Ketergantungan negara-negara Teluk Persia pada jet tempur untuk menghadapi gelombang drone murah Shahed telah memberikan tekanan besar pada anggaran, pilot, dan armada pesawat mereka.
(last modified 2026-03-23T06:50:28+00:00 )
Mar 23, 2026 13:44 Asia/Jakarta
  • Jet tempur vs drone
    Jet tempur vs drone

Pars Today – Ketergantungan negara-negara Teluk Persia pada jet tempur untuk menghadapi gelombang drone murah Shahed telah memberikan tekanan besar pada anggaran, pilot, dan armada pesawat mereka.

Menurut laporan Young Journalists Club (YJC):  Dalam sebuah catatan, Financial Times menyoroti bahwa dalam beberapa pekan terakhir jet tempur canggih di seluruh kawasan Teluk Persia telah dikerahkan untuk menghadapi ancaman yang sebenarnya tidak dirancang untuk mereka tangani: gelombang drone serangan yang lambat dan terbang rendah yang diluncurkan oleh Iran.

 

Menurut para analis dan pejabat Barat, jet tempur telah menjadi alat utama negara-negara Teluk untuk mencegat drone tersebut. Namun, operasi pertahanan yang berlangsung sepanjang waktu ini menimbulkan biaya besar—baik secara finansial maupun dari sisi tekanan terhadap pilot serta keausan peralatan.

 

Lauren Kahn, mantan penasihat Pentagon yang kini bekerja di Center for Security and Emerging Technology di Washington, mengatakan:

 

“Pendekatan ini sama sekali tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.”

 

Negara-negara Teluk dan sekutunya menghadapi tantangan mendasar: drone Iran murah, sementara penggunaan jet tempur untuk menanganinya sangat mahal.

 

Salah satu alat utama Iran adalah drone Shahed‑136, yang menurut Center for Strategic and International Studies berharga antara 20.000 hingga 50.000 dolar AS. Sebaliknya, hanya untuk menjaga satu jet F‑16 tetap berada di udara membutuhkan biaya lebih dari 25.000 dolar per jam.

 

Senjata yang digunakan jet tempur untuk menembak jatuh drone tersebut juga mahal. Rekaman video menunjukkan penggunaan rudal udara-ke-udara seperti AIM‑9X Sidewinder—dengan harga sekitar 485.000 dolar per rudal—serta AIM‑120 AMRAAM, yang harganya lebih dari 1 juta dolar.

 

Amerika Serikat memiliki peralatan yang dapat mengubah roket tak berpemandu menjadi rudal anti-drone, tetapi setiap kit tersebut juga berharga lebih dari 20.000 dolar. Meskipun Departemen Luar Negeri AS sejak 2018 telah menyetujui penjualan sekitar 27.000 unit peralatan tersebut ke Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi, tidak jelas apakah pengiriman itu benar-benar telah dilakukan.

 

Bahkan bagi negara-negara Teluk yang kaya dengan anggaran militer besar, perhitungan ekonomi perang drone tetap menjadi tantangan.

 

Samuel Bendett dari Center for Naval Analyses mengatakan:

 

“Rasio biaya ini sangat tidak menguntungkan. Untuk menghadapi ancaman murah, seharusnya tidak menggunakan alat yang mahal. Pihak yang bertahan harus menggunakan sumber daya yang lebih murah.”

 

Dalam hal ini, jet tempur di kawasan tersebut juga mencoba menggunakan meriam pesawat sebagai senjata utama. Peluru meriam jauh lebih murah dibandingkan rudal, tetapi penggunaannya memerlukan jarak yang lebih dekat dengan target dan di wilayah padat penduduk dapat meningkatkan risiko korban sipil.

 

Selain itu, setiap jet tempur memiliki kapasitas amunisi yang terbatas. Misalnya, sebuah F‑16 hanya dapat menembak terus-menerus sekitar lima detik sebelum amunisinya habis.

 

Sejak dimulainya serangan pada 28 Februari, Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 3.000 drone, yang sebagian besar menargetkan sasaran di kawasan Teluk. Sebagian besar drone tersebut berhasil dicegat.

 

Uni Emirat Arab—yang menanggung tekanan terbesar dari serangan ini dan mendapat dukungan jet tempur Prancis dan Inggris—mengklaim telah menghancurkan lebih dari 1.600 drone. Meski demikian, beberapa di antaranya tetap berhasil mengenai target seperti pangkalan militer, fasilitas energi, dan infrastruktur sipil, terkadang dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

 

Namun, biaya bukan satu-satunya masalah.

 

Kelly Grieco dari Stimson Center mengatakan:

 

“Mempertahankan tingkat operasi seperti ini sangat menguras kekuatan angkatan udara. Tekanan dapat ditahan untuk sementara, tetapi pada akhirnya tingkat kerusakan meningkat dan kebutuhan perawatan besar menjadi lebih sering.”

 

Bahkan bagi jet tempur paling canggih sekalipun, menargetkan drone bukanlah tugas mudah. Drone Shahed‑136 terbang dengan kecepatan sekitar seperlima kecepatan jelajah jet F‑35, sehingga pilot—terutama yang kurang berpengalaman—sering melewati target dan kehilangan kesempatan menembak.

 

Tampaknya militer negara-negara Teluk cukup terkejut menghadapi ancaman ini. Grieco mengatakan:

 

“Mereka selama ini lebih fokus pada ancaman rudal balistik dan tidak cukup serius menghadapi ancaman tingkat rendah.”

 

Hal ini penting karena drone lebih kecil, lebih lambat, dan terbang jauh lebih rendah dibandingkan rudal balistik. Untuk mendeteksinya, radar harus disetel secara khusus agar dapat membedakannya dari burung atau bangunan. Selain itu, jaringan sensor sensitif juga digunakan untuk mendengar suara khas—seperti suara mesin drone Shahed yang mirip mesin pemotong rumput.

 

Negara-negara Teluk juga bergantung pada jet tempur untuk menjaga cadangan sistem intersepsi darat mereka, termasuk rudal Patriot buatan AS, yang biaya setiap peluncurannya mendekati 4 juta dolar. Rudal tersebut biasanya digunakan hanya ketika metode lain gagal.

 

Sementara itu, militer kawasan kini belajar dari Ukraina, yang sejak dimulainya perang besar dengan Rusia pada tahun 2022 telah menjadi salah satu contoh paling maju dalam menghadapi drone secara efektif.

 

Anatoli Khrapchynskyi, eksekutif sebuah perusahaan pertahanan Ukraina, mengatakan:

 

“Salah satu alat yang benar-benar hemat biaya untuk melawan drone adalah penggunaan drone pencegat khusus.”

 

Amerika Serikat menyatakan telah mengirim 10.000 drone pencegat yang dikembangkan di Ukraina ke Timur Tengah. Ukraina juga mengirim tim penasihat ke kawasan tersebut untuk membagikan pengalamannya dalam menghadapi ancaman ini.

 

Khrapchynskyi menegaskan:

 

“Jet tempur bisa menjadi bagian dari sistem pertahanan, tetapi tidak bisa menjadi pilar utamanya. Jika musuh menembakkan ratusan drone murah dan Anda menembaknya dengan rudal bernilai jutaan dolar, model ini tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang.”

 

Seperti di Ukraina, pasukan Teluk juga menggunakan helikopter, yang memiliki kecepatan dan ketinggian terbang lebih mirip dengan drone, sehingga dapat menargetkannya dengan rudal jarak pendek atau meriam. Namun jumlah helikopter lebih sedikit dibandingkan jet tempur dan setiap unit hanya mampu melindungi area yang terbatas.

 

Meriam antipesawat—yang digunakan secara luas di Ukraina untuk melawan drone—masih relatif jarang tersedia di kawasan Teluk. (MF)