Intervensi Militer Saudi di Suriah
Menteri luar negeri Arab Saudi menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan pasukan darat ke Suriah dengan koordinasi AS.
Adel Al-Jubeir hari Selasa (21/2) menyatakan Arab Saudi dan negara-negara Arab lain di kawasan Teluk Persia telah siap untuk mengirimkan pasukan darat ke Suriah. Menurut Al-Jubeir, pasukannya akan bekerja sama dengan militer AS di Suriah. "Kami berkoordinasi dengan AS mengenai program dan tindakan apa yang akan diambil nanti," ujar Menlu Saudi.
Al-Jubeir kembali mengulang kebijakan interventif sambil menyebutkan posisi penting Riyadh dalam penyelesaian krisis Suriah. Ditegaskannya, Tujuan perundingan damai Jenewa yang akan dimulai Kamis adalah mengorganisir sebuah babak baru transisi politik untuk Suriah tanpa Bashar Assad.
Statemen ini dikemukakan Al-Jubeir di saat rezim Al Saud tidak meraih satu pun targetnya di kawasan. Padahal perang yang disulut Riyadh dan didukung Barat terutama AS telah mengorbankan begitu besar nyawa warga sipil Yaman dan menghancurkan negara tetangganya itu.
Statemen terbaru Al-Jubeir menunjukkan wajah rezim Al Saud dan rezim-rezim Arab yang mendukungnya sebagai eksekutor skenario AS di kawasan. Pengumuman kesiapan menlu Saudi untuk mengirimkan pasukan darat ke Suriah tidak lain dari upaya Riyadh untuk menarik perhatian presiden baru AS, Donald Trump yang menyerukan implementasi "kawasan damai" versi Washington dengan dana dari para penguasa Arab di kawasan Teluk Persia, terutama Arab Saudi. Bersamaan dengan itu, AS juga mengemukakan masalah pengiriman pasukan darat ke Suriah dan dukungannya terhadap Riyadh dan negara-negara Arab sekutunya.
Tujuan militer Saudi di kawasan melancarkan intervensi dan pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain kembali menunjukkan esensi militerisme rezim Al Saud. Agresi yang dilancarkan Arab Saudi memperlihatkan sebuah fakta bahwa kekerasan yang dilancarkan rezim Al Saud tidak hanya terbatas aksi represif terhadap warga sipil di dalam negeri saja, tapi juga meluas ke negara lain.
Manuver Riyadh melancarkan intervensi militer langsung di Suriah mempertontonkan sebuah persekongkolan antara Arab dan Barat bersama rezim Zionis untuk menggulingkan pemerintahan sah Suriah yang dipimpin Bashar Assad. Akibat konspirasi dan fitnah negara-negara barat dan sejumlah negara Arab, Suriah dilanda krisis sejak 2011 hingga kini.
Tapi rakyat Suriah yang mendukung pemerintahannya bersama pasukan muqawama berdiri tegar menghadapi konspirasi jahat yang berupaya menghancurkan negara Arab itu. Ketika skenarionya gagal, para pemimpin Arab bersama AS berencana untuk melancarkan serangan militer darat langsung ke Suriah. Tujuannya untuk mengalihkan opini publik dunia dari kekalahan mereka yang bertubi-tubi di Suriah, juga Irak dan Yaman.
Para analis politik menilai manuver baru Riyadh akan mengirimkan pasukan darat ke Suriah justru akan mempercepat keruntuhan rezim yang sedang dilanda krisis ekonomi dan politik dalam negeri yang akut.(PH)