Akar Tensi Arab-Arab di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i39022-akar_tensi_arab_arab_di_teluk_persia
Media Qatar di breaking newsnya menyatakan bahwa pemimpin negara ini, Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Thani Selasa (6/6) menginstruksikan militer siaga penuh untuk menghadapi segala bentuk agresi ke negara ini.
(last modified 2026-03-02T16:34:49+00:00 )
Jun 07, 2017 11:01 Asia/Jakarta
  • Emir Qatar
    Emir Qatar

Media Qatar di breaking newsnya menyatakan bahwa pemimpin negara ini, Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Thani Selasa (6/6) menginstruksikan militer siaga penuh untuk menghadapi segala bentuk agresi ke negara ini.

Emir Qatar juga setuju penggabungan pasukan garda perbatasan dan pantai dengan angkatan bersenjata untuk melawan setiap ancaman militer.

Instruksi Emir Qatar ini mengindikasikan bahwa tensi antara negara ini dengan Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab di tubuh internal Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) telah mencapai titik klimaks. Keputusan Emir Qatar tersebut diambil di saat petinggi Kuwait masih melanjutkan upaya mediasinya antara Arab Saudi dan Qatar.

Pertanyaan penting di sini adalah apa akar tensi Arab-Arab khususnya antara Qatar dan Arab Saudi?

Akar dari tensi ini pertama adalah kembali kepada kebijakan Arab Saudi di P-GCC. Al Saud kembali bersikap kepada anggota P-GCC lainnya seolah-olah mereka berada di bawah perlindungannya dan Riyadh menuntut anggota lainnya untuk mengikuti kebijakan regionalnya tanpa syarat. Padahal setiap anggota adalah negara independen.

Akar kedua adalah friksi khususnya antara Qatar dan tiga negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain di tubuh P-GCC terkait isu-isu regional. Dalam hal ini ada tiga isu yang memicu friksi antara Qatar dan tiga negara Arab lainnya di P-GCC. Pertama isu Ikhwanul Muslimin, kedua mekanisme memandang protes di negara-negara Arab dan ketiga mekanime hubungan dengan Republik Islam Iran.

Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain meyakini bahwa Ikhwanul Muslimin dan Hamas dikategorigan sebagai kelompok teroris, sementara pemerintah Qatar memiliki hubungan dekat dengan Ikhwanul Muslimin dan juga Hamas. Isu ini pada tahun 2014 juga mendorong terciptanya krisis di hubungan Qatar dengan tiga negara tetangganya ini dan ketiganya kemudian menarik dubesnya dari Doha.

Sementara itu, pemerintah Qatar menilai protes anti pemerintah yang meletus di Timur Tengah dan Afrika utara tahun 2011 sebagai peluang untuk memperkokoh posisinya di kawasan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain berada di front anti protes warga tersebut.

Di saat Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain meyakini bahwa Republik Islam Iran adalah pemain yang memicu tensi di kawasan dan mereka menurunkan level hubungannya dengan Tehran, pemerintah Qatar bukan saja menolak ide ini, bahkan meyakini Iran sebuah kekuatan di kawasan yang memiliki pengaruh positif bagi perdamaian dan stabilitas regional dan menuntut perluasan hubungan dengan Tehran.

Dalam hal ini, ketika instruksi Emir Qatar kepada militernya untuk siaga penuh dan setiap kapal baik militer atau sipil yang memasuki perairan barat dan timur negara ini tanpa koordinasi akan ditembak, kapal yang masuk dari arah perbatasan bersama dengan Republik Islam Iran dikecualikan.

Akar ketiga tensi antara Qatar dan tiga negara Arab adalah kebijakan intervensif Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa. Tensi terbaru terjadi hanya sehari setelah kunjungan Presiden AS, Donald Trump ke Riyadh. Trump di lawatannya kali ini memiliki kesamaan penuh dengan kebijakan regional Arab Saudi dan mempertanyakan kebijakan regional Qatar.

Hal ini tentu saja memicu reaksi petinggi Qatar dan reaksi tersebut berujung pada tensi antara Doha dan tiga negara Arab anggota P-GCC lainnya. (MF)