Pemulihan Hubungan Mesir-Tunisia dengan Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i42490-pemulihan_hubungan_mesir_tunisia_dengan_suriah
Gerakan-gerakan politik dan kemasyarakatan di dua negara Afrika, Mesir dan Tunisia mendesak pemulihan hubungan dengan Suriah dan bergabungnya kembali negara itu dengan Liga Arab.
(last modified 2026-01-04T09:54:16+00:00 )
Aug 09, 2017 18:20 Asia/Jakarta

Gerakan-gerakan politik dan kemasyarakatan di dua negara Afrika, Mesir dan Tunisia mendesak pemulihan hubungan dengan Suriah dan bergabungnya kembali negara itu dengan Liga Arab.

Kalangan politisi dan masyarakat Mesir menuntut pembukaan kembali Kedutaan Besar Suriah di Kairo dan Kedubes Mesir di Damaskus. Mereka juga mendukung kembalinya Suriah ke Liga Arab. Di Tunisia, keinginan untuk memulihkan hubungan dengan Suriah sedang berubah menjadi sebuah tuntutan umum.

Hubungan Mesir-Tunisia dengan Suriah dalam beberapa tahun terakhir terkena dampak instabilitas dan kekacauan politik di negara-negara itu, dan secara umum di kawasan Timur Tengah. Tunisia yang merupakan pelopor penggulingan diktator dan mengubahnya dengan pemerintahan rakyat di Dunia Arab sejak tahun 2011, beberapa tahun pasca tumbangnya Zine El Abidine Ben Ali, memutus hubungan dengan Suriah. 

Tunisia bahkan sempat menjadi tuan rumah pertama pertemuan "Friend of Syria". Namun seiring berjalannya waktu dan kemenangan-kemenangan yang diraih pemerintah Suriah, di bawah Bashar Al Assad dalam memerangi terorisme, pemulihan hubungan dengan Damaskus telah berubah menjadi isu publik di Tunisia.

Alasan utama perubahan pandangan terkait Suriah karena ribuan warga Tunisia sejak pecahnya perang di Suriah, bergabung dengan kelompok-kelompok teroris dan bersamaan dengan kekalahan mereka di Suriah, masyarakat Tunisia mencemaskan kembalinya para teroris itu.

Sehubungan dengan hal tersebut, masyarakat Tunisia mengirim delegasinya ke Suriah dan mengumumkan dukungan atas pasukan pemerintah negara itu dalam perang melawan teroris serta mendesak pemulihan hubungan dengan Damaskus. Bashar Assad, Presiden Suriah, 7 Agustus 2017 lalu menerima kunjungan delegasi partai-partai politik Tunisia dan akhir Juli menerima kunjungan delegasi Asosiasi Pekerja Tunisia.

Pernyataan delegasi-delegasi Tunisia yang disampaikan kepada Bashar Assad, relatif sama, yaitu dukungan atas keamanan Suriah dalam menghadapi kelompok-kelompok teroris, menolak segala bentuk intervensi asing dalam urusan internal Suriah, bahkan mendukung bergabungnya kembali Suriah dengan Liga Arab.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan Suriah dengan Mesir. Mesir sejak naiknya Abdel Fattah El Sisi selalu mengecam intervensi asing di Suriah, dan menegaskan bahwa peralihan kekuasaan di Suriah hanya bisa dilakukan oleh rakyat negara itu. Sekarang gerakan-gerakan politik dan organisasi-organisasi kemasyarakatan Mesir, sejalan dengan pemerintahan El Sisi dalam masalah ini dan menuntut pemulihan hubungan dengan Damaskus.

Masyarakat Mesir dengan memperhatikan realitas-realitas politik Suriah, meyakini bahwa pemerintah Damaskus sedang berperang melawan terorisme, sementara kubu penentang Damaskus, terutama Amerika Serikat dan Arab Saudi memberikan dukungan total atas kelompok-kelompok teroris. Masalah penting lainnya adalah, Mesir sendiri saat ini sedang menghadapi ancaman terorisme terutama di Provinsi Sinai Utara dan Selatan.

Kesimpulannya, di negara-negara seperti Mesir dan Tunisia, kesadaran publik terkait terorisme, sudah tumbuh sedemikian rupa dan terbangun sebuah keyakinan bahwa Suriah adalah korban kejahatan kelompok-kelompok teroris dan para pendukungnya.

Dari sini, pemulihan hubungan dengan Suriah selain bisa membuktikan realitas bahwa Suriah memang sedang memerangi terorisme, di saat yang sama juga dapat mengurangi ancaman teror terhadap Tunisia dan Mesir. Kembalinya Suriah ke Liga Arab adalah salah satu hasil yang diperoleh negara itu dari perang melawan terorisme. (HS)