Ali al-Houthi: Cheikh Ahmed Lanjutkan Kebohongan tentang Yaman
-
Ketua Komite Tinggi Revolusi Yaman, Mohammed Ali al-Houthi.
Ketua Komite Tinggi Revolusi Yaman mengatakan, setelah berakhirnya misi gagalnya, mantan Utusan Khusus PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheikh Ahmed melanjutkan kebohongannya tentang negara ini.
"Ould Cheikh Ahmed masih melanjutkan kebohongannya dan berupaya menunjukkan dirinya sebagai orang yang netral. Ia bahkan tidak mengecam satu pun kasus dari ribuan kasus serangan koalisi Arab Saudi ke Yaman," kata Mohammed Ali al-Houthi dalam sebuah acara militer seperti dilansir Mehr News mengutip Ofogh News, Senin (5/3/2018).
Ia menambahkan, rakyat Yaman menolak permintaan Ould Cheikh Ahmed untuk menyerahkan Provinsi al-Hudaydah atau Sanaa atau setiap daerah yang dikontrol oleh militer dan komite-komite rakyat Yaman, sebab, mereka mengetahui bahwa daerah-daerah itu akan diserahkan kepada para teroris yang didukung oleh Amerika Serikat.
Di bagian lain pernyataannya, Ali al-Houthi menjelaskan, mantan utusan khusus PBB itu mendukung pasukan agresor hingga di hari terakhir misinya dan ia tidak mampu mengungkapkan fakta yang terjadi di Yaman.
"Dia adalah orang yang gagal," pungkasnya.
Ould Cheikh Ahmed pada tanggal 22 Januari 2018 telah memberitahukan kepada Sekjen PBB Antonio Guterres bahwa setelah masa tugasnya berakhir, ia tidak akan memperpanjang misinya di Yaman. Tahap teakhir perpanjangan misi Ould Cheikh Ahmed terjadi pada bulan Oktober 2017 dan berakhir pada bulan Februari 2018.
Guterres telah menunjuk Direktur Pusat Dialog Kemanusiaan di Jenewa, Martin Griffiths sebagai pengganti Ismail Ould Cheikh Ahmed, Utusan Khusus PBB untuk Urusan Yaman.
PBB menunjuk Ould Cheikh Ahmed, seorang diplomat Mauritania sebagai Utusan Khusus untuk Yaman pada tanggal 25 April 2015 menggantikan Gamal Benemar, yang mengundurkan diri menyusul kegagalan upayanya untuk mengakhiri konflik di Yaman. Dia ditunjuk sebulan setelah Arab Saudi dan sekutunya melancarkan agresi militer ke Yaman pada bulan Maret 2015 (RA)