Analisa atas Pidato Sekjen Hizbullah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i57518-analisa_atas_pidato_sekjen_hizbullah
Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah, 25 Mei 2018 dalam pidatonya memperingati hari pembebasan Lebanon Selatan dari pendudukan rezim Zionis Israel, ke-18 meggarisbawahi situasi dalam negeri dan kawasan, faktor-faktor pemicu, metode serta dampak meningkatnya serangan ekonomi dan politik terhadap Hizbullah.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
May 26, 2018 16:00 Asia/Jakarta
  • Sayid Hassan Nasrullah
    Sayid Hassan Nasrullah

Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah, 25 Mei 2018 dalam pidatonya memperingati hari pembebasan Lebanon Selatan dari pendudukan rezim Zionis Israel, ke-18 meggarisbawahi situasi dalam negeri dan kawasan, faktor-faktor pemicu, metode serta dampak meningkatnya serangan ekonomi dan politik terhadap Hizbullah.

Pidato Sayid Hassan Nasrullah itu perlu dicermati dalam lingkup mikro dan makro. Dalam lingkup mikro, Sekjen Hizbullah menganalisa situasi dalam negeri Lebanon secara khusus. Sebagaimana diketahui, tanggal 6 Mei 2018, Lebanon menggelar pemilu parlemen yang dimenangkan oleh koalisi Hizbullah.

Dalam pandangan Nasrullah, isu terpenting dalam negeri Lebanon sekarang adalah pembentukan kabinet pemerintahan negara ini. Semakin cepat kabinet Lebanon dibentuk, semakin cepat selesai juga proses negosiasi pembagian kekuasaan dan dimulainya masa kerja kabinet yang disebut Sekjen Hizbullah sebagai "penyembuh masalah-masalah negara".

Menurut Sayid Hassan Nasrullah, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Lebanon saat ini adalah korupsi, sikap boros dan menghamburkan sumber daya. Pemerintah Lebanon, katanya, harus bisa menemukan mekanisme yang tepat untuk melawan dan mencegah tantangan-tantangan tersebut.

Masalah ini dinilai sangat urgen sehingga Sekjen Hizbullah memperingatkan jika situasi ini berlanjut, maka Lebanon akan terseret ke arah keruntuhan. 

Sementara dalam lingkup makro, inti pidato Sekjen Hizbullah terletak pada metode dan dampak serangan ekonomi serta politik Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya di Asia Barat, terhadap Hizbullah. Terkait faktor pemicu serangan ini, Nasrullah menyinggung dua hal, kemenangan di Suriah dan hubungan dekat Hizbullah dengan Iran.

Kekalahan terorisme di Suriah berarti bertambah kuatnya posisi poros perlawanan di kawasan yang dipimpin Iran. Oleh karena itu, target serangan ekonomi dan politik terhadap Hizbullah adalah menghentikan fenomena menguatnya poros perlawanan di kawasan.

Hizbullah Lebanon

Dalam pandangan Sayid Hassan Nasrullah, metode serangan musuh terhadap Hizbullah dilakukan dengan cara memutus bantuan dana dan melemparkan berbagai tuduhan. Pemerintah Amerika dalam beberapa bulan terakhir, terutama bulan Mei 2018, memasukkan Hizbullah dan beberapa tokohnya ke dalam daftar sanksi, termasuk Sayid Hassan Nasrullah.

Di sisi lain, Gedung Putih secara sepihak keluar dari kesepakatan nuklir Iran, JCPOA dan menjatuhkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran. Dalam pandangan Sekjen Hizbullah, salah satu target tekanan Amerika ini adalah menghentikan bantuan Iran atas kubu perlawanan.

Poin penting yang disampaikan Sayid Hassan Nasrullah seputar masalah ini adalah, orang-orang yang dimasukkan dalam daftar sanksi Amerika adalah warga Lebanon dan pemerintah Beirut bertanggung jawab untuk melindungi warganya sendiri.

Cara lain yang digunakan musuh untuk menyerang Hizbullah adalah melemparkan berbagai tuduhan, salah satunya adalah tuduhan yang dilakukan pemerintah Maroko terhadap Hizbullah dan Iran terkait dukungan terhadap Front Polisario.

Musuh-musuh Hizbullah dan poros perlawanan, dengan melemparkan berbagai tuduhan itu, berusaha merusak citra Hizbullah di tingkat global. Namun suara mayoritas rakyat Lebanon yang mendukung Hizbullah dalam pemilu parlemen terbaru, menjadi bukti kegagalan strategi musuh tersebut.

Di bagian lain pidatonya, Sekjen Hizbullah memperingatkan dampak permusuhan terhadap Hizbullah. Sayid Hassan Nasarullah menyebutnya sebagai "kesalahan dalam memahami perlawanan" dan menegaskan, "kami tidak suka berperang, tapi tidak takut perang".

Ia seakan memperingatkan musuh-musuh Hizbullah bahwa jika mereka sedang mempersiapkan perang terhadap Hizbullah, kelompok ini memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke dalam perang untuk membela diri. (HS)