Fase Baru Perang Yaman, Serangan ke Kilang Minyak Riyadh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i60027-fase_baru_perang_yaman_serangan_ke_kilang_minyak_riyadh
Pesawat tak berawak militer dankomite rakyat Yaman menyerang kilang minyak Aramco di Riyad, ibu kota Arab Saudi, di mana sumber-sumber Saudi sendiri mengakuinya.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Jul 19, 2018 19:34 Asia/Jakarta
  • Drone Qasef milik Yaman
    Drone Qasef milik Yaman

Pesawat tak berawak militer dankomite rakyat Yaman menyerang kilang minyak Aramco di Riyad, ibu kota Arab Saudi, di mana sumber-sumber Saudi sendiri mengakuinya.

Mimpi Arab Saudi di Yaman semakin mengarah pada kekalahan. Kisah perang melawan Yaman menjadi mimpi buruk besar bagi Al Saud. Tahun-tahun pertama perang ini adalah Al Saud dan sekutunya yang murni hanya menyerang, tetapi sekarang lembaran itu telah berubah.

Suatu hari, pangkalan militer, hari lainnya bandara, di waktu yang lain sekitar istana dan suatu hari, kilang minyak Riyadh menjadi target serangan rudal militer dan komite rakyat Yaman. Situasi Arab Saudi di Yaman seperti pepatah yang mengatakan "menepuk air di dulang terpercik muka sendiri".

Rudal Yaman

Al Saud memulai perang, tapi tidak dapat mengakhirinya. Karena tujuannya adalah untuk mengembalikan apa yang disebut "legitimasi". Maksudnya adalah mengembalikan Abdrabbuh Mansur Hadi, mantan Presiden Yaman yang telah mengundurkan diri dan melarikan diri ke tampuk kekuasaan. Dengan begitu diharapkan dapat meminggirkan Ansarullah di Yaman.

Tapi pengkhianatan Mansur Hadi telah terbukti bagi rakyat Yaman dan kini menurut para analis dan mereka yang tahu urusan Yaman, Ansarullah memiliki kekuatan politik paling kompak di negara ini yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Pekan depan berarti serangan Arab Saudi ke Yaman telah memasuki pekan ke-40. Serangan rudal kemarin ke sebuah kilang minyak di Riyadh merupakan perkembangan penting dalam perang ini. Karena bila Aramco diserang berkali-kali,  nadi ekonomi Arab Saudi akan berhenti.

Serangan terhadap kilang minyak di Riyadh begitu pentingnya, sehingga jurubicara militer Yaman militer Brigjen Sharaf Ghalib Luqman menyebutnya sebagai fase baru langkah-langkah pertahanan Yaman terhadap serangan Saudi.

Serangan itu juga menunjukkan bahwa Saudi tidak akan lagi menjadi satu-satunya penyerang dalam perang dan harus menunggu serangan rudal Yaman juga. Pada saat yang sama, serangan ini membuktikan bahwa kemampuan pertahanan Saudi tidak menahan serangan rudal-rudal Yaman.

Dengan kata lain, serangan rudal ini membuktikan kerentanan pertahanan Arab Saudi. Padahal, Arab Saudi merupakan negara dengan anggaran militer terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Dalam nada yang sama, surat kabar Israel Haaretz menulis, meskipun keterlibatan luas Uni Emirat Arab dengan Arab Saudi dalam perang melawan Yaman, namun pasukan militer Saudi menghadapi ketidakefektifan internal yang sistematis.

Berlalunya waktu dalam perang ini tampaknya tidak menguntungkan Arab Saudi. Karena sejak perang selama 40 bulan terakhir telah menunjukkan bahwa militer dan komite rakyat Yaman dari waktu ke waktu telah meningkatkan kemampuan defensif mereka melawan Saudi yang memanfaatkan pasukan bayarannya, dengan memasukkan pukulan yang semakin merugikan mereka. 

Image Caption
Pasukan Arab Saudi

Sekaitan dengan hal ini, Yoel Guzansky, peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional, Universitas Tel Aviv mengatakan, Arab Saudi sejak tahun 1991 tidak pernah terlibat dalam perang, sementara para pejuang Houthi punya pengalaman berperang selama beberapa dekade dalam bentuk perang gerilya, sehingga mengalahkan mereka menjadi sangat sulit.