Realitas Perang 33 Hari Menurut Sekjen Hizbullah
-
Sayid Hassan Nasrullah
Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah, Selasa (14/8) malam dalam peringatan 12 tahun Perang 33 Hari tahun 2006, mengungkap sebagian realitas perang tersebut yang selama ini tidak pernah dipublikasikan.
Beberapa poin terpenting yang disampaikan Sekjen Hizbullah terkait Perang 33 Hari berhubungan dengan tujuan dilancarkannya perang tahun 2006 terhadap Lebanon itu.
Sayid Hassan Nasrullah mengatakan, tujuan utama perang ini adalah menaklukkan gerakan perlawanan, baik dari sisi militer maupun dengan memaksanya meletakkan senjata.
Realitasnya, Amerika Serikat saat itu berusaha menjalankan proyek Timur Tengah Baru dan poros utama proyek ini adalah menyingkirkan Hizbullah dari skema kekuatan di kawasan Timur Tengah. Proyek ini dirancang oleh mantan presiden Amerika, George W. Bush dan menteri luar negerinya kala itu, Condoleeza Rice.
Namun dalam praktiknya, yang terjadi adalah kekalahan telak rezim Zionis Israel dalam Perang 33 Hari sehingga perang itu menjadi serangan terakhir Israel terhadap Hizbullah Lebanon karena sampai detik ini belum terjadi lagi dan sejak saat itu, Israel tampak ketakutan untuk memulai perang baru terhadap Hizbullah.
Dalam pandangan Sayid Hassan Nasrullah, kegigihan perlawanan Hizbullah dalam melawan serangan Israel ke Lebanon menjadi faktor utama kekalahan Israel dalam perang tersebut.
Sekjen Hizbullah dalam pidatonya juga menyinggung dampak-dampak yang ditimbulkan Perang 33 Hari. Salah satu prestasi terpenting dari perang ini menurut Sayid Hassan Nasrullah adalah, untuk pertama kalinya dalam sejarah, di Israel, program pertahanan masuk agenda kerja Tel Aviv.
Sampai pecahnya perang tahun 2006, Israel selalu menjadi pihak yang pertama memulai perang dan memainkan peran sebagai agresor, namun kekuatan pencegahan Hizbullah dalam Perang 33 Hari telah memaksa Israel untuk lebih memperhatikan program pertahanan.
Capaian ketiga Perang 33 Hari terkait dengan perkembangan terkini di Timur Tengah termasuk perang Suriah, Transaksi Abad dan perang di Yaman.
Sayid Hassan Nasrullah menyebut perang Suriah sebagai kelanjutan dari Perang Tamouz tahun 2006 dan ia percaya, jika Lebanon kalah dalam perang tersebut, maka penggulingan pemerintah Suriah akan menjadi target berikutnya.
Transformasi Suriah dari tahun 2011 hingga sekarang menunjukkan bahwa meskipun Israel kalah dalam Perang 33 Hari, sehingga proyek penggulingan pemerintah Suriah pun gagal, namun proyek tersebut sedikitpun tidak pernah dilupakan dan ditinggalkan begitu saja oleh para aktornya.
Krisis Suriah yang pecah sejak tahun 2011 hingga sekarang menjadi justifikasi pendapat ini, sebagaimana juga ditegaskan Sekjen Hizbullah dalam pidatonya malam lalu.
Sayid Hassan Nasrullah menyebut Israel sebagai sekutu loyal kelompok-kelompok teroris bersenjata dalam perang Suriah. Ia menegaskan, Israel memberikan seluruh bantuan dan logistik yang diperlukan kelompok-kelompok teroris bersenjata di selatan Suriah.
Menyinggung proyek Amerika yang dikenal dengan Transaksi Abad, Nasrullah menuturkan, perlawanan rakyat Gaza membuktikan bahwa proyek ini tidak akan pernah bisa direalisasikan dan di Palestina, tidak ada seorang pejabatpun yang berani menandatangani transaksi terkait penetapan Al Quds sebagai ibukota Israel.
Sayid Hassan Nasrullah meyakini bahwa di antara Perang 33 Hari, perang Suriah dan perang Yaman terdapat hubungan langsung dan ia menyampaikan pesan ini kepada rakyat Yaman bahwa sebagaimana juga darah anak-anak Yaman berhasil meraih kemenangan, darah anak-anak dan putra-putra Yaman juga akan meraih kemenangan.
Sekjen Hizbullah Lebanon menganggap Arab Saudi selalu berjalan beriringan dengan Israel di kawasan dan ia percaya, alasan mundurnya rezim Al Saud dari dukungannya atas proyek Transaksi Abad, karena rezim itu menyadari bahwa dukungan atas proyek semacam ini berarti "bunuh diri". (HS)