Transformasi Timur Tengah, 5 Mei 2019
-
PBB
Transformasi Timur Tengah pekan lalu diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya pernyataan pejabat PBB tentang kelompok teroris sebagai ancaman terbesar Suriah.
Isu lainnya mengenai peringatan keras yang disampaikan Hizbullah terhadap rezim Zionis, jika memasuki Lebanon, pasukan Zionis akan dihancurkan, dan roket muqawama berhasil memaksa menteri Zionis Israel bersembunyi di Bunker. Masalah lain terkait statemen Jared Kushner yang mengungkap poin utama kesepakatan Abad, dan pemerintah Suriah memperingatkan Turki soal Idlib. Selain itu, laporan mengungkapkan Israel telah menangkap 50 ribu anak Palestina sejak tahun 1967.
Pejabat PBB: Kelompok Teroris Ancaman Terbesar bagi Suriah
Utusan khusus sekjen PBB untuk Suriah, Geir Pedersen Selasa malam (30/4) menyebut kelompok teroris masih menjadi ancaman terpenting bagi Damaskus dan mengatakan, Suriah masih terancam berbagai krisis dan ketengangan.
Geir Pedersen dalam sidang Dewan Keamanan PBB terkait Suriah menyebut kondisi rakyat negara ini sangat parah, dan menambahkan, sangat dibutuhkan langkah dan kinerja nyata untuk menyelesaikan krisis Suriah.
Pedersen juga menyinggung serangan kelompok teroris termasuk Daesh dan Tahrir al Sham kterhadapa militer dan warga sipil Suriah.
"Kondisi kemanusiaan di Suriah sangat parah," ungkap Pedersen.
Utusan khusus sekjen PBB untuk Suriah ini juga kembali menekankan kedaulatan, independensi dan integritas wilayah Suriah.
Krisis Suriah meletus sejak tahun 2011 seiring dengan serbuan besar-besaran kelompok teroris dukungan Arab Saudi, Amerika dan sekutunya untuk mengubah konstelasi kawasan demi keuntungan rezim Zionis Israel.
Krisis di Suriah sampai saat ini telah mengakibatkan puluhan ribu warga sipil tewas dan jutaan lainnya mengungsi.
Hizbullah: Jika Masuki Lebanon, Pasukan Zionis akan Dihancurkan
Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah mengatakan pada hari Kamis (2/5/2019) bahwa pasukan rezim Zionis yang memasuki Lebanon akan dihancurkan di depan mata dunia.
Dia menyampaikan hal itu dalam pidatonya pada acara peringatan tiga tahun kesyahidan komandan senior militer Hizbullah, Mustafa Badreddine.
Mengenai isu serangan terhadap Lebanon, Nasrallah menandaskan ancaman tersebut datang dalam konteks kampanye yang bertujuan untuk mengintimidasi Lebanon dan rakyatnya.
"Ancaman semacam itu adalah untuk melancarkan perang psikologis di tingkat politik, diplomatik dan media dalam upaya untuk menekan pemerintah Lebanon agar memberikan konsesi terkait wilayah perbatasan maritim dan daerah Shebaa," ungkapnya.
Namun, tegas Nasrallah, Lebanon tidak mengizinkan pihak mana pun untuk mengintimidasi Anda. Engkau tidak lemah. Lebanon memiliki kekuatan nyata.
"Kelompok perlawanan memiliki kekuatan untuk masuk ke al-Khalil di tanah pendudukan," tegasnya.
Di bagian pidatonya, Nasrallah mengatakan keputusan Hizbullah untuk terlibat dalam perang Suriah adalah sebuah langkah yang tepat.
"Konspirasi Amerika-Saudi sedang dijalankan di Suriah dan hasil dari konspirasi itu adalah bahwa Daesh telah menguasai 45 persen dari wilayah Suriah," ujarnya.
Daesh, lanjut Nasrallah, dibentuk dengan pemikiran Wahabi Arab Saudi dan mendapat dukungan dana dari mereka.
Roket Muqawama Paksa Menteri Zionis Israel Bersembunyi di Bunker
Menteri dalam negeri Zionis Israel melarikan diri ke tempat perlindungan, karena khawatir roket-roket Muqawama Palestina di Jalur Gaza.
Aryeh Deri, Menteri Dalam Negeri Zionis Israel memposting foto ke akun Twitter-nya pada hari Sabtu (04/05) yang menunjukkan dirinya di tempat yang aman di kota Be'er Sheva, setelah alarm tanda bahaya berbunyi.
Rezim Zionis Israel mengumumkan, pada hari Sabtu sekitar 200 roket ditembakkan oleh Hamas dan Jihad Islam ke daerah-daerah pemukiman zionis.
Rezim Zionis Israel sejak hari Jumat (03/05) telah memulai serangan udara ke Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk seorang anak, dengan ibunya, dan puluhan lainnya terluka.
Otoritas Palestina hari Sabtu malam (04/05) telah menyerukan PBB untuk menghentikan serangan rezim Zionis di Jalur Gaza sesegera mungkin.
ja
Jared Kushner Ungkap Poin Utama Kesepakatan Abad
Penasihat senior Gedung Putih, Jared Kushner mengatakan AS akan membahas masalah aneksasi pemukiman Zionis di Tepi Barat setelah terbentuknya kabinet baru Netanyahu.
Kushner, seperti dikutip kantor berita Maan Palestina, Jumat (3/5/2019) mengaku bahwa Quds sebagai ibukota Israel dan juga aneksasi pemukiman di Tepi Barat akan menjadi bagian dari setiap kesepakatan final berdasarkan Kesepakatan Abad.
Dia menuturkan bahwa pihaknya sedang memperbarui dokumen Kesepakatan Abad sebelum diserahkan kepada Presiden Donald Trump.
AS diperkirakan akan segera membuat pengumuman resmi tentang Kesepakatan Abad.
Berdasarkan Kesepakatan Abad, kota Quds akan diserahkan kepada rezim Zionis dan pengungsi Palestina tidak memiliki hak untuk kembali ke tanah kelahirannya. Selain itu, rakyat Palestina hanya bisa memiliki sebagian kecil tanah yang masih tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Sebelum ini, pemerintah AS pada Mei 2018 mengumumkan Quds sebagai ibu kota rezim Zionis dan kemudian memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke kota tersebut.
Langkah ini bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi-resolusi PBB.
Pemerintah Suriah Memperingatkan Turki soal Idlib
Deputi Menteri Luar Negeri Suriah, Faisal Mekdad mengatakan Turki perlu mengetahui bahwa keamanan tidak akan tercipta dengan mendukung teroris dan menduduki wilayah Suriah.
Dalam wawancara dengan televisi al-Mayadeen, Lebanon, Kamis (2/5/2019), Mekdad menuturkan Ankara perlu mengetahui bahwa Damaskus tidak akan menerima kehadiran kelompok bersenjata mana pun di Idlib, barat laut Suriah.
Damaskus, tegasnya, tidak akan membiarkan Ankara menguasai bahkan satu inci pun dari wilayah Suriah.
"Pemerintah telah memutuskan untuk membebaskan wilayah Suriah jengkal demi jengkal tanpa terkecuali Idlib," tegas Mekdad.
Sebelum ini, Penasihat Presiden Suriah, Bouthaina Shaaban mengatakan pembebasan Idli adalah sesuatu yang pasti dan presiden Turki tidak dapat membangun sebuah zona aman di utara Suriah.
"Para teroris tidak bisa dibiarkan begitu saja di Idlib, tetapi mereka harus dilawan," tegasnya.
Sejak Tahun 1967, Israel Tangkap 50 ribu Anak Palestina
Pusat riset dan dokumentasi urusan tawanan Palestina mengumumkan, rezim Zionis Israel sejak tahun 1967 hingga kini telah menangkap lebih dari 50 ribu anak-anak Palestina.
Menurut laporan Pusat Informasi Palestina Ahad (28/4), Abdul Nasser Farwanah juga menjelaskan bahwa sejak tahun 2000 lebih dari 16 ribu anak Palestina ditangkap. Ia mengungkapkan, penangkapan anak-anak Palestina selama beberapa tahun terakhir dilakukan dengan sistematis dan terus meningkat.
"Rata-rata setiap tahun, khususnya antara tahun 2011 hingga 2018 penangkapan anak Palestina mencapai 1250 kasus," paparnya.
Saat ini sekitar 400 anak Palestina mendekam di penjara-penjara rezim Zionis Israel dan mayoritas dari mereka mengalami penyiksaan dari para sipir penjara.(PH)