Dibalik Pengunduran Diri Pemerintah Kuwait
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i75631-dibalik_pengunduran_diri_pemerintah_kuwait
Perdana Menteri Kuwait Jaber Al-Mubarak Al-Hamad Al-Sabah Kamis (14/11) menyerahkan pengunduran diri pemerintah yang dipimpinnya kepada Emir negara ini, Sheikh Sabah Al Ahmad Al Jaber Al Sabah. Emir pun menyetujui pengunduran tersebut.
(last modified 2026-03-02T04:45:08+00:00 )
Nov 15, 2019 14:07 Asia/Jakarta
  • Mantan PM Kuwait Jaber al-Mubarak al-Hamad al-Sabah
    Mantan PM Kuwait Jaber al-Mubarak al-Hamad al-Sabah

Perdana Menteri Kuwait Jaber Al-Mubarak Al-Hamad Al-Sabah Kamis (14/11) menyerahkan pengunduran diri pemerintah yang dipimpinnya kepada Emir negara ini, Sheikh Sabah Al Ahmad Al Jaber Al Sabah. Emir pun menyetujui pengunduran tersebut.

Seruan Saleh al-Mulla, anggota parlemen Kuwait melalui jejaring sosial menjadi peluang aksi demo anti pemerintah di negara ini. Aksi demo di Kuwait digelar dengan ijin pemerintah dan dengan slogan “Cukup”. Ada banyak faktor mengenai sebab pengunduran diri pemerintah Kuwait.

Faktor paling utama adalah terbentuknya aksi demo anti pemerintah. Setelah Irak dan Suriah, Kuwait pekan lalu dilanda aksi demo rakyat. Rakyat Kuwait memprotes maraknya praktek korupsi di lembaga pemerintah dan lemahnya sektor properti, kesehatan dan pendidikan. Demonstran juga menuntut pencopotan sejumlah pejabat pemerintah dan reformasi. Akar dari demo di Kuwait serupa dengan di Irak dan Lebanon.

Parlemen Kuwait

Etnis Bidoon, warga Kuwait dan keaslian mereka sebagai orang Kuwait belum terbukti. Dengan demikian mereka tidak diberi kewarganegaraan Kuwait dan mereka merupakan bagian utama demonstran. Akar dari demo ini adalah aksi bunuh diri dua etnis Bidoon akibat kondisi buruk kehidupan mereka.

Mohammad al-Humaidi, aktivis HAM Kuwait menyatakan, “Aksi demo warga Kuwait ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada parlemen dan menentang korupsi. Tidak ada arus politik dibalik aksi ini, dan hanya warga yang menghadapi kesulitan properti, kesehatan, pengobatan dan pendidikan yang melakukan demo. Dan mereka tidak puas dengan penjualan perusahaan pemerintah dan sejumlah orang yang menguasai baitul mal (harta negara).

Kuwait termasuk negara penghasil minyak terbesar. Para demonstran meyakini bahwa pendapatan minyak dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pejabat dan orang dekatnya ketimbang untuk pelayanan publik, dan memulihkan kondisi ekonomi rakyat.

Mengingat Jaber al-Mubarak al-Hamad al-Sabah menjabat posisi perdana menteri sejak delapan tahun lalu hingga kini, oleh karena itu ia juga bertanggung jawab atas ketidakpuasan warga. Dengan demikian ia memilih mengundurkan diri sebagai jalan untuk menghentikan aksi protes warga.

Faktor kedua pembubaran pemerintah Kuwait adalah langkah parlemen memanggil dua menteri di kabinet dan pengunduran diri salah satu menteri. Parlemen Kuwait hari Rabu memanggil Menteri Pelayanan Publik dan wakil perdana menteri, Jenan Bushehri serta Menteri Dalam Negeri Khaled al-Jarrah dan memberi mosi tidak percaya kepada keduanya.

Demo warga Kuwait

Sementara itu, Menteri Keuangan Kuwait, Nayef al-Hajraf Jumat lalu (8 November) juga mengundurkan. Sejatinya perdana menteri Kuwait sampai pada kesimpulan bahwa sejumlah menterinya berencana melepas tanggung jawab mereka dihadapan para demonstran. Sementara di sisi lain, perlemen ingin melemahkan pemerintah dengan memberi mosi tidak percaya sejumlah menteri.

Oleh karena itu, Jaber al-Mubarak al-Hamad al-Sabah memilih mengundurkan diri dari posisinya sebagai respon atas langkah parlemen dan pengunduran diri menterinya.

Secara keseluruhan, protes rakyat khususnya protes etnis Bidoon bukan hal baru di Kuwait dan perubahan pemerintahan dapat menghentikan aksi protes di negara ini. (MF)