Ancaman Ekonomi yang Terus Membayangi Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i81257-ancaman_ekonomi_yang_terus_membayangi_saudi
Bidang ekonomi yang sebelumnya pernah menjadi salah satu fondasi penting kekuatan Arab Saudi, kini berbalik menjadi ancaman terhadap negara itu.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 12, 2020 14:48 Asia/Jakarta
  • bursa Saudi
    bursa Saudi

Bidang ekonomi yang sebelumnya pernah menjadi salah satu fondasi penting kekuatan Arab Saudi, kini berbalik menjadi ancaman terhadap negara itu.

Saudi merupakan salah satu negara Arab yang paling kapitalis. Selain minyak, wisata religi juga menjadi sumber devisa terbesar bagi negara ini. Sebelum naiknya Salman bin Abdulaziz dan anaknya Mohammed bin Salman, ke tampuk kekuasaan, aset dana investasi Saudi sekitar 700 miliar dolar, dan tidak pernah melakukan pemangkasan anggaran.

Namun selama lima tahun terakhir, aset dana investasi Saudi menyusut hingga tersisa sekitar 400 miliar dolar, dan negara ini terpaksa melakukan pemangkasan anggaran sekitar 50 miliar riyal pada tahun 2020.

Perang terhadap Yaman yang dilancarkan Saudi, menurut estimasi Dana Moneter Internasional, IMF, telah menghabiskan dana 233 miliar dolar sampai hari ini, dan dianggap sebagai salah satu alasan kemerosotan ekonomi Saudi.

Biaya besar pembelian senjata adalah faktor lainnya. Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute, SIPRI, sejak Salman dan putranya berkuasa, impor senjata Saudi meningkat 130 persen.

Perang minyak dengan Rusia, yang bersamaan dengan wabah Virus Corona, membuat harga minyak terperosok dan menjadi faktor berikutnya yang membuat ambruk perekonomian Saudi. Kondisi ini membawa dampak berat bagi pemerintah Al Saud dan rakyat Saudi.

Pemerintah Riyadh terpaksa memangkas usulan anggaran tahun 2020. Menteri Ekonomi dan Perencanaan Saudi, Mohammed Al Jadaan sebelumnya mengumumkan, Riyadh dikarenakan anjloknya harga minyak, terpaksa memangkas anggaran tahunannya sebesar 50 miliar riyal atau setara dengan 13,2 miliar dolar.

Minggu lalu, pemerintah Saudi mengesahkan sebuah keputusan bahwa untuk menghadapi kondisi sulit wabah Corona, dan terus memburuknya krisis ekonomi di negara ini, gaji pegawai sektor swasta akan dipotong sampai 40 persen.

Pada saat yang sama, Saudi juga ditekan Amerika Serikat karena anjloknya harga minyak, dan Washington memutuskan untuk menarik sistem pertahanan rudal Patriot, dan pasukannya dari negara itu. Karena tekanan ini, Riyadh terpaksa harus mengurangi jumlah produksi minyaknya menjadi 1 juta barel perhari mulai bulan Juni 2020 mendatang.

Selain itu Riyadh juga memutuskan untuk meningkatkan pajak pertambahan nilai, dan menghentikan bantuan sosial, karena tekanan ekonomi. Sehubungan dengan hal ini, Mohammed Al Jadaan mengatakan, mulai awal Juli 2020 pajak pertambahan nilai akan dinaikkan antara 5-15 persen, dan bantuan sosial akan dihentikan.

Kondisi ini menggambarkan betapa kebijakan luar negeri keliru, berbiaya besar dan tidak efektif yang dijalankan Saudi, telah mengubah ekonomi yang tadinya sumber kekuatan Riyadh, menjadi sumber ancaman bagi rezim Al Saud.

Jika selama ini korupsi keluarga kerajaan Saudi, diskriminasi, dan ketidakadilan di antara pangeran serta warga biasa, begitu juga diskriminasi akut terhadap warga Syiah, dan kekerasan luas di bidang politik dan hukum, menjadi faktor terpenting yang memicu protes rakyat Saudi terhadap penguasa, maka penghentian jaring pengaman sosial, dan peningkatan pajak, bisa menjadi alasan lain ketidakpuasan rakyat terhadap rezim Al Saud.

Di sisi lain, melemahnya kekuatan Saudi dan redupnya posisi internal dan regional negara ini, justru diharapkan Amerika dan rezim Zionis Israel, bahkan bisa dikatakan kondisi ekonomi Saudi hari ini dan kekalahan beruntunnya di kawasan, adalah buah dari resep sukses yang diberikan Washington kepada Putra Mahkota Saudi. (HS)