Manuver Baru Arab Saudi Melawan Iran
Para pejabat Arab Saudi – seirama dengan kepentingan AS dan rezim Zionis – terus melontarkan klaim palsu dan tuduhan tak berdasar bahwa program nuklir damai Iran merupakan ancaman bagi wilayah Asia Barat.
Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir dalam sebuah wawancara, mengatakan jika program nuklir Iran tidak dihentikan, Arab Saudi memiliki hak untuk melengkapi dirinya dengan senjata nuklir.
Pernyataan itu kemudian ditanggapi oleh Kazem Gharibabadi, Wakil Tetap Iran untuk Organisasi-organisasi internasional di Wina dengan mengatakan, “Jika Riyadh berusaha mengejar program senjata nuklir atau mencari pembenaran untuk menghindari kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mereka harus memberanikan diri dan membayar harganya.”
“Melemparkan tuduhan palsu dan menyebarkan ketakutan adalah dua metode klasik dan umum yang digunakan oleh para penipu. Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan Anda,” pungkas Gharibabadi dalam twit yang ditujukan kepada menlu Arab Saudi.
Pada dasarnya, para pejabat Riyadh menggunakan klaim-klaim tak berdasar tentang program nuklir Tehran sebagai perisai untuk melegitimasi kegiatan nuklir yang tidak konvensional. Saudi sedang membuka jalan untuk mengembangkan senjata nuklir, yang berarti menciptakan ancaman keamanan baru di kawasan.
Mantan Kepala Inspeksi Senjata IAEA, Olli Heinonen mengatakan, “Arab Saudi benar-benar belum menunjukkan transparansi nuklir, misalnya belum menandatangani Protokol Tambahan IAEA. Kami juga belum melihat program energi nuklir Riyadh yang jelas selain menentukan jumlah reaktor nuklir yang akan dibangun. Dalam perencanaannya, Saudi juga belum mengambil langkah apapun untuk membangun reaktor riset.”
Pada Agustus lalu, surat kabar The New York Times dalam laporannya mengatakan bahwa sebuah bangunan yang mirip dengan fasilitas nuklir sedang dibangun di dekat instalasi produksi panel surya di pinggiran Riyadh.
“Para ahli menduga struktur itu bisa jadi salah satu dari serangkaian situs nuklir yang tidak diumumkan (Saudi). Salah satu dari fasilitas ini mungkin adalah fasilitas untuk memproduksi Yellowcake, yang terletak di daerah terpencil al-‘Ala di barat laut Arab Saudi,” tambahnya.
Dua tahun lalu, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman meresmikan tujuh proyek termasuk sebuah proyek pembangunan reaktor nuklir di King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST) di Riyadh. Dalam sebuah wawancara dengan CBS, dia mengklaim bahwa negaranya tidak sedang mencari bom nuklir, tetapi jika Iran melakukannya, dia juga tidak akan ragu.
Program nuklir Arab Saudi berjalan dengan senyap dan Mantan Dirjen IAEA, Yukiya Amano di akhir masa jabatannya mengatakan bahwa Saudi harus menyetujui program inspeksi IAEA dan aturan pengamanan lainnya sebelum memasukkan bahan bakar nuklir ke dalam reaktor yang hampir selesai dibangun di Riyadh.
Lalu, apa yang sedang terjadi sehingga para pejabat Riyadh panik dan tanpa sadar mengulangi klaim-klaim tak berdasar tentang kegiatan nuklir Iran. Jawabannya, mereka dilanda kepanikan dan kekhawatiran tentang masa depan politik rezim Al Saud mengingat hegemoni AS di kawasan dan dunia sedang meredup. (RM)