Motif Klaim dan Pergerakan Anti Iran, Trump-Netanyahu dan MBS
Setelah terbukti kekalahan Donald Trump di pemilu presiden Amerika Serikat, pergerakan dan statemen mulai diluncurkan dan sejumlah media mengkonfirmasi potensi serangan militer AS dan Israel ke Republik Islam Iran.
Selama empat tahun kepemimpinan Donald Trump di Gedung Putih, berbagai isu seperti serangan militer AS, Israel dan Arab Saudi ke Iran kerap digulirkan. Musim panas tahun 2019, setelah sebuah drone Amerika ditembak jatuh Iran dan setelah serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Ain al-Asad di Irak, isu serangan ke Iran kian santer dan lebih serius, namun dalam prakteknya, Donald Trump tidak melakukan kesalahan seperti ini. Kini kembali isu serangan ke Iran diluncurkan dengan dibawakan berbagai indikasi.
Mark Esper, menhan AS mengundurkan diri setelah hasil sementara pemilu presiden negara ini diumumkan. Sejumlah penasihat Esper juga memilih mengundurkan diri. Sementara Menlu Mike Pompeo melakukan lawatan ke Asia barat dan bertemu dengan petinggi Uni Emirat Arab (UEA) , Arab Saudi dan Israel. Amerika juga dilaporkan menempatkan pesawat pembom 52 di Asia Barat. Sepertinya pertemuan segitiga Netanyahu, Mohammad bin Salman dan Mike Pompeo juga digelar di kota Neom, Arab Saudi. Seluruh pergerakan ini mendorong sejumlah media menyebutnya sebagai indikasi untuk menyerang Iran sebelum berakhirnya masa jabatan Donald Trump.
Tak diragukan lagi bahwa Benjamin Netanyahu dan Mohammad bin Salman memiliki pengaruh besar di perilaku tak rasional dan non diplomatik Donald Trump selama empat tahun lalu. Netanyahu dan Bin Salman berulang kali berusaha meyakinkan Trump untuk menyerang Iran, namun presiden Amerika ini lebih memilih untuk mengambil foto kenang-kenangan dengan petinggi Iran di meja perundingan, sebuah tujuan yang tidak terlaksana meski dengan meluncurkan kampanye represi maksimum terhadap Tehran.
Kini bukan saja Donald Trump yang mengalami kekalahan di pemilu presiden Amerika, Netanyahu dan MBS juga termasuk pihak yang kalah di piplres Amerika, para pecundang yang kini khawatir akan kekuasaan mereka baik di Arab Saudi maupun di Israel.
Sepertinya Bin Salman dan Netanyahu untuk menyelamatkan dampak dari hasil pilpres Amerika, berencana meluncurkan upaya terakhirnya untuk membujuk Trump menyerang Iran. Laman Israel Defense hari Kamis (26/11/2020) di laporannya seraya menepis berita mengenai persiapan militer rezim Israel untuk berperang dengan Iran menulis, desas-desus media Israel ini dikarenakan konfrontasi dan perselisihan pemilu Amerika yang dalam waktu dekat akan menimpa Israel.
Meski demikian pergerakan Donald Trump dan sejumlah anggota kabinetnya lebih condong untuk mempengaruhi hasil pemilu di Amerika ketimbang secara nyata menyerang Iran. Di sisi lain, meski Trump melakukan perombakan di tubuh Kemenhan (Pentagon), namun keputusan untuk perang masih memerlukan ijin dari DPR dan Senat. Hal ini juga disinggung oleh laman Israel Defense.
Poin penting lainnya adalah bahwa dalam waktu kurang dari dua bulan hingga akhir masa kepresidenan Trump, pemerintah dan elit AS berusaha mengelola perilaku presiden Amerika ini sehingga tidak menyebabkan kesalahan perhitungan dan tindakan irasional yang mahal.
Setiap agresi ke Iran akan memakan biaya mahal bagi Amerika, sama seperti sebelumnya ketika Republik Islam Iran menembak jatuh drone AS pada Juni 2019 dan serangan rudal ke pangkalan Ain al-Asad yang tercatat sebagai serangan terhadap Amerika pasca perang dunia kedua, Iran telah menunjukkan kekuatan pertahanannya kepada pemerintah Washington. (MF)